
Pesta pernikahan yang meriah dan penuh cinta itu telah usai. Saat ini pria yang baru saja menyandang gelar sebagai seorang suami tengah duduk di atas tempat tidur sambil bersandar dengan memakai piyama berwarna biru navy. Ia sedang duduk sambil menunggu sang istri keluar dari kamar mandi. Sesekali ia tersenyum sendiri memikirkan apa saja yang harus ia lakukan nanti. Ia sudah membayangkan istrinya akan keluar dengan baju tidur tipis yang kurang bahan.
Ceklek.
Terdengar suara pintu kamar mandi mulai dibuka. Senyum di wajah sang suami tambah lebar karena tak sabar ingin menyambut sang istri dengan baju tidurnya yang pasti menyejukkan mata.
“Taraaaaaaaa...” sang istri muncul dengan merentangkan kedua tangannya.
Senyum di wajah sang suami pun memudar. Ia tak lagi senyum melainkan tertawa terbahak-bahak melihat sang istri memakai piyama berwarna senada dengannya. Ia terbahak-bahak karena menertawakan dirinya sendiri yang sudah berpikiran tak senonoh seperti tadi.
“Kenapa kau tertawa sampai segitunya? Memangnya aku lucu sekali, ya?” tanya Senja lalu mendekat ke arah suaminya.
Bumi pun menepuk pahanya, menyuruh Senja duduk di pangkuannya. Tapi Senja malah menggeleng. Ia masih malu dan sangat canggung kalau harus duduk disitu.
“Kenapa? Ayo duduk sini, Sayang!” Bumi lagi-lagi menepuk pahanya.
“Aku duduk disini saja,” jawab Senja malu-malu sambil beranjak hendak duduk di tepi ranjang.
Tapi belum sempat bokongnya menyentuh tempat tidur, Bumi dengan cepat menariknya dan mendudukkannya di pangkuan Bumi.
Deg.
Jantung Senja terasa mau copot. Ia sangat deg-degan berada di posisi seperti ini. Ia mendadak canggung dan bingung harus melakukan apa. Lihatlah, wajahnya sudah memerah seperti tomat karena menahan malu.
“Bumi..aku...aku.....”
“Aku kenapa? Hm?” tanya Bumi sambil mendekatkan wajahnya ke arah Senja.
“Aku....”
Belum sempat Senja melanjutkan kalimatnya, Bumi sudah mencium bibirnya sebentar lalu melepaskannya lagi. Padahal ini bukan kali pertama Bumi menciumnya tapi Senja masih saja malu-malu dan merasa deg-degan.
“Kenapa menunduk begitu?” Bumi mengangkat dagu Senja agar mereka saling bertatapan.
Jantung Senja pun semakin tak karuan saja rasanya. Jika dipandang dari jarak sedekat ini, pria di depannya ini nampak sangat sempurna tanpa cacat cela.
“Aku...”
Bumi kembali mencium Senja hingga istrinya itu berhenti bicara. Kali ini tak hanya sebentar. Ia memagut bibir cherry strawberry nya itu lebih lama. Makin lama ciuman itu makin dalam dan menuntut. Senja menutup matanya untuk menikmati itu sambil sesekali membalas ciuman dari sang suami.
Tak lama Bumi menarik wajahnya. Nafasnya tampak memburu menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar ciuman.
“Senja...boleh aku...”
Belum selesai Bumi bertanya Senja dengan cepat mengangguk. “Boleh. Tapi...bisa tidak jangan malam ini?” tanya Senja ragu-ragu.
“Kenapa?”
“Kakiku pegal sekali kelamaan berdiri menyalami tamu tadi,” keluh Senja sambil mengerucutkan bibirnya.
Bumi gemas sekali melihat wajah lucu Senja seperti itu. Ia pun kembali mencium istrinya sekilas.
“Baiklah, Senjaku. Kalau begitu kau berbaringlah biar aku memijat kakimu.”
“Serius? Apa kau tidak lelah? Mending kita sama-sama tidur saja,” usul Senja.
“Tidak. Aku tidak lelah sama sekali. Ayo berbaring disini!”
Senja pun beranjak dari pangkuan Bumi dan mulai berbaring di atas ranjang. Sementara Bumi duduk di dekat kaki Senja dan mulai memijat istrinya itu.
