Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
46. Orang Ketiga


Flashback ke masa lalu Adrian.


Adrian membuka matanya yang terasa berat pagi itu. Kepalanya juga terasa sangat pusing. Namun ada sesuatu yang memaksanya untuk membuka mata. Ia mendengar isak tangis seorang wanita di sebelahnya.


“Tari, apa kau menangis, Sayang? Kenapa kamu menangis?” tanya Adrian dengan suara khas orang baru bangun tidur. Pandangannya masih kabur, ia ingin mencapai wanita yang meringkuk di sebelahnya tapi ia urungkan.


Ia terkejut saat melihat wanita di sebelahnya berambut panjang sebahu, sementara rambut Tari panjang hingga terulur ke pinggang.


“Sonya?” gumam Adrian.


“Tidak! Ini tidak mungkin!” sangkal Adrian.


Ia pun kembali mengingat apa yang terjadi tadi malam. Waktu itu Adrian sedang ada pekerjaan di luar kota, dan Sonya yang berperan sebagai sekretaris Adrian ikut menemaninya. Tadi malam mereka bersama-sama hadir pada acara yang dibuat oleh client mereka di kota itu.


Selanjutnya Adrian tak dapat mengingat apa-apa lagi. Terakhir kali yang ia ingat adalah ia mengajak Sonya untuk segera kembali ke hotel tempat mereka menginap karena Adrian merasa kepalanya sangat pusing sekali.


Dan pagi ini, tiba-tiba saja dia telah mendapati sekretarisnya itu seranjang dengannya sedang menangis terisak membelakanginya tanpa mengenakan sehelai benangpun.


“Sonya, kenapa kau disini?!” tanya Adrian dengan emosi.


“Bu-bukan saya yang menginginkan ini, Tuan. Ta-tapi Tuan lah yang memaksa saya tadi malam,” jawab Sonya disertai isak tangisnya.


Adrian menggelengkan kepalanya. Ia tak mungkin memgkhianati Tari, istrinya. Apalagi saat ini mereka sudah memiliki seorang putri yang cantik bernama Nesya. Tidak mungkin ia tega melecehkan wanita lain.


“Tidak mungkin! Aku tidak mungkin melakukan itu! Aku tidak segila itu!” bantah Adrian.


Sonya menyeka airmatanya dengan posisi yang masih membelakangi Adrian. “Meskipun saya orang miskin, saya masih punya harga diri, Tuan. Saya tidak mungkin menjebak, Tuan. Jika memang Tuan tidak mengakuinya saya tidak masalah. Mungkin ini memang sudah nasib orang kecil seperti saya dilecehkan oleh atasan seperti Tuan.”


Adrian tertegun mendengar perkataan Sonya. Ada rasa kasihan menjalar di hatinya kalau memang benar dia telah berbuat yang tidak senonoh pada sekretarisnya itu. Tapi dia juga bingung karena saat ini posisinya adalah suami dari seorang istri yang telah melahirkan putri mereka. Bagaimana kalau Tari sampai tau soal ini? Dia pasti akan sangat kecewa.


Setelah kejadian itu Sonya masih bekerja di kantor Adrian meskipun di antara mereka saling merasa canggung satu sama lain. Sampai tiba saatnya dimana Sonya dinyatakan hamil dan ia meminta pertanggung jawaban jawaban Adrian.


Awalnya Adrian menolak mentah-mentah permintaan Sonya. Mereka bersepakat menunggu sampai anak itu lahir dan melakukan tes DNA baru Adrian bersedia bertanggung jawab kalau memang hasilnya positif.


Dan ternyata yang ditakuti Adrian terjadi. Bayi laki-laki itu positif anak kandung Adrian.


Sejak itulah rumah tangga Adrian dan Tari mulai retak dikarenakan ada orang ketiga di antara mereka.


Senja meneteskan air mata sangat mendengar cerita yang keluar dari mulut pamannya itu. Tak ia sangka, selama belasan tahun mereka sangat pintar menutup aib itu dari keluarga besar mereka. Bahkan Senja sendiri yakin kalau ayahnya juga tidak tau tentang cerita ini.


Senja mendekati Tari lalu memeluk tantenya itu. Benar apa kata Nesya kemarin, selama ini mereka telah banyak menderita, dan kebahagiaan terakhir mereka adalah saat Nesya menikah dengan Bumi. Itu berarti, dia harus mengubur dalam-dalam cintanya pada Bumi yang baru saja mekar bersemi.


