
Sama seperti dulu, Jefri pulang dari Coffee Shop itu ketika tempat itu memang harus tutup. Kali ini Jefri sengaja menunggu Jingga dengan bersandar di depan mobilnya. Tak lama yang ditunggu pun keluar dengan tas selempang yang sudah lusuh warnanya.
“Jingga!” panggil Jefri dari depan mobilnya.
Jingga yang dipanggil segera menghampiri Jefri.
“Tuan belum pulang?” tanya Jingga basa-basi.
“Kau tidak lihat aku masih disini?” Jefri malah balik bertanya.
Tuh kan, mulai kumat lagi. Umpat Jingga dalam hati.
“Kau masih pulang naik ojek?” tanya Jefri lagi.
“Iya, Tuan. Kadang nebeng dengan teman,” jawab Jingga tanpa rasa malu.
“Ya sudah, ayo masuk ke mobil! Aku akan mengantarmu lagi,” ajak Jefri.
“Tuan serius? Apa tidak merepotkan? Kalau ada yang cemburu bagaimana? Saya tidak tanggung jawab lho, Tuan.”
“Naiklah cepat. Aku malas menawarkan berkali-kali,” ucap Jefri lalu beranjak masuk ke mobilnya.
Jingga pun tak mau membuang kesempatan emas ini. Dia segera masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah Jefri. Kali ini, ia sudah bisa menggunakan sabuk pengamannya sendiri tidak perlu bantuan Jefri lagi.
“Kau cepat belajar rupanya,” ucap Jefri saat sabuk pengaman Jingga sudah terpasang rapi. Jingga pun hanya menanggapinya dengan sebuah senyuman saja. Lalu mereka pun meninggalkan tempat itu.
Saat di perjalanan, Jefri hanya diam tak bicara apa-apa. Jingga pun tak mau mengganggu Jefri yang terlihat seperti orang yang sedang banyak pikiran. Keduanya hening larut dalam pemikiran masing-masing.
Saat mobil itu melewati rumah sakit yang sedang dibangun, barulah Jingga mulai buka suara.
“Tuan, Tuan tau tidak bangunan itu mau dibuat rumah sakit? Katanya itu dibuat oleh Tuan Muda Dirgantara untuk kekasihnya.” Jingga mulai menggosipkan seseorang yang merupakan bos Jefri.
“Kau tau darimana?”
“Itu, ada logo perusahaan Dirgantara di plangnya. Hebat ya Tuan Muda Dirgantara. Masih muda sudah sukses seperti itu. Oh ya, Tuan pernah bertemu langsung dengan Tuan Muda Dirgantara? Saya penasaran sekali dia seperti apa.”
“Memangnya kau tidak pernah melihatnya?”
“Pernah sih, tapi di koran dan di TV. Tuan...sepertinya seorang pengusaha juga. Apa Tuan pernah bertemu langsung dengannya?” tanya Jingga penasaran. Kalau dilihat dari pakaiannya, Jefri memang tampak seperti seorang pengusaha muda.
“Aku bertemu dengannya setiap hari,” jawab Jefri yang membuat Jingga membesarkan matanya.
“Setiap hari? Jangan bilang Tuan bekerja di perusahaan Dirgantara!”
Jefri mengangguk. “Aku asisten pribadi Tuan Muda Dirgantara,” jawab Jefri dengan santai.
“Hah? Serius Tuan? Saya bisa satu mobil dengan asisten Tuan Muda Dirgantara? Tuan tidak becanda kan?” tanya Jingga yang hampir tidak percaya.
Jefri merasa lucu dengan Jingga yang terkejut seperti itu. Ia pun menepikan mobilnya, padahal belum sampai di tempat tujuan.
“Kau tidak percaya padaku?” tanya Jefri sambil menoleh ke arah Jingga.
“Hmm...percaya sih, Tuan. Tapi saya masih tidak menyangka saja. Pasti Tuan sibuk sekali ya setiap hari, karena yang saya tau Tuan Muda banyak bisnisnya. Pantas saja Tuan Jefri jarang berkunjung ke Coffee Shop tempat saya bekerja. Sudah 30 hari Tuan tidak kesana,” jawab Jingga panjang lebar.
“Kau menghitung berapa lama aku tidak datang kesana?” tanya Jefri penasaran.
Jingga pun mengangguk. “Saya pikir setelah hari itu, Tuan akan datang lagi, tapi ternyata Tuan tidak datang sampai 30 hari setelahnya,” jawab Jingga.
