
“Senja...Apakah kau mencintaiku?”
Deg.
Dunia di sekitarnya terasa berhenti saat Bumi menanyakan apakah dia mencintai pria itu. Getaran dalam jiwanya terasa menguat dan kian mendorong bibirnya untuk menjawab, ‘ya, aku mencintaimu seperti Senja yang tak pernah berhenti mencintai buminya, begitu pula lah rasa cinta ini padamu.’
Tapi...
Mampukah ia mengucapkan kalimat itu dengan gamblang pada pria di depannya sekarang? Sementara di lain sisi otaknya terus mengingatkannya pada perkataan Nesya, “Bumi adalah kebahagiaan terakhirku dan mamaku.” Tegakah ia mengambil kebahagiaan terakhir mereka?
Bahkan tak hanya itu, masih terekam dengan jelas di kepalanya bagaimana raut kesedihan wajah Tari saat bertengkar dengan Adrian. Dan penyebabnya adalah karena kehadiran orang ketiga. Lalu kali ini...apa tega dia menjadi orang ketiga di antara Bumi dan Nesya?
Wahai semesta, apa maksudmu mempertemukan kami tapi tak memberi jalan agar kami bersatu? Apakah nasib cintaku ini hanya sesingkat senja di kehidupan bumi? Bertemu sekejap hanya sekedar untuk memberi cahaya merah jingga yang penuh harap lalu kembali meredup lagi hilang ditelan gelap malam?
Tidak! Senja tentu tak sanggup menjawab pertanyaan ini. Ini terlalu menyiksa batinnya. Kalau dia berdusta, dia merasa mengkhianati hatinya. Tapi jika dia berkata jujur, akan ada hati lain yang tersakiti. Lalu, dia harus jawab apa?
“Senja...” lirih Bumi saat melihat ada yang membendung di kedua bola mata indah gadisnya.
Tangan yang tadi di pinggang kini merayap menangkup wajah cantik yang selalu memikat pandangannya.
“Senja...kau kenapa? Hm?” tanya Bumi dengan lembut saat Senja sudah menumpahkan airmatanya. Pertanyaan dari Bumi benar-benar menggetarkan jiwanya.
Perlahan kedua ibu jari Bumi perlahan menghapus linangan airmatanya. Bukan hanya airmata yang Bumi harap akan hilang, tapi juga kesedihan yang terpancar dari kedua bola matanya.
“Apa pertanyaanku melukai hatimu?” tanya Bumi yang tak mengerti mengapa Senja tiba-tiba menangis.
Senja meraih kedua tangan Bumi lalu menurunkan tangan itu dari wajahnya. Ia mencoba untuk menenangkan diri dan tak membuat Bumi bingung dengan tangisnya.
“Aku rasa... aku tidak bisa menjawabnya,” jawab Senja dengan suara seraknya. Ia bahkan tak berani menatap kedua mata Bumi lagi.
“Kenapa? Kenapa kau tidak bisa menjawabnya?” tanya Bumi sedikit mendesak.
“Kau akan bertunangan dengan Kak Nesya!” ujar Senja sedikit meninggi.
“Karena itu aku butuh kepastian. Biar aku tidak salah memilih keputusan,” ucap Bumi dengan tegas.
Bumi kembali merangkum wajah Senja dengan kedua tangannya. Ia mendongakkan wajah itu agar tatapan mata mereka saling bertemu.
“Lihat aku, Senja! Lihat mataku dalam-dalam dan jawab pertanyaanku!" pinta Bumi sedikit memaksa.
"Apakah kau mencintaiku? Apa namaku ada di dalam hatimu? Dan apakah kau selalu menginginkanku berada di sampingmu?” tanya Bumi dengan bertubi-tubi.
Bumi, aku mohon jangan siksa aku dengan semua pertanyaanmu. Dari semua pertanyaanmu hanya satu jawabku. Iya. Iya untuk semua pertanyaanmu. Pekik Senja dalam hatinya.
“Aku sudah bilang aku tidak bisa menjawabnya,” ucap Senja lagi.
“Kenapa? Apa karena kau memang mencintaiku? Atau kau...mencintai orang lain?” tanya Bumi yang semakin penasaran dengan jawaban Senja yang masih abu-abu.
“Jawaban apa yang bisa membuatmu berhenti menanyakan tentang perasaanku?” kata Senja balik bertanya.
Entah nanti jawaban Senja iya atau tidak, yang jelas Bumi butuh kepastian. Dan ia mau mendengarnya langsung dari mulut Senja. Ia mau Senja sendiri yang mengatakan padanya.