“Kalau pijatanku terlalu keras bilang, ya,” ucap Bumi sambil terus memijat kaki sang istri.
“Tidak, ini sudah pas. Kau pintar memijat juga rupanya. Nanti kalau kau sudah tidak jadi pengusaha lagi, kau bisa jadi tukang pijat saja,” kata Senja sambil terkekeh.
“Memangnya aku boleh memijat wanita lain?” tanya Bumi mulai memancing Senja.
“Boleh saja. Yang penting wanita yang kau pijat itu nenek-nenek tua,” jawab Senja sambil tergelak.
Bumi yang merasa gemas diledek oleh Senja sengaja memijat area paha Senja agak ke atas sehingga Senja menepis tangannya.
“Tidak. Tadi kan bagian bawah sudah, sekarang bagian yang ini,” jawab Bumi sambil memijat bagian itu lagi.
“Ih...tidak usah disitu,” kata Senja lalu menarik tangan Bumi dan ia pun duduk di samping suaminya itu.
“Kau nakal sekali!” gerutu Senja.
“Kan nakal sama istri sendiri. Ini belum seberapa Senja. Nanti aku akan lebih nakal lagi,” ucap Bumi lalu mengedipkan matanya sehingga Senja tertawa melihatnya.
“Kau genit!”
“Iya, di depanmu saja aku genit.”
“Tapi aku suka," kata Senja lalu kembali tertawa.
“Ohhh...kau mulai nakal juga, ya.”
Bumi pun mulai menyerang istrinya dengan ciuman bertubi-tubi sampai Senja terbaring di atas tempat tidur. Terakhir Bumi mengecup kening istrinya agak lama lalu memeluk Senja dalam dekapannya.
“Tidurlah, kau pasti lelah,” ucap Bumi sambil mengelus-elus punggung sang istri.
“Baiklah. Kau juga cepat tidur. Selamat malam, Bumiku.”
“Selamat malam, Senjaku.”
Bumi mengecup kening istrinya sekali lagi lalu ikut memejamkan mata bersama istrinya. Bisa tidur sambil memeluk istrinya sudah lebih dari cukup baginya.
***
Di kamar lain ada Andika yang gelisah memikirkan anak perempuannya. Ia risau kalau Bumi akan berbuat kasar kepada anak semata wayangnya saat malam pertama mereka.
“Papa kenapa sih dari tadi pusing kanan pusing kiri terus?” tanya Liliana yang terganggu tidurnya karena Andika gelisah sekali di tempat tidur.
“Papa memikirkan Senja. Kira-kira mereka sedang apa ya sekarang?”
“Ya sedang malam pertama lah. Papa ini seperti tidak pernah saja,” jawab Liliana dengan enteng.
“Tapi kan mereka tadi resepsinya sampai malam, Ma. Apa Bumi tidak bisa menunggu besok saja untuk melakukan itu?” Andika malah terlihat gusar.
“Papa, anak kita sudah dewasa. Dia sudah menikah. Suaminya pasti tau yang terbaik untuk memperlakukan istrinya.”
“Cih, di rumah sakit saja dia main nyosor sembarangan, apalagi ini mereka hanya berduaan.”
“Jadi Papa mau menyusul mereka? Ya sudah, susul saja sana! Mama mau pindah kamar lain saja.”
Liliana pura-pura bangun untuk mengancam suaminya. Andika pun cepat-cepat menarik tangan istrinya agar kembali berbaring.
“Tidak, Sayang. Papa tidak mungkin menyusul mereka,” bujuk Andika.
“Papa sih, masih saja sibuk memikirkan anak kita sedang apa, ada Mama disini malah dianggurin.”
Andika langsung memegang kedua pipi istrinya dengan wajah sumringah. “Mama mau, ya? Kalau Mama mau, Papa tidak memikirkan mereka lagi nih.”
“Hmmm....terserah Papa saja lah.”
“Ah, jangan gitu, Ma! Yang jelas Ma kalau bicara! Boleh kan Ma? Boleh kan? Boleh kan?”
“Hmmm...boleh deh.”
“Yesss!” Andika pun bersorak bahagia mendapat lampu hijau dari sang istri. Liliana terpaksa berkorban dulu malam ini demi ketenangan tidur anak dan menantunya.
Bersambung...
.
Guys...baca kolom komentar ya 🤗 Aku mau ngadain giveaway kecil-kecilan 😘