
Pagi ini wajah Senja tampak sangat cerah. Tidurnya tadi malam begitu nyenyak dan ketika bangun ia merasa semangat menjalani harinya. Jelas saja, perasaan yang selama ini mengganjal di dalam hatinya sudah ia ungkapkan. Dan beruntungnya, Bumi juga memiliki perasaan yang sama padanya. Itulah sebabnya ia tak henti-hentinya senyum-senyum sendiri saat sarapan pagi.
Liliana yang melihat anak gadisnya yang bertingkah aneh seperti itu menyenggol tangan suaminya lalu menunjuk Senja dengan dagunya. Andika menoleh ke arah anak gadisnya, memang benar Senja tampak tersenyum sendiri melihat roti di atas piringnya. Apa yang lucu dari roti itu?
Andika kembali melihat istrinya lalu mengangkat kedua bahunya. Ia juga tak mengerti mengapa Senja bertingkah seperti itu.
“Senja, apa rotimu itu lucu sampai kau tersenyum-senyum seperti itu?” tegur Liliana.
“Oh, tidak, Ma. Tidak kok,” sahut Senja terbata lalu kembali memakan rotinya.
“Anak gadis Mama ini seperti sedang terserang virus cinta saja senyum-senyum sendiri begitu.” Liliana masih berusaha membuat Senja untuk bercerita.
“Memangnya waktu Mama terserang virus cinta dari Papa, Mama suka senyum-senyum sendiri, ya?” Senja malah balik bertanya.
“Ya...begitulah kira-kira. Dunia serasa milik berdua. Yang lain cuma ngontrak. Sudahlah ngontrak, nunggak pula.” Liliana terkekeh sendiri dengan lelucon yang ia buat sambil melirik suaminya.
“Sudah, sudah, lanjutkan sarapannya. Setelah ini kita berangkat ke kantor,” kata Andika menyudahi.
“Tunggu dulu, Sayang. Mama masih penasaran. Anak Mama ini benar-benar sedang jatuh cinta, ya?” tanya Liliana penasaran.
“Hmmm...Senja tidak tau, Ma,” jawab Senja malu-malu.
“Kenapa tidak tau?” tanya Liliana lagi.
“Hmmm...ntahlah. Senja baru pertama merasakan hal seperti ini.”
Liliana baru akan bertanya lagi, suaminya sudah kembali menyudahi. “Sudah, sarapan dulu, pagi ini kita ada meeting, tidak boleh terlambat. Tanyanya nanti saja sepulang kerja. Ayo makan lagi.”
Liliana pun tak berani buka suara lagi. Tapi ia yakin sekali, anak gadisnya itu pasti sedang jatuh cinta. Tapi siapa yang membuatnya jatuh cinta? Apakah Dimas?
Sedangkan di tempat lain, Bumi pun tak kalah aneh tingkahnya. Jika beberapa hari ini ia susah makan bahkan jarang sekali makan, pagi ini ia justru makan cukup banyak dengan lahap. Ia terlihat begitu menikmati makanan yang dimasak ibu sambungnya itu.
“Ibu senang kau makan banyak seperti itu. Beberapa hari ini ibu perhatikan, kau jarang makan,” ucap ibu sambungnya sambil tersenyum hangat pada Bumi.
Bumi menghentikan makannya lalu menoleh ke arah ibunya. Awalnya wanita itu berpikir, Bumi tidak suka ditegur olehnya, tapi reaksi yang terjadi justru sebaliknya.
“Masakan ibu enak sekali. Terimakasih sudah menyiapkan makanan seenak ini, Bu,” kata Bumi sambil tersenyum manis.
Ibunya itu merasa sangat senang sekali akhirnya Bumi bisa bersikap seramah itu padanya. Biasanya Bumi lebih banyak diam dan cuek padanya. Bumi biasa juga memanggilnya dengan sebutan “ibu Vero”, karena menganggap Veronica hanya ibu sambungnya. Tapi lihatlah, pagi ini Bumi dengan hangat memanggilnya dengan sebutan “ibu" hingga Veronica merasa sangat bahagia dan tersentuh hatinya.