Jefri tiba-tiba langsung teringat akan Tuan Mudanya. Setiap hari Bumi juga selalu menandai kalender menghitung berapa lama kekasihnya tertidur dalam koma.
“Tidak ada. Aku hanya mengingat Tuan Mudaku,” jawab Jefri lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil.
“Tadi aku minta kopi yang sesuai dengan suasana hatiku bukan? Itu karena aku ikut sedih melihat Tuan Muda juga sedih menunggu kekasihnya yang belum bangun dari koma. Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini nasibnya,” sambung Jefri.
“Jadi gosip yang beredar itu benar ya, Tuan? Kekasih Tuan Muda mengalami koma setelah kecelakaan? Putri Keluarga Wijaya kan?”
“Kau benar,” sahut Jefri membenarkan.
“Kasihan sekali Tuan Bumi dan Nona Senja. Mereka pasangan yang serasi sekali. Tuan Bumi pasti merasa kesepian sekali menjalani hari-hari tanpa Nona Senja,” ucap Jingga yang membuat Jefri menoleh kepadanya.
“Kenapa?” tanya Jefri.
“Tuan Bumi pasti kesepian. Jika biasanya setiap hari dia selalu mendengar suara Nona Senja, melihat tawa Nona Senja, lalu tiba-tiba semua itu tidak ada, Tuan Bumi pasti mmerasaada yang kurang dalam hidupnya. Dia butuh seorang teman yang menemani hari-harinya.”
“Butuh seorang teman?” ulang Jefri.
“Iya, Tuan. Kita sebagai manusia pasti butuh seseorang untuk berbagi cerita, berbagi keluh kesah, berbagi kasih sayang, dan itu biasa Tuan Bumi lakukan saat bersama Nona Senja pastinya. Jika sekarang Nona Senja koma, tentu dia sangat sedih dan kesepian.”
Kau benar, Jingga. Bahkan saat ini dia merasa lebih dari sedih dan sepi. Nona Senja seperti udara dalam hidupnya yang mampu menguatkan dirinya untuk terus hidup setiap hari. Tanpa Nona Senja, Tuan Bumi tampak lemah dan rapuh. Jefri membenarkan dalam hati.
“Kalau Tuan sendiri sudah ada teman berbagi keluh kesah?” tanya Jingga tiba-tiba.
“Kenapa menanyakan itu? Kau cemburu?”
Blushhh.
Jingga merasa terjebak dengan pertanyaannya sendiri. Padahal dia kan tadinya hanya iseng saja bertanya soal itu.
“Tidak, Tuan. Tidak kok. Saya tidak berhak cemburu. Saya hanya pelayan Coffee Shop, Tuan. Saya sih sadar diri sedari dini,” jawab Jingga sambil terkekeh menertawai dirinya sendiri.
“Apa yang salah dengan pekerjaan itu? Masih sama-sama manusia bukan?”
“Tapi kan kita beda kasta, Tuan. Apalagi Tuan asistennya Tuan Muda Dirgantara. Pasti banyak wanita yang lebih layak untuk menjadi teman dekat Tuan.”
“Jadi kau tidak cemburu? Lalu mengapa bertanya?”.
“Kepo saja, Tuan,” jawab Jingga dengan enteng.
Jefri merasa lucu dengan gadis di sebelahnya ini. Ia pun mengacak gemas rambut gadis itu. Jingga yang diperlakukan seperti itu jadi deg-degan saat Jefri menyentuh rambutnya. Ia pun terdiam menatap pria di sampingnya.
“Jadi, Tuan beneran sudah punya teman berbagi keluh kesah, ya?” tanya Jingga masih penasaran.
“Ada.”
“Oh ya? Siapa?” Jingga makin penasaran.
“Kamu.”
“Ihhh, Tuan. Dari tadi gombal melulu!” ucap Jingga sambil mencibirkan bibirnya. Sementara Jefri hanya tertawa dibuatnya.
“Sudahlah. Kau kepo sekali. Aku harus segera mengantarmu pulang. Sudah malam.”
Jefri tak mau membahas itu lagi. Ia pun kembali menyalakan mobilnya dan mengantar Jingga ke tempat yang sama seperti dulu. Setelah Jingga turun dari mobil, Jefri tersenyum pada dirinya sendiri. Gadis itu sudah berhasil membuatnya tertawa hari ini.
.
Bersambung...