
Niat hati ingin melepas rindu pada Senja yang sudah lama tak ia temui, malah berakhir dengan melihat Senja berada dalam dekapan saudara sambungnya sendiri, Dimas.
Jadi, ini yang membuatmu menghindar dariku, Senja?
Bumi mengepalkan tangannya. Dadanya bergemuruh naik turun menahan badai di hatinya. Kata yang paling tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini hanyalah satu, “kecewa".
Haruskah ia menghampiri mereka berdua dan memisahkan mereka? Tapi apa alasannya ia melakukan itu? Belum tentu Senja memiliki perasaan yang sama dengannya.
Tidak! Ia tak mungkin dengan bodohnya melakukan hal itu. Karena tak sanggup melihat kemesraan Senja dan Dimas lebih lama, Bumi segera berbalik meninggalkan pantai itu.
Bumi masuk ke dalam mobil yang dikendarainya sendiri. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. Tak peduli para pengguna jalan lain mengklaksonnya berkali-kali, ia tetap melaju sesuka hatinya mengikuti rasa hati yang sedang tak baik-baik saja.
Bumi terus melaju hingga mendekat ke sebuah kawasan tebing yang curam dan berbatu. Makin dekat dengan pinggir tebing, bukannya memperlambat mobilnya, ia malah menginjak gas agar mobil itu melaju lebih kencang.
Mobil semakin kencang dan pinggir tebing hampir tercapai. Di saat tepat berada hampir di pinggir tebing itu, Bumi memutar stir mobilnya dengan kuat hingga mobil itu berputar-putar dengan laju. Saking kuatnya mobil itu berputar, ban mobil bergesekan dengan tanah hingga menciptakan kepulan debu yang menyelimuti mobilnya.
Suara mobil berdecit makin melemah. Mobilpun telah berhenti berputar. Bumi yang duduk dibalik stir, tampak tak takut sama sekali dengan apa yang ia lakukan barusan. Ia puas telah melampiaskan kekecewaannya.
Setelah kepulan debu mulai mereda, Bumi keluar dari mobilnya. Ia berdiri di pinggir tebing dan melihat pemandangan luas di depannya. Saat itu, ia dapat melihat matahari yang hampir terbenam di ufuk barat sana.
“Tidak kah kau tau bahwa Bumi tak pernah indah tanpa cahaya senjanyaaaaaaa........? Kenapa kau memilih pria lain sebagai tempatmu bersandar sementara aku selalu bersedia jika kau butuhkaaaannnnnn...?”
“Kau berhasil menyakiti hatiku, Senjaaa.... Kau berhasil melukai hati ini dalam-dalam. Dan aku.....Lihat aku, Senja..... Lihat akuuuuuu....! Aku disini dengan bodohnya tetap mencintaimu dalam diam.”
Bumi berteriak sekencang-kencangnya melepaskan semua kekecewaan di hatinya. Hatinya saat ini terasa rapuh. Lututnya ikut terasa lemas dan ia pun terduduk di tanah dengan kaki yang terlipat ke belakang. Bumi yang selama ini selalu tampak tegar di mata semua orang, kini terlihat menyedihkan.
Tuan Muda Dirgantara yang dingin dan datar itu terlihat mengharukan.
Ini kali kedua Bumi bersedih seperti ini, yang pertama kali adalah saat ia ditinggal pergi ibunya yang kala itu meninggal dunia.
Kesedihan yang bertahun-tahun ia pendam sendiri sempat memudar tatkala Senja masuk ke dalam hidupnya dan mencuri hatinya tanpa ia sadari. Tapi kini, Senja pun ingin meninggalkannya juga.
Bumi melihat lurus ke depan, matahari tampak kian turun perlahan di ujung sana. Sekali lagi mereka menyaksikan matahari terbenam yang sama namun di tempat yang berbeda.
“Senja, meskipun aku tidak ada di hatimu, tapi biarkan aku tetap mencintaimu dalam diamku...” ucap Bumi dengan lirih diiringi deraian airmatanya yang sudah menggenang di pelupuk mata.