“Kalau kau suka, ibu bisa memasak tiap hari untukmu,” ucap ibunya dengan senang hati.
“Terserah ibu saja asal tidak merepotkan,” jawab Bumi lalu melanjutkan makannya.
Tuan Dirgantara dan Dimas yang menyaksikan keakraban mereka jadi ikut tersentuh. Bumi hari ini sangat berbeda dari biasanya. Ia seperti kembali menemukan cahaya hidupnya, hingga membuatnya lebih hangat dan ceria.
***
Senja tiba di kantor bersama ayahnya. Seperti biasa, ia akan langsung masuk ke dalam ruangannya. Ketika ia masuk ke dalam ruangan itu, ia terkejut karena sudah ada serangkaian bunga segar yang tersusun indah di dalam sebuah vas yang terletak di atas meja kerjanya. Tak hanya itu, ada juga kotak hadiah berwarna merah tergeletak disana.
Senja pun mengerutkan keningnya. Siapa yang masuk ke ruangannya dan memberi hadiah itu padanya?
Senja meletakkan tasnya di atas meja lalu mengambil kartu ucapan yang ada diatas kotak hadiah itu.
Disana tertulis :
Untuk Senjaku,
Dari Bumimu Lagitmu Dirgantaramu.
Senja pun tertawa kecil setelah membaca kartu ucapan itu. Ia duduk di kursinya sambil membaca ulang apa yang tertulis di kartu itu.
“Dia ini aneh sekali. Masa tidak ada ucapan apapun, sih. Dasar tidak romantis,” ucap Senja sambil senyum-senyum sendirian.
Senja pun membuka kotak hadiahnya. Ternyata isinya adalah sebuah jam tangan branded yang bertabur berlian di pinggirannya. Senja menggelengkan kepalanya. Tuan Muda satu ini memang luar biasa sekali seleranya. Baru sehari jadian saja sudah dikirimi hadiah seperti ini. Bagaimana kalau setahun? Bisa kayak mendadak tanpa perlu bekerja.
Eh, tunggu. Apa tadi? Jadian? Apa yang kemarin itu bisa disebut jadian? Hmmm...entahlah.
Tak lama handphone dalam tasnya berdering. Siapa lagi yang meneleponnya kalau bukan si pemberi hadiah itu.
“Hallo,” ucap Senja dengan lembut.
Senja terdiam sejenak. Ia menunggu Bumi bersuara menyahutnya. Tapi kenapa pria itu tidak ada suaranya?
“Hallo...” ucap Senja lagi dengan lebih keras.
“Bumi, apa kau baik-baik saja?” tanya Senja saat tak ada suara yang menjawabnya.
“Ya, aku baik-baik saja.” Akhirnya terdengar juga suara bariton Bumi dari seberang sana.
“Oh, maaf. Aku hanya mencoba menikmati suara merdumu. Ternyata suaramu lebih merdu saat ditelfon,” jawab Bumi mulai mengeluarkan rayuannya.
Senja pun tergelitik hatinya mendengar rayuan seperti itu. Mungkin itu hanya rayuan biasa, tapi karena yang mengucapkannya adalah seorang Tuan Muda Dirgantara, rasanya itu bukan sekedar rayuan tapi kejujuran.
Saking senangnya Senja sampai menggigit ujung jempolnya agar tak teriak-teriak kegirangan saat dipuji seperti itu.
“Senja, kenapa sekarang kau yang diam?” Bumi kini balik bertanya.
Ah, kau sudah merayuku, kau masih bertanya aku kenapa diam. Batin Senja.
“Hmmm...tidak kenapa-napa. Ngomong-ngomong terimakasih hadiahnya. Ini terlalu mewah untukku. Diberi bunga saja aku sudah merasa cukup,” ucap Senja malu-malu.
“Kau suka bunganya?”
“Ya, aku suka sekali. Bunganya cantik.”
“Kau yang lebih cantik.”