“Senja, maafkan Om karena mengecewakanmu,” ucap Adrian dengan tulus.


“Jangan minta maaf pada Senja, Om. Minta maaflah pada Tante Tari dan Kak Nesya. Karena mereka adalah korbannya disini. Senja cuma minta satu hal dari Om, tolong berhenti main tangan lagi, Om. Apapun itu masalahnya. Jangan pernah pukul Tante Tari atau Kak Nesya lagi. Kalau Om masih melakukan itu, Senja tidak akan pernah mau menganggap Om sebagai paman Senja lagi. Om Adrian yang Senja kenal sangat penyayang, bukan pemukul.”


Adrian bagai tertampar rasanya dengan kata-kata Senja. Ia tentu saja menyanggupi permintaan keponakan kesayangannya itu.


***


“Maafkan aku. Maafkan aku telah menyakitimu selama ini,” ucap Adrian dengan lembut.


Adrian menghirup aroma shampoo dari rambut Tari yang wangi itu. Sudah lama sekali rasanya ia tak melakukan ini.


“Sayang, aku minta maaf sudah berkali-kali menyakitimu,” ucap Adrian lagi.


Tari masih belum meresponse. Sepertinya dia masih kesal pada suaminya itu. Tapi tak dipungkiri, Tari sebenarnya senang Adrian memeluknya begitu. Rasanya hangat dan menenangkan.


Melihat Tari hanya diam saja, Adrian tak menyerah begitu saja. Ia menarik lengan Tari agar Tari mau menghadap kepadanya.


Kini Tari sudah berhasil berbalik menghadapnya meskipun ia hanya menunduk tak ingin melihat suaminya itu. Adrian dapat melihat mata sembab sang istri yang baru selesai menangis. Ia merasa sangat bersalah sudah membuat Tari begitu.


Adrian pun menarik dagu Tari agar mau melihatnya. "Maafkan aku, Sayang," ucap Adrian sekali lagi dengan lembut. Lalu tanpa disangka ia malah mengecup bibir istrinya itu dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Kecupan yang begitu Tari rindukan. Tari merasa lemah mendapat perlakuan seperti itu. Ia pun dengan senang membalas kecupan suaminya sehingga membuat Adrian tersenyum di sela kecupannya.


***


“Dimana Mama dan Papaku, Bi?” tanya Nesya pada asisten rumah tangganya saat tiba di rumah.


“Di kamar, Nona,” jawab Bibi.


“Apa mereka hari ini bertengkar lagi?” tanya Nesya.


“I-iya, Nona. Tadi juga ada Nona Senja datang kesini. Sepertinya Nona Senja melihat pertengkaran Tuan dan Nyonya,” jawab Bibi takut-takut.


“Senja tadi kesini?” tanya Nesya.


“Iya, Nona. Nona Senja membawakan sup daging kesini. Trus tidak sengaja mendengar Tuan dan Nyonya bertengkar,” jawab Bibi lagi.


“Ya sudah, kalau begitu saya mau ke atas dulu.”


Nesya dengan tergesa-gesa melangkahkan kakinya menuju ke kamar orang tuanya. Ia sudah membayangkan wajah ibunya yang sedang menangis setelah bertengkar dengan ayahnya. Nesya terburu-buru membuka pintu kamar orang tuanya yang tidak terkunci itu.


Braaakkkkkkk.


Nesya terkejut melihat pemandangan yang ia lihat di atas tempat tidur. Dengan cepat Nesya membalikkan badannya.


“Ma-maaf. Aku tidak sengaja. Lanjutkanlah,” ucap Nesya dengan terbata.


Ia segera menutup rapat-rapat pintu kamar itu dan masuk ke kamarnya sendiri.


“Tumben sekali mereka begituan habis bertengkar. Mana pintu kamar tidak dikunci pula. Ada-ada saja,” gerutu Nesya yang tak sengaja melihat ayahnya berada di atas ibunya.


Bersambung.....


Hai semua 🤗 Terimakasih sudah membaca novel ini sampai sejauh ini, jangan lupa like setelah membaca ya, boleh juga tinggalkan komentar dan vote. Happy reading 💙