Senja menarik nafas dalam-dalam. Ini adalah jawaban terberat yang harus ia jawab selama hidupnya. Tapi kali ini ia tetap akan menjawab, karena ia tau Bumi tak akan berhenti bertanya sebelum mendengar jawaban dari mulutnya.
“Jawabannya...tidak! Aku tidak mencintaimu, namamu tidak ada dalam hatiku, dan aku tidak selalu ingin berada di sampingmu.”
Deg.
Bumi serasa langit di atasnya akan runtuh saat mendengar jawaban Senja. Seolah ada badai besar menghantam hatinya hingga remuk tak berbentuk. Luruh sudah segala harapan yang selama ini ia inginkan. Jawaban Senja membuat Bumi merasa ia kembali kehilangan cahaya hidupnya.
Senja, benarkah tak ada namaku di hatimu? Bahkan di sudut terkecil hatimu apa benar tidak tertulis namaku? Lalu apa artinya getaran yang aku rasakan saat berada di dekatmu? Apa hanya aku sendiri yang merasakannya?
Senja, tak tahukah kau bahwa bumi tak akan indah tanpa senjanya? Begitu pula hidupku tanpa adanya dirimu. Semua akan kembali menjadi abu-abu.
Bumi terdiam mendengar jawaban Senja. Perlahan tangannya berangsur menjauh dari wajah yang selalu ingin ia sentuh. Senja tak memilihnya. Hilang sudah segala harapan untuk memilikinya.
“Maaf, kalau jawabanku menyakitimu. Tentang kedekatan kita selama ini, mungkin ini seperti hubungan antara kakak dan adik yang saling melindungi,” ucap Senja mencoba menghibur Bumi. Padahal hatinya sendiri juga butuh untuk dihibur. Ia harus tegar. Ia tak mau Bumi sampai berpikiran ia mencintainya.
Bumi tak menjawab lagi. Ia mengangguk pasrah menyetujui perkataan Senja. Jawaban Senja cukup menjawab rasa keingintahuannya. Meski sebenarnya ia setengah tak percaya saat mendengar jawaban tersebut. Hatinya dengan keras menolak untuk menerima jawaban Senja. Tapi kini ia bisa apa, Senja sudah mengatakan padanya. Kini ia tau apa yang selanjutnya akan ia lakukan.
Senja pun menghapus sisa-sisa airmatanya. Lalu ia mengulurkan satu tangannya pada Bumi. Bumi tak mengerti mengapa Senja mengulurkan tangan padanya.
“Mataharinya sebentar lagi akan terbenam,” ucap Senja.
Barulah Bumi mengerti maksud Senja. Bumi yang masih kecewa dengan jawaban Senja juga berusaha tegar dan menyembunyikan kesedihannya. Ia meraih tangan Senja yang terulur itu lalu melipatnya di depan perut Senja, sementara dirinya bergeser tepat di belakang Senja.
“Bumi...”
“Biarkan seperti ini,” bisik Bumi tepat di telinga Senja hingga Senja dapat merasakan dengan jelas hangat yang nafas pria itu.
Saat ini Bumi malah memeluk Senja dari belakang. Tangannya dengan erat menggenggam tangan Senja seolah tak rela untuk melepasnya. Hari ini mereka menyaksikan matahari terbenam bersama dengan posisi yang berbeda. Posisi yang lebih dekat dengan hati yang kian menjauh. Mereka sama-sama telah memutuskan dalam hati untuk mencintai dalam diam.
Matahari di ufuk barat itu perlahan berangsur tenggelam di ujung lautan. Namun posisi mereka tak sedikitpun berubah. Mereka terbuai menikmati kehangatan yang diberikan satu sama lain. Kehangatan dan kedamaian yang entah kapan lagi bisa mereka rasakan.
Bumi semakin mempererat pelukannya dari belakang. Bahkan ia tak segan membenamkan wajahnya pada pundak Senja setelah matahari kembali ke peraduannya. Senja pun tak menolak. Ia tau Bumi membutuhkan pundaknya untuk menopang beban berat di kepalanya.
Biarkan...biarkanlah mereka seperti itu. Biarkan waktu berhenti sejenak memberi mereka ruang untuk sama-sama menenangkan diri dari yang namanya patah hati.
Bersambung...
***
Kalau kalian menangis membaca bab ini, aku cuma mau bilang, kita sama 🤧
Ikuti terus ya kisah mereka, semoga kalian tetap setia membaca novel ini seperti Bumi yang setia mencintai Senjanya 🤗 Jangan lupa like, comment dan berikan vote nya ya, biar penulis semangat double up lagi. Terimakasih 💙