
Andika menatap Senja dengan lekat. Ia dapat membaca ada sesuatu antara Bumi dan Senja. Buktinya Senja tampak terkejut saat ia menyebutkan nama Bumi.
“Jadi, ini karena keripik pisang atau karena Bumi?” ulang Andika yang masih berharap Senja mau terbuka padanya.
Senja langsung menguasai dirinya. Ia tak mau ayahnya curiga kalau memang ada apa-apa di antara dirinya dan Bumi.
“Papa, ini tidak ada hubungannya dengan dia. Senja menangis karena terharu dengan pemberian Pak Aris,” jawab Senja.
“Oke, Papa percaya kamu menangis karena itu. Tapi... Papa juga ingin tau tentang dirimu dan Bumi. Apa ada sesuatu yang kamu tutupi dari Papa tentang Bumi?” selidik Andika.
“Tidak penting membahasnya, Pa. Kami hanya sebatas rekan bisnis,” kilah Senja seraya kembali duduk di kursinya. Ia tak berani menatap ayahnya lagi. Akan sangat ketara kalau dia sedang berdusta.
“Sebatas rekan bisnis? Papa tidak pernah melihat Bumi memeluk rekan bisnisnya selain dirimu.” Andika masih berusaha menggali kebenaran dari anaknya itu.
Senja kembali terdiam. Sepertinya ayahnya sudah mulai curiga dengan kedekatannya dan Bumi. Tapi dia tidak mungkin bercerita tentang perasaannya pada Bumi. Bumi sudah jadi tunangan Nesya. Dia tak mau merebut tunangan sepupunya sendiri. Ini bukan hanya soal Nesya, tapi soal keluarga pamannya juga, Adrian. Hubungan persaudaraan antara ayahnya dan pamannya juga bisa renggang kalau sampai pertunangan Nesya dan Bumi hancur karenanya.
Tidak! Senja tak mau itu terjadi. Tidak ada yang boleh tau tentang dirinya dan Bumi.
“Pa, tidak baik membahas tunangan orang, apalagi tunangan sepupu sendiri. Kalau Papa melihat Senja dan Bumi dekat saat di pesta pertunangan itu, mungkin karena kami adalah rekan bisnis yang sudah saling mengenal, tidak lebih.”
“Jadi benar ada sesuatu antara kamu dan Bumi?”
“Pa, kalaupun ada itu hanya sebatas pertemanan, tidak lebih. Senja tidak akan merebut tunangan sepupu sendiri. Sudah ya, Pa, tidak usah bahas itu lagi. Kita harus menghargai perasaan Kak Nesya, Om Adrian dan Tante Tari.”
Senja meraih tangan ayahnya lalu berusaha tersenyum dengan tegar. “Senja baik-baik saja. Papa jangan khawatir.”
Papa harap suatu saat kamu lebih terbuka dengan Papa. Papa tau pasti ada sesuatu di antara kalian berdua. Imbuh Andika dalam hati.
***
Sepulang dari kerja Senja yang awalnya berniat untuk pergi ke pantai melihat matahari terbenam, malah membatalkan niatnya. Ia jadi takut akan bertemu Bumi lagi disana. Ia pun memutuskan untuk langsung pulang ke rumahnya saja.
Di tengah perjalanan, saat berhenti di lampu merah, Senja seperti melihat mobil pamannya berhenti tepat di sebelah mobilnya. Saat Senja baru akan menurunkan kaca jendela mobilnya, tiba-tiba kaca jendela mobil pamannya sudah diturunkan terlebih dulu.
Senja pikir pamannya akan menyapanya saat itu, tapi ternyata ia salah. Ia malah melihat seorang wanita berada tepat di samping kaca jendela mobil yang terbuka. Wanita itu membeli sekotak tissue pada pedagang yang berjualan saat lampu merah. Setelah selesai membeli, ia kembali menaikkan kaca jendela mobilnya.
Wanita itu... Om Adrian bersama seorang wanita?
Senja pun kembali teringat kejadian saat di rumah Adrian beberapa waktu lalu. Ia yakin, wanita itu adalah istri kedua Adrian.
Saat lampu hijau sudah menyala, Adrian pun menjalankan mobilnya. Senja yang penasaran dengan istri kedua Adrian, membuntuti mobil mereka dari belakang.
Ternyata Om Adrian masih sering berhubungan dengan istri keduanya itu. Apa Tante Tari tau soal ini? Tanya Senja dalam hati.
Senja terus mengikuti mobil pamannya hingga mobil itu berhenti di depan sebuah rumah yang cukup besar. Senja melihat dengan jelas seorang wanita turun dari mobil pamannya itu. Tak lama, mobil itu kembali keluar lagi meninggalkan rumah tadi.
Melihat mobil pamannya sudah pergi, Senja kembali menyalakan mobilnya dan berencana pergi dari sana. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuat ia mengurungkan niatnya. Setelah kepergian mobil pamannya, ada mobil lain yang berhenti bahkan parkir di depan rumah itu. Dari mobil itu turun seorang pria yang usianya kurang lebih sama dengan pamannya. Wanita yang tadi diantar pamannya ke rumah itu tampak tergesa-gesa menarik pria tersebut untuk masuk ke dalam rumahnya.
Senja jadi makin penasaran. Apakah benar wanita itu istri kedua pamannya? Lalu siapa pria yang datang ke rumah wanita itu? Kenapa ia harus menarik pria itu dengan tergesa-gesa untuk masuk ke dalam rumahnya?