
“Kak Bumi...” sapa Dimas ragu-ragu. Apalagi tatapan Bumi saat ini seperti sedang mengulitinya satu per satu.
Ah, kenapa bisa Kak Bumi datang kesini, sih? Baru saja dibicarakan, orangnya sudah muncul. Batin Dimas.
Senja yang merasakan aura ketegangan di ruangannya itu segera berusaha mencairkan suasana.
“Selamat datang, Tuan. Maaf saya ada tamu, tapi sepertinya tamu saya ini sebentar lagi akan pulang kok. Iya kan, Tuan Dimas?” kata Senja sambil memberi kode kepada Dimas untuk segera pergi dari ruangannya.
“Benar, Kak. Eh, Tuan maksud saya. Kalau begitu saya pamit dulu, Nona Senja. Senang bertemu dengan Anda hari ini,” ucap Dimas lalu mengulurkan tangannya kepada Senja.
Senja pun menerima uluran tangan itu dan segera melepasnya.
“Permisi,” ucap Dimas sambil melangkahkan kakinya menuju ke pintu.
Belum sempat ia keluar dari ruangan Senja, tiba-tiba suara dari Bumi spontan menghentikan langkahnya.
“Jef, apa hari ini perusahaan Dirgantara mengirim utusan lain untuk meeting hari ini?” tanya Bumi.
“Tidak, Tuan,” jawab Jefri dengan cepat.
“Catat nama-nama karyawan yang keliaran ke tempat lain pada jam kerja! Aku tidak mau ada karyawan yang menggunakan jam kerjanya untuk kepentingan pribadi,” titah Bumi.
“Baik, Tuan,” jawab Jefri dengan patuh.
Dimas yang berdiri di depan pintu langsung tercekat. Ia tau Bumi bermaksud menyindirnya saat itu. Sesaat kemudian ia pun kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan kantor Senja.
“Silahkan duduk, Tuan,” ucap Senja dengan ramah.
Bumi pun duduk di sofa yang tadi diduduki oleh Dimas. Matanya tak henti menatap Senja dengan tajam. Rasanya dia tak suka tadi Dimas datang ke kantor Senja seperti itu. Bukan karena Dimas berkeliaran di jam kerjanya, tapi lebih karena Dimas mendatangi Senja.
“Tuan mau minum sesuatu?” tanya Senja menawarkan minuman dengan ramah karena melihat wajah Bumi yang cukup menyeramkan baginya.
“Apa kau sering menerima tamu saat jam kerja seperti ini?” Bumi bukan menjawab, ia malah bertanya hal lain.
Eh?
“Apa di antara kalian memang ada sesuatu sehingga kau menghindari pertanyaanku?”
Senja mengerutkan dahinya. Dia bingung pada Bumi yang seolah ingin tau ada hubungan apa antara dirinya dan Dimas. Kalaupun ada apa-apa di antara mereka rasanya itu tidak masalah bukan?
“Bukan menghindari. Tidak ada yang perlu dihindari. Kalau pun memang ada sesuatu di antara kami, bukannya itu tidak masalah, Tuan? Kami sama-sama belum menikah dan belum memiliki jodoh,” jawab Senja dengan enteng.
Mendengar jawaban Senja, Bumi langsung mengepalkan tangannya dengan erat. Ada rasa cemburu yang tiba-tiba menjalar di hatinya. Ditambah lagi ia melihat ada sebuket bunga tergeletak disana. Dia yakin itu pasti pemberian Dimas. Jefri yang duduk di sebelah Bumi, dapat menangkap signal kemarahan dari bos nya itu.
Nona Senja, anda senang sekali memancing kemarahan Tuan Bumi. Batin Jefri.
“Jadi, kau benar menyukainya?” tanya Bumi tiba-tiba.
Tentu saja Senja terkejut akan pertanyaan itu. Baginya Bumi terlalu cepat menyimpulkan sesuatu.
“Sebenarnya ada apa dengan anda, Tuan? Dia hanya datang kesini sebentar. Kami tidak janjian sebelumnya. Tidak ada yang perlu dibesar-besarkan,” jawab Senja.
“Bisakah kita bicara masalah kerjasama kita saja?” tanya Senja kemudian.
Bumi masih terdiam. Sedangkan Senja dibuat makin bingung dengan sikapnya itu.
Dia ini sebenarnya kenapa, sih? Apa dia cemburu? Tidak mungkin dia cemburu. Cemburu pada siapa? Aku kan bukan siapa-siapanya. Gumam Senja dalam hati.
“Apa Tuan mau sampai sore hanya menatap saya dengan dingin seperti ini terus?” sindir Senja.
“Kita mulai meeting kita,” jawab Bumi tanpa merasa bersalah.
Dih, tiba-tiba marah, tiba-tiba ajak meeting. Senja membatin.
“Jangan mengumpatku dalam hati!”
“Ti-tidak, Tuan.”
Bersambung...