Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
32. Marcel Datang Lagi


Ketika Nesya menelepon Marcel, ternyata pria itu berada di depan perusahaan Senja. Ia pun berencana untuk mengajak Senja makan malam bersamanya malam ini.


Senja yang mendapat telepon dari resepsionisnya bahwa Marcel datang lagi ke kantornya merasa cukup terkejut. Ia merasa sedikit terganggu dengan keberadaan Marcel di kantornya.


“Masuk!” sahut Senja saat ada yang mengetuk pintu ruangannya.


Pintu dibuka dari luar. Lalu tampaklah Marcel dengan senyum mengembang di wajahnya


“Kau ini benar-benar tidak ada kerjaan, ya,” celetuk Senja saat Marcel masuk ke ruangannya.


“Hei, aku bahkan belum duduk. Kau sudah memarahiku saja,” gerutu Marcel.


“Kau sih, pakai acara datang kesini. Mau apa lagi? Ini kantor, Marcel. Aku tidak suka kau sering-sering datang kesini,” ucap Senja secara terang-terangan. Ini sudah kali kedua Marcel datang ke kantornya, dan itu bukan untuk membahas masalah pekerjaan, tapi urusan pribadi.


Marcel mendengus mendengar perkataan Senja. Tapi tanpa malu ia duduk di sofa yang ada di dalam ruangan itu.


“Kau tidak berubah. Dari dulu selalu ketus padaku,” keluh Marcel.


“Kau juga. Sudah ku tolak, masih saja mendekat,” balas Senja yang malah membuat Marcel tergelak.


“Justru makin kau menolak, aku makin penasaran. Makanya aku kesini berencana ingin mengajakmu makan malam bersama malam ini. Bagaimana? Kau mau? Anggap saja sebagai penyambutan kedatanganku ke negeri ini,” kata Marcel to the point.


Senja memutar bola matanya. Marcel memang tidak berubah dari dulu. Selalu bermuka tebal. Bahkan sekarang dia malah meminta Senja makan malam dengannya dalam rangka menyambut kedatangannya.


“Aku tidak mau, aku sibuk,” jawab Senja dengan cepat.


“Baby, baby, aku bukan baby-mu,” protes Senja. Dia merasa risih Marcel memanggilnya seperti itu. Senja tau, panggilan itu biasa Marcel ucapkan untuk wanita-wanita yang pernah berpacaran dengannya.


“Ayolah, kali ini saja, Senja. Masa kau terus menolakku? Aku janji kita hanya makan malam saja, tidak lebih. Kau tidak perlu khawatir,” bujuk Marcel lagi agar Senja mau makan malam bersamanya.


“No. Sekali tidak, tetap tidak. Lagipula aku memang sibuk. Aku sudah ada rencana lain hari ini,” tolak Senja lagi.


“Rencana apa? Aku akan tunggu sampai kau selesai, lalu kita pergi bersama.” Marcel masih belum juga mundur.


“Tidak, Marcel. Aku tidak bisa. Tolong jangan paksa aku. Kau kan banyak wanita-wanita lain. Kau ajak saja salah satu dari mereka.”


Huhhh, susah sekali menaklukkan wanita satu ini. Sangat berbeda dengan sepuounya, Nesya. Bahkan tadi malah Nesya yang mengajakku makan malam bersamanya di apartemennya.


Baiklah, kalau Senja menolakku, berarti aku harus menerima tawaran Nesya.


Marcel berdiri dari duduknya. Dia tidak bisa memaksa Senja lagi untuk pergi bersamanya. Dia tau betul seperti apa Senja. Kalau dia bilang tidak, berarti tidak. Pendiriannya tak mudah digoyahkan.


“Baiklah. Kali ini aku terima penolakanmu. Tapi lain kali tolong jangan tolak aku lagi. Aku akan terus mengejarmu,” kata Marcel.


“Terserah kau saja. Ingat satu hal lagi. Jangan datang ke kantorku kalau bukan soal bisnis. Besok-besok aku akan meminta security melarangmu masuk kesini,” kata Senja mengingatkan.


“Baik, Nona Senjaku sayang,” ucap Marcel sambil mengedipkan sebelah matanya lalu pergi meninggalkan ruangan Senja.


Dasar gila! Yang ada di pikirannya hanya bersenang-senang saja! Umpat Senja dalam hati.