Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
26. Kenapa Bukan Kau Yang Menjadi Jodohku?


Sore itu Senja pulang dari kantornya sekitar pukul 5 sore. Ia bukannya langsung pulang ke rumah melainkan singgah dulu ke pantai untuk melihat matahari terbenam lagi.  


Sesampainya disana, ia mendapati sesosok pria yang ia kenal sudah duduk di ujung jembatan sendirian. Padahal hari ini mereka tidak membuat janji untuk bertemu. Tapi pria itu sudah berada disitu saja.


“Kenapa kau datang kesini juga?” tanya Senja lalu duduk di samping pria itu. Tidak lupa ia membuka sepatunya agar bisa menjuntaikan kakinya ke bawah.


“Seharusnya aku yang bertanya soal itu. Aku yang lebih dulu datang kesini,” jawab pria itu yang tak lain adalah Bumi.


“Ini kan sudah jadi aktivitasku hampir setiap hari. Melihat matahari terbenam. Apa sekarang kau juga menyukai hal ini?” tanya Senja lagi. 


“Entahlah. Mungkin,” jawab Bumi singkat.


“Kenapa entahlah? Seharusnya kau bisa memastikan mana yang kau sukai dan mana yang tidak. Bukan menjawab entahlah,” ucap Senja.


Bumi menoleh ke arah Senja. Dia rasa apa yang dikatakan Senja ada benarnya. Bahkan untuk hal seperti ini saja dia sulit menentukan apakah dia menyukainya atau tidak. Apalagi soal memilih pasangan hidup, ia masih sangat tidak mengerti akan perasaannya.


“Senja,” panggil Bumi.


“Ya? Ada apa?” tanya Senja sambil menoleh ke arah Bumi.


“Kenapa ibumu dulu tidak dekat dengan ibuku?” tanya Bumi yang membuat Senja mengerutkan dahinya. Senja bingung kenapa pertanyaan Bumi sangat jauh melenceng kesana.


“Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu? Aneh sekali.” Bukannya menjawab, Senja malah balik bertanya.


“Kalau ditanya, itu dijawab dulu. Bukan bertanya balik,” kata Bumi.


“Habisnya kau itu aneh sekali. Aku tidak mengerti kenapa kau bertanya tentang hal itu,” gerutu Senja.


“Kalau tidak tau, tinggal bilang saja tidak tau, Senja,” ucap Bumi mulai kesal.


“Memang aku tidak begitu tau. Tapi mamaku pernah cerita, dulu ibumu dan mamanya kak Nesya itu pernah ikut kelas menjahit bersama, karena mereka sangat suka dengan fashion. Berbeda dengan mamaku. Mamaku malah ikut kelas memasak, karena itu memang hobinya dari dulu sampai sekarang,” kelas Senja.


“Jadi karena itu ibuku lebih dekat dengan ibunya Nesya?” tanya Bumi.


“Aku rasa begitu. Lagipula mereka seumuran. Mamaku lebih muda dua tahun dari mereka. Papaku beruntung mendapat istri yang lebih muda darinya,” jawab Senja sambil terkekeh.


Bumi pun mengacak gemas rambutnya Senja. Ia senang sekali bisa melihat Senja tertawa seperti itu. Senyum kebahagiaan yang terpancar dari wajahnya sangat menular. Melihatnya saja, Bumi juga ikut merasakan kebahagiaannya.


Seandainya orang tua kita dulunya berteman, pasti kau yang dijodohkan untukku, Senja. Kenapa bukan kau saja yang menjadi jodohku? Kalau kau yang dijodohkan untukku, aku tidak akan mengulur waktu lebih lama lagi. Aku akan segera melamarmu dan membuat ikatan di antara kita, Senja. Ucap Bumi dalam hati.


“Eh, lihat. Mataharinya sudah hampir terbenam,” ucap Senja sambil menunjuk ke arah depan.


“Ayo, berdiri, cepat!” seru Senja.


Bumi pun mengikuti arahan dari Senja. Kemudian Senja mengulurkan sebelah tangannya pada Bumi. Tanpa ragu Bumi pun menyambut uluran tangan itu. Senja tersenyum ke arah Bumi, begitu juga dengan sebaliknya.


Saat mereka sama-sama melihat ke depan, matahari pun perlahan mulai tenggelam di ujung lautan, bertemankan kicauan burung yang kembali ke rumahnya, dan riak gelombang yang berkejaran di lautan.


Senja menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya. “Semoga aku selalu diberi kesempatan untuk menyaksikan keindahan alam ini,” ucap Senja.


“Kita,” koreksi Bumi.


Senja mengernyitkan keningnya karena tak paham apa maksud perkataan Bumi.


“Semoga kita selalu diberi kesempatan untuk menyaksikan matahari terbenam bersama,” ulang Bumi dengan lebih jelas.


Senja pun mengangguk. Melihat matahari terbenam bersama seseorang memang lebih menyenangkan daripada sendirian saja.


“Pulang sekarang?” tanya Senja.


Bumi menggeleng. “Kita makan dulu. Aku lapar. Kau tidak lapar?”


“Makan malam maksudmu?” tanya Senja.


“Iya. Kita makan malam dulu. Setelah itu baru kita pulang. Kau mau?”


“Kalau aku tidak mau, bagaimana?”


“Aku akan memaksa,” jawab Bumi yang membuat Senja tertawa.


“Aku tidak berani melawan Tuan Muda Dirgantara. Nanti kerjasama perusahaan papaku dibatalkan pula. Ihhhh, takut,” ledek Senja lalu berlari meninggalkan Bumi.


Bumi hanya melihat Senja yang berlari tanpa menggunakan sepatunya. Bumi pun mengambil sepatu Senja yang tertinggal lalu berjalan menyusul Senja.


***


Hai semua 🤗 Jangan lupa like setelah membaca, ya. Agar penulis semangat update-nya 🤗


Happy reading 💙