
Bumi dan asistennya saat ini sedang berada dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menjenguk Nesya. Kebetulan setelah jam makan siang tidak ada meeting yang begitu mendesak untuk dihadiri. Ayahnya pun terus mendesak agar ia segera menjenguk calon tunangannya itu.
Tidak ada hal spesial yang dibawa Bumi selain hampers berisi buah-buahan. Itu pun Jefri yang membelinya. Rasanya tak sedikitpun ia merasa risau saat mendapat kabar bahwa calon tunangannya itu masuk ke rumah sakit.
Bumi tiba di rumah sakit dan langsung pergi ke ruangan tempat Nesya dirawat, sementara Jefri hanya menunggu di kursi depan ruangan itu.
“Kau datang juga. Aku pikir kau tidak akan datang karena sibuk bekerja,” ucap Nesya dengan mata berbinar saat Bumi masuk ke ruangannya dengan membawa hampers berisi buah-buahan.
Bumi masuk dan tak langsung menjawab. Ia meletakkan buah-buahan tersebut di atas nakas tepat di samping ranjang lalu duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang tempat Nesya berbaring.
“Bagaimana kondisimu sekarang?” tanya Bumi dengan ekspresi datarnya. Entah dia sedang mengkhawatirkan Nesya atau sekedar basa-basi bertanya pun tak tau.
“Sudah membaik. Hanya saja kepalaku terkadang masih sering pusing,” jawab Nesya dengan suara yang dibuat selemah mungkin agar Bumi makin perhatian padanya.
“Istirahatlah yang banyak,” ucap Bumi.
Hanya itu? Batin Nesya.
“Baiklah, aku akan banyak beristirahat,” sahut Nesya dengan patuh.
Lalu tangan Nesya tiba-tiba terulur menggenggam tangan Bumi. Bumi tak bereaksi apa-apa selain melihat ke arah tangannya yang dipegang.
“Bumi, terimakasih sudah datang menjengukku. Aku tau kau pasti sibuk sekali. Tapi kau masih menyempatkan diri menjengukku. Jujur saja, aku sangat bersyukur punya calon suami sepertimu. Aku juga bersyukur almarhum ibumu menjodohkan kita dari kecil. Aku harap kita bisa semakin dekat setelah kita bertunangan nanti,” ucap Nesya sambil terus menggenggam Bumi.
Bumi terdiam sejenak. Kalau sudah mendiang ibunya yang disebut-sebut, ia merasa lemah. Ia mudah sekali tersentuh. Nesya yang paham akan hal itu, memang sengaja memancing Bumi dengan kelemahannya itu.
“Pikirkan saja soal kesembuhanmu dulu,” kata Bumi.
“Tapi kau serius kan akan menikahiku?” tanya Nesya tiba-tiba.
Bumi tertegun. Tidak seharusnya Nesya membahas hal itu saat ini. Saat Nesya menyebutkan kata pernikahan, yang muncul di kepalanya malah wajah Senja. Ia sendiri tidak mengerti mengapa malah Senja yang ada dalam pikirannya. Tidak! Dia tidak mau membahas soal pernikahan dulu.
Melihat Bumi hanya diam tak menjawab, Nesya merasa kecewa. Sepertinya Bumi memang belum membuka hatinya untuk Nesya. Tapi bukan Nesya namanya kalau mudah menyerah. Ia pun langsung bersedih bahkan sampai mengeluarkan airmata demi menarik simpati Bumi.
“Sudah ku bilang, kau harus istirahat yang banyak. Tidak usah memikirkan soal itu dulu.”
Melihat Nesya menangis Bumi berinisiatif mengambil tissue di atas nakas lalu duduk di tepi ranjang dan memberikan tissue itu pada Nesya, tapi Nesya malah dengan lihai mengambil kesempatan untuk memeluk Bumi dengan tiba-tiba.
“Maaf, aku hanya tidak ingin kehilanganmu. Meskipun sekarang kau belum mencintaiku, tapi aku sangat berharap kau akan mencintaiku setelah kita menikah nanti,” ucap Nesya yang sudah menyandarkan kepalanya di dada Bumi, sementara Bumi balas memeluknya pun tidak.
Di saat yang bersamaan Senja yang baru saja datang hendak menjenguk Nesya melihat dengan jelas saat mereka sedang berpelukan dari celah pintu yang tidak tertutup rapat. Senja mendadak membeku. Hatinya seperti dire-mas dengan kuat saat melihat mereka berpelukan. Terlihat kecemburuannya dari buket bunga yang digenggamnya dengan erat.
“Nona Senja,” sapa Jefri yang baru kembali dari toilet.
Senja menoleh ke arah Jefri dan memberi isyarat pada Jefri agar tidak bersuara. “Sssttt pelan-pelan bicaranya. Aku tidak mau mengganggu mereka,” ucap Senja dengan pelan.
“Baiklah, apa Nona tidak masuk?” tanya Jefri setengah berbisik.
“Tidak usah, nanti sore saja aku kesini lagi,” jawab Senja. “Tolong jangan beritau mereka juga kalau aku datang kesini, ya.”
“Oh, baiklah, Nona.”
Senja pun melirik lagi ke dalam ruangan itu. Mereka masih saja asik berpelukan. Ah, betapa bodohnya ia cemburu pada pasangan yang akan segera bertunangan itu! Senja tak ingin berlama-lama lagi disana. Ia segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari rumah sakit itu.
Senja berjalan dengan tergesa-gesa. Ia butuh menenangkan perasaannya saat ini. Karena terlalu terburu-buru, ia tak sengaja menabrak seseorang dari arah depan.
“Eh, maaf, maaf.”
“Loh, kau?”
Bersambung...