
Liliana kini sudah tertidur di kamarnya. Ia terlalu lelah menangisi keadaan Senja. Senja adalah putri semata wayangnya. Anak gadisnya yang baik hati dan selalu ceria. Gadis berhati malaikat yang tak pernah ragu menolong siapa saja. Senja tak pernah seperti ini sebelumnya. Sejak Senja lahir, Liliana dan Andika selalu memberikan kasih sayang dan semua yang terbaik untuknya. Karena itu, jika sekarang Senja tiba-tiba kecelakaan dan mengalami koma, wajar saja jika Liliana sangat sedih seperti itu.
Andika mencium kening istrinya yang sudah tertidur lelap. Ia sendiri tidak ikut beristirahat. Ia malah pergi masuk ke kamar Senja.
Ceklek.
Pintu kamar Senja dibukanya dan ia pun masuk ke dalam kamar itu. Bayangan Senja yang seolah sedang duduk di atas tempat tidur sambil merentangkan tangan membuat hatinya kembali terenyuh. Biasanya Senja selalu seperti itu. Dan ia pun selalu datang duduk menghampiri putri kesayangannya lalu memeluknya dengan erat.
Andika pun mendekat dan duduk di tepi ranjang. Tangannya perlahan mengusap bantal milik Senja lalu ia cium bantal itu beberapa detik. Harum rambut Senja seolah masih tertinggal disana.
Tes.
Andika tak kuat menahan airmatanya. Pertahanannya kembali runtuh saat mengingat kenangannya bersama Senja di kamar itu. Kamar tempat Senja bercerita tentang kesehariannya, kamar tempat mereka bercanda tawa bersama, kamar yang menjadi saksi saat Senja menangis ketika bercerita tentang pria yang dicintainya. Dan kini, pria yang dicintainya itu juga tengah menangis melihatnya terbaring tak sadarkan diri.
Andika lalu teringat akan Senja yang senang menulis diary, ia pun membuka laci di sebelah tempat tidur Senja, dan menemukan sebuah diary berwarna pink disana. Saat pertama kali membuka diary itu, di halaman pertama tertulis “Cahaya Senja Wijaya Putri Andika dan Liliana tercinta.”
Hati Andika lagi-lagi terenyuh dengan itu. Ia mera-ba tulisan itu dengan tangan yang bergetar. Betapa Senja sangat mencintai kedua orang tuanya yang tak lain adalah dirinya dan Liliana. Kemudian ia kembali membuka lembaran selanjutnya. Ada foto Senja sedang memakai toga sedang diapit oleh Andika dan Liliana di sisi kiri dan kanannya sambil mencium pipinya. Andika ingat, itu adalah foto yang diambil saat Senja wisuda dulu. Senja tampak tersenyum bahagia disana. Ia tersenyum lebar menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.
Tes.
Airmatanya jatuh di atas foto itu. Andika cepat-cepat mengelapnya karena tak ingin membuat foto itu rusak. Ia juga menyeka airmatanya agar tak lagi menetes disana.
Ia kembali membuka lembaran-lembaran lain. Ada beberapa tulisan Senja yang menyita perhatiannya. Tulisan itu tak lain adalah saat Senja bercerita tentang sosok Bumi. Bumi yang selalu melindunginya, menghabiskan waktu bersamanya menikmati matahari terbenam, kekecewaannya saat tau Bumi adalah calon suami Nesya, dan hal lain tentang Buminya.
Ternyata Senja begitu mencintai Bumi. Dia sudah mencintai Bumi cukup lama. Bumi pun rasanya juga mencintai Senja. Karena itu Bumi terlihat sangat terpukul sekali saat di rumah sakit. Kalian ternyata memang saling mencintai, tapi kenapa kalian hanya diam saja selama ini? Batin Andika.
Andika menutup kembali diary Senja. Ia berencana akan memberikannya pada Bumi. Andika ingin Bumi tau bagaimana perasaan Senja pada Bumi selama ini. Dan ia berharap diary ini bisa sedikit menghibur hati Bumi.
***
Tak lama Jefri pun datang menghampiri mereka.
“Selamat siang, Tuan, Nyonya,” sapa Jefri sambil membungkukkan badannya sekilas.
“Selamat siang,” sahut Andika dan Liliana nyaris bersamaan.
“Jef, apa Tuan Muda mu itu dari tadi malam terus menerus disitu? Dia sudah makan siang?” tanya Andika penasaran.
Jefri pun menggelengkan kepalanya.
“Tuan Muda belum makan sama sekali sejak Nona Senja masuk ke rumah sakit ini, Tuan. Dia bahkan tidak bergerak sedikitpun dari kursi itu. Dia juga belum mandi, berganti pakaian, ataupun melakukan hal lain. Dia terus menerus berdiam diri disana,” jawab Jefri yang membuat Andika dan Liliana terkejut.
“Apa Tuan Dirgantara tau soal ini?” tanya Andika lagi.
“Saya barusan menelfon Tuan Dirgantara dan memberitahu soal ini. Beliau sedang dalam perjalanan menuju kesini,” jawab Jefri.
“Jef, kau yang paling dekat dengan Tuan Bumi kan, apa kau juga tau tentang perasaan mereka berdua?” tanya Andika penasaran. Sebab tak mungkin tidak ada apa-apa di antara mereka jika Bumi sampai merana seperti itu.
“Saya sebenarnya tidak ada hak untuk memberitahu Tuan tentang ini. Tapi saat ini kita semua bisa melihat sendiri, bagaimana kesedihan yang dialami Tuan Bumi saat Nona Senja sedang koma. Tidak mungkin bukan jika diantara mereka tidak apa-apa?”
Andika pun mengangguki perkataan Jefri. Ia semakin yakin mereka memang saling mencintai. Ia kembali melihat Bumi yang terdiam termenung melihat ke arah Senja. Lalu ia teringat diary Senja yang dia bawa. Ya, dia akan memakai diary Senja untuk membujuk Bumi agar mau makan, minum dan mandi.
.
Bersambung...