Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
112. Bumi Tanpa Senja


Bumi yang begitu lelah sampai tertidur di atas sofa sambil memeluk diary Senja. Dia bukan hanya tertidur karena kelelahan tapi karena obat tidur yang dicampurkan oleh Tuan Dirgantara ke dalam makanannya. Ayahnya terpaksa melakukan itu agar ia mau beristirahat. Jika tidak begitu, ia tak akan mau tidur walaupun sekejap. Ayahnya tak mau nanti dia yang malah jatuh sakit karena kelelahan.


Sudah beberapa jam ia tertidur, matanya kembali bergerak lalu terbuka. Ia terkejut karena merasa sudah tertidur cukup lama. Ia melihat ada asistennya duduk di sofa lain dengan Andika sambil mengobrol. Sementara Liliana duduk di kursi yang ada di samping ranjang Senja.


Bumi menyibakkan selimut yang menutupi dirinya. Ia membetulkan posisi duduknya lalu meletakkan kakinya yang tadi di atas sofa kini turun ke lantai.


“Kau sudah bangun? Istirahatmu nyaman?” tanya Andika basa-basi.


Bumi malah menatap tajam ke arah Jefri.


“Kau menaruh sesuatu ke dalam makananku?” tanya Bumi dengan penuh intimidasi.


Gleg.


Jefri menelan salivanya dengan susah payah. Kali ini terpaksa ia berbohong demi keselamatan bersama.


“Tidak, Tuan. Saya tidak menaruh apa-apa,” jawab Jefri.


Memang bukan saya yang menaruhnya, tapi Tuan Dirgantara. Tambah Jefri dalam hati.


“Kenapa Bumi? Apa kepalamu pusing?” Andika pura-pura mengalihkan pembicaraan mereka.


Bumi pun menggeleng. “Tidak. Saya baik-baik saja.”


Jefri pun bernafas lega. Ternyata Tuan Mudanya itu sulit sekali diperdaya. Ia bahkan bisa menebak kalau ada sesuatu dalam makanannya. Bumi tentu saja curiga makanannya diletakkan obat tidur. Setelah makan dan membaca diary Senja sebentar, dia langsung tertidur sangat pulas selama berjam-jam. Ia tak biasa seperti itu. Apalagi dia sudah bertekad ingin menjaga Senja. Tak mungkin tiba-tiba ia tertidur lama begitu saja.


Bumi pun beranjak ke kamar mandi lalu mencuci mukanya. Selanjutnya ia meminta bertukar tempat duduk dengan Liliana dan wanita itu pun mengijinkannya.


“Bumi, kami pamit dulu. Ini sudah malam. Saya harap kau tidak lupa untuk makan malam. Besok pagi kami akan kembali lagi kesini. Kita gantian menjaga Senja. Kau berjaga saat malam, biar siang kami yang jaga,” ucap Andika.


“Tidak. Saya saja,” bantah Bumi singkat.


Andika hendak berbicara lagi, tapi Liliana mencegahnya. Percuma bernegosiasi dengannya saat itu.


“Baiklah, kalau begitu kami pulang dulu. Kami titip Senja padamu. Ingat, kau akan menjaga Senja, jadi kau juga harus kuat. Kuat fisik dan juga mental. Kalau lelah, istirahatlah,” ucap Liliana kemudian.


Bumi pun akhirnya mengangguk. Barulah Andika dan Liliana pergi meninggalkan rumah sakit. Setelah mereka pergi, Bumi juga mengusir Jefri. Ia tak mau ada orang lain selain dirinya yang menjaga Senjanya.


Jefri pun menuruti kemauan Tuan Mudanya itu. Ia pergi meninggalkan rumah sakit tapi ada dua bodyguard lain yang siap berjaga di depan kamar tempat Senja dirawat.


Suasana di kamar itu kembali sepi. Hanya terdengar bunyi dari alat yang mendeteksi detak jantung Senja. Bunyinya masih beraturan seperti biasa. Cukuplah untuk memecah keheningan malam.


Bumi pun kembali mengambil diary Senja dan sebuah pena yang terselip di samping buku itu. Ia membuka penutup pena seolah ingin menulis sesuatu.


“Senja, aku pinjam ya. Aku ingin menulis sesuatu,” ijin Bumi pada Senja yang masih tak sadarkan diri. Ia pun mulai menuliskan sesuatu disana sambil sesekali menoleh ke arah Senja.


Bumi Tanpa Senja,


Adalah aku tanpa dirimu seperti raga yang kehilangan jiwanya.


Bumi Tanpa Senja,


Adalah aku tanpa dirimu seperti matahari yang kehilangan cahayanya.


Bumi Tanpa Senja,


Adalah aku tanpa dirimu seperti Cherry yang kehilangan manisnya, dan strawberry yang kehilangan harumnya.


Bumi Tanpa Senja,


Adalah aku tanpa dirimu yang masih hidup tapi seperti tak bernyawa.


Bumi Tanpa Senja,


Adalah aku yang baru meraih cintamu lalu kau tinggalkan begitu saja.


Tidak kah kau tau bahwa bumi tak akan pernah indah tanpa senjanya?


Kembalilah lagi dengan cahayamu yang merah jingga.


Setialah selalu pada Bumimu ini, Senjaku.


Aku akan terus dan terus menunggumu cahaya cintamu di sepanjang hidupku.  


.


Bersambung...