Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
135. Bukan Seperti Yang Ku Kenal


Senja membuka matanya dengan perlahan. Yang ada di hadapannya pertama kali ia membuka mata adalah sang suami yang sedang memandanginya. Sama seperti kejadian tadi pagi, Bumi menatapnya sambil kepalanya bertumpu pada satu tangannya. Ia selalu suka memperhatikan wajah cantik istrinya saat sedang tidur.


“Sudah bangun, Sayang? Tidurmu kelihatannya nyenyak sekali,” tanya Bumi sambil merapikan rambut sang istri.


“Iya, badanku terasa lelah sekali seperti habis berolahraga. Makanya aku tidur pulas,” jawab Senja dengan suara manjanya khas baru bangun tidur.


“Kan memang tadi berolahraga sebelum tidur,” ucap Bumi sambil mengelus pipi sang istri.


“Olahraga apa? Dari tadi kita di kamar saja.” Senja belum menangkap maksud sang suami.


“Mau aku ingatkan tadi kita olahraga apa?” tanya Bumi lalu memberikan kecupan singkat di bibir sang istri.


Kita? Olahraga? Senja mengingat-ingat apa yang mereka lakukan sebelum tidur tadi. Ia pun tersenyum canggung saat menyadari apa maksud Bumi.


“Sudah ingat?” tanya Bumi sambil menarik selimut yang menutupi sang istri.


Selimut sudah ditarik, kini Bumi beralih membenamkan wajahnya di sisi leher sang istri sambil sesekali mengecupnya.


Eh, kenapa begini? Apa dia mau lagi?  Senja salah tingkah sendiri dengan kelakuan sang suami.


“Sayang, ini sudah jam berapa sih? Kok aku lapar, ya? Aku rasa aku tidur terlalu lama sampai melupakan makan siang,” Senja beralasan.


Belum terdengar jawaban apa-apa dari mulut sang suami selain decapan yang memenuhi leher dan bahunya.


“Sayang, sepertinya aku lapar deh.”


Masih belum mempedulikan alasan istrinya. Yang ada malah makin turun ke bawah.


“Sayang, apa kau sudah makan siang? Makan, yuk!” ajak Senja lagi.


Masih belum juga menjawab. Sang suami masih asik dengan mainan barunya.


“Sa...yang...” Senja mulai runtuh pertahanannya. Suaranya mulai terputus-putus seperti kekurangan signal kesadaran.


Bumi tersenyum di sela-sela aktivitas yang memabukkannya. Sepertinya kali ini ia akan mendapatkan rejeki lagi.


Kruuukkk....kruuukkk.....


Bunyi dari perut Senja menghentikan aktivitasnya. Ia pun mendongak melihat sang istri yang sedang memandanginya.


“Kau lapar, ya?” tanya Bumi.


“Aku rasa aku sudah mengatakan itu lebih dari tiga kali,” jawab Senja.


“Maaf ya, Sayang. Padahal tadi aku kesini mau membangunkanmu dan mengajakmu makan. Yang ada aku malah lupa dan mau memakanmu,” ucap Bumi lalu mencium bibir istrinya sekilas.


“Ah, tapi tadi kau juga mau. Tadi aku dengar suaramu.....”


Senja dengan cepat menutup mulut Bumi dengan tangannya agar tak melanjutkan perkataannya lagi. Bisa-bisa mereka tidak jadi makan siang kalau terus dilanjutkan.


“Sudah, nanti saja bahas itu lagi! Aku lapar, ayo kita makan!” ajak Senja.


Bumi pun mengangguk dengan mulut yang masih ditutup. Barulah Senja menarik tangannya dan mereka bangun dari tempat tidur. Belum berhenti sampai disitu tingkah Bumi, tanpa aba-aba dia segera menggendong Senja dan membawanya keluar kamar hingga ke ruang makan. Senja tentu malu dilihat oleh para pelayan dengan keadaan seperti itu. Tapi Bumi seolah tak mempedulikannya. Ia tetap saja menggendong istrinya.


“Makan yang banyak ya, Sayang. Kau butuh tenaga extra,” bisik Bumi lalu mengedipkan sebelah matanya.


Senja jadi bergidik ngeri melihat tingkah suaminya itu. Dari tadi ia selalu bertingkah aneh. Senja merasa Bumi bukan seperti pria yang dia kenal sebelumnya. Bukan pria yang dingin, irit bicara dan selalu datar tanpa ekspresi. Tapi pria yang mesum, mesum dan mesum.


“Kenapa melihatku terus? Makan, Sayang,” tegur Bumi yang melihat Senja terdiam menatapnya.


“Oh...iya, iya, ini aku makan.”


Senja pun mulai menyendokkan makanannya masuk ke dalam mulut. Sesekali ia mencuri pandang ke arah sang suami, pasti saat itu juga Bumi sedang menatap ke arahnya.


Ih...dia ini kenapa sih jadi berubah seperti ini? Bukan seperti Bumi yang aku kenal. Perasaan Papa dan Mama tidak gini-gini amat di rumah. Kenapa Bumi jadi mesum sekali? Senja mengumpat suaminya dalam hati.


“Senja, ada makanan di samping bibirmu,” ucap Bumi saat melihat ada sebutir nasi menempel di tepi bibir Senja.


“Ini?” tanya Senja sambil membersihkannya dengan tangan.


“Bukan disitu. Sini aku bersihkan!”


Senja pun mendekatkan wajahnya karena berpikir Bumi akan membersihkan dengan tangan. Tapi ternyata ia salah. Bumi malah membersihkan dengan bibirnya. Ia membersihkan sambil mencuri kesempatan menikmati bibir sang istri.


Senja terbelalak dengan perlakuan suaminya. Apalagi tadi ada pelayan yang kebetulan lewat disana. Wajahnya sudah merah merona karena tak menyangka Bumi senekat itu menciumnya di depan orang lain.


“Padahal kau makan nasi, tapi bibirmu manis rasa cherry,” ucap Bumi tanpa merasa berdosa.


Lalu dengan santai ia melanjutkan makannya.


“Kau ini selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan,” sindir Senja.


“Namanya juga pengusaha. Dimana ada kesempatan, disitu tak boleh kita lewatkan,” jawab Bumi lalu mengedipkan sebelah matanya lagi.


Senja tak menjawab lagi. Ia hanya mendengus kasar melihat tingkah Bumi. Ia pun cepat-cepat menghabiskan makanannya sebelum Bumi bertingkah yang aneh-aneh lagi.


.


Bersambung...