Ah...Bumi...kau kenapa jadi perayu seperti ini sih? Pekik Senja dalam hati.
Kalau tadi gigit jempol, ini sudah gigit ujung telunjuk. Jangan sampai habis ini gigit meja.
“Kau bisa saja. Kenapa sekarang kau suka merayuku seperti ini?”
“Aku tidak sedang merayu. Aku hanya berkata jujur.”
Hahhh...yang benar saja. Rasanya Senja butuh tambahan oksigen saat ini. Dadanya terasa sesak dipenuhi oleh kata-kata manis dari Buminya.
“Ya sudah, aku tidak mau mengganggumu bekerja. Selamat bekerja, Senjaku. Nanti sore kita melihat kembaranmu mau?”
“Hmm...baiklah,” jawab Senja malu-malu.
“Aku tutup dulu telfonnya. Aku mencintaimu, Senjaku,” ucap Bumi mengakhiri percakapan mereka.
Aku juga mencintaimu Bumiku, Lagitku, Dirgantaraku. Jawab Senja dalam hati.
Setelah menutup panggilannya, Bumi menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia kembali mengingat adegan romantis mereka di ujung jembatan kemarin. Ingin rasanya ia mengulangi adegan itu kembali sore ini. Tanpa sadar Bumi menyentuh bibirnya sendiri. Manisnya cherry dan harum strawberry seakan masih melekat kuat disana.
Tok. Tok. Tok.
Pintu ruangan diketuk dari luar. Muncullah Jefri dengan sebuah berkas di tangannya. Jefri pun meletakkan berkas itu di atas meja Bumi.
“Ini ada bukti terbaru tentang perselingkuhan Nona Nesya, Tuan. Bukti ini diambil tadi malam,” kata Jefri seraya menyerahkan bukti berupa foto-foto yang sudah ia cetak.
Bumi mengambil berkas itu dan membuka isinya. Dia sampai menghela nafas dengan kasar melihat betapa menjijikkannya Nesya yang sedang adu bibir dengan Marcel di foto-foto itu.
“Rencananya malam ini atau mungkin besok malam mereka akan menghabiskan waktu bersama di apartemen Marcel, Tuan,” kata Jefri lagi.
Bumi pun menutup berkas itu lalu mengembalikannya pada Jefri.
“Kumpulkan semua bukti-bukti ini. Jangan ada satupun yang terlewatkan! Hari ini kau harus mendapatkan akses masuk ke apartemen pria itu agar kita mudah menangkap basah mereka,” titah Bumi yang sudah tak sabar membuka kedok tunangannya sendiri.
“Sudah, Tuan. Bahkan siang ini orang suruhan kita sudah memasang kamera CCTV di dalam apartemen Marcel. Mereka menyamar sebagai petugas kebersihan apartemen,” ucap Jefri yang membuat Bumi tersenyum puas.
“Kau selalu bisa diandalkan!” puji Bumi yang tak pernah ragu atas kerja asistennya itu.
“Terimakasih, Tuan. Dan tentang hadiah untuk Nona Senja...”
“Dia sudah menerimanya,” potong Bumi. “Bulan depan kau akan mendapat bonus dua kali gaji,” tambah Bumi.
Yesss! Jefri bersorak dalam hati.
“Terimakasih, Tuan. Kalau begitu saya permisi dulu,” kata Jefri yang diangguki oleh Bumi.
Dengan perasaan berbunga-bunga Jefri pun meninggalkan ruangan kerja bosnya.
.
Bersambung...
.
Hai semua, kenalkan aku Jefri. Orang yang selalu setia menjaga keharmonisan cinta Tuan Muda Dirgantara dan Nona Senja, serta menjaga author kesayangan kita dari para pembaca yang selalu demo minta up ✌ Btw author-nya lagi kurang sehat hari ini, jadi mungkin akan jarang up sampai sehat kembali. Terus setia dukung novel ini ya.
Oh ya, aku lagi ngopi sendiri nih, apa ada yang mau menemani?