Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
68. Menari di Tengah Rindu


Kini acara pertunangan itu memasuki acara paling akhir yaitu berdansa bersama pasangan. Bumi tidak menyangka akan ada acara seperti ini segala. Dia merasa menyesal tidak memeriksa dulu draft acara pertunangannya dan mempercayakan Nesya untuk mengatur acara itu sesuai keinginannya.


Suara MC sebagai pemandu acara memanggil Bumi dan Nesya untuk turun ke lantai dansa. Dengan langkah yang sangat berat Bumi terpaksa mengikuti arahan dari MC tersebut. Tidak mungkin dia menolak permintaan itu, apalagi saat ini semua mata tertuju kepada dirinya dan Nesya.


Pemandangan itu tentunya tak luput dari penglihatan Senja. Rasa iri pun menyelimuti dirinya. Dalam hatinya, ia ingin menggantikan posisi Nesya disana. Tapi kemudian ia menggelengkan kepalanya. Ia begitu bodoh jika menginginkan hal itu terjadi. Mereka sudah sah bertunangan, lalu apa lagi yang masih ia harapkan?


Alunan musik pun mulai dimainkan. Nesya yang melihat Bumi hanya berdiri tegak, langsung berinisiatif untuk meletakkan kedua tangannya di pundak Bumi. Ah, rasanya senang sekali bisa menyentuh pria itu apalagi dengan jarak sedekat ini!


“Bumi, musiknya sudah mulai. Kita harus berdansa sekarang,” ucap Nesya dengan suara pelan saat merasakan Bumi tak juga bereaksi apa-apa.


Bumi bukan mempedulikan Nesya tapi malah melihat ke arah Senja yang juga sedang menatapnya. Saat tatapan mata itu bertemu, Senja dengan cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


“Bumi...” panggil Nesya lagi.


Bumi tampak menghembuskan nafas dengan kasar. Dia merasa jengah dengan semua acara di pertunangannya ini. Bukannya bahagia ia malah merasa tersiksa.


Dengan berat hati Bumi mengangkat tangannya dan meletakkannya di pinggang Nesya. Nesya pun bersorak dalam hati. Ini memang salah satu keinginannya. Kalau sudah begini Bumi tidak bisa menghindar darinya lagi.


Mereka pun akhirnya mulai berdansa. Hanya sekedar bergerak ke kiri dan ke kanan mengikuti musik yang mengalun indah. Para tamu yang datang kembali bertepuk tangan melihat adegan mesra yang ditunjukkan oleh kedua pasangan tersebut. Senyum bahagia tampak mengembang di wajah Nesya. Ia sangat senang bisa dekat seperti ini dengan Bumi hingga aroma parfum maskulin dari Bumi dapat tercium dengan jelas di indra penciumannya.


Saat ini, kau boleh saja bersikap dingin padaku, Bumi. Tapi aku tidak akan biarkan itu berlangsung lama. Aku akan terus mendekatimu hingga kau jatuh ke pelukanku dan tidak bisa lepas lagi dariku. Lihat saja nanti, apa yang akan aku lakukan untuk menjeratmu masuk dalam pelukanku. Batin Nesya.


Senja yang sedang duduk bersama keluarganya mendadak terkejut saat Dimas menghampirinya lalu membungkuk dan mengulurkan tangan seolah meminta Senja berdansa dengannya.


“Maukah berdansa denganku?” ajak Dimas dengan satu tangan yang terulur.


“A-aku.....”


“Sudah, ayo berdansa dengan Dimas sana! Tidak baik menolak ajakannya. Dia akan malu.” Liliana dengan cepat mendukung agar Senja mau menerima ajakan Dimas.


Senja melirik pada ayahnya, ayahnya pun mengangguk tanda menyetujui. Dengan malu-malu Senja meraih tangan Dimas dan bangun dari duduknya.


Dimas menuntun Senja untuk turun ke lantai dansa. Satu tangannya ia letakkan di pinggang ramping Senja, dan satu tangan lain menggenggam tangan Senja dengan erat. Lalu mereka pun mulai berdansa.


Hal itu tentu saja menyita perhatian para tamu. Mereka kembali bersorak dan bertepuk tangan melihat Dimas dan Senja yang sedang berdansa. Bahkan menurut mereka pasangan Dimas dan Senja lah yang lebih romantis dari pasangan yang sedang bertunangan itu. Lihatlah, mereka berdansa sambil tersenyum bahkan sesekali terlihat saling membisikkan sesuatu.


Bumi tentu saja terbakar api cemburu melihat kemesraan Dimas dan Senja. Baginya, Dimas sengaja menabuh genderang perang padanya. Sayangnya dia tak bisa berbuat apa-apa. Kalau dia mengamuk pada saat itu, rasanya akan tampak aneh dan bodoh. Ada tunangan sendiri di depan mata, tapi dia malah fokus pada gadis lain. Saat ini ia hanya bisa sabar sambil menahan emosinya.


“Sayang, aku jadi ingin ikut berdansa karena melihat mereka,” bisik Liliana pada Andika.


“As you wish, Sayang,” sahut Andika sambil mengulurkan tangannya kepada Liliana dan menuntunnya untuk berdansa.


Melihat kakaknya turun berdansa, Adrian tergelitik untuk mengikuti jejak mereka.


“Aku rasa kita sudah lama tidak berdansa. Maukah kau berdansa denganku?” ajak Adrian pada istrinya.


Tari pun tersenyum lalu mengangguk. Mereka pun ikut turun ke lantai dansa.


Terakhir ada pasangan Tuan Dirgantara dan juga istrinya. Pasangan ini juga yang paling disorot oleh para tamu undangan. Jarang sekali rasanya seorang Tuan Dirgantara mau ikut berdansa. Tapi untuk memeriahkan pesta pertunangan anaknya, ia tak ragu untuk berdansa bersama istrinya.


Mereka berdansa dengan pasangan masing-masing. Tampak raut kebahagiaan dari setiap pasangan itu kecuali Bumi tentunya. Tidak terlihat segaris pun senyuman di wajahnya. Matanya malah tak berhenti memandang ke arah Senja dan Dimas yang sedang asik berdansa.


Di sisi lain ada Jefri yang berdiri tegak memperhatikan tuannya. Jefri tau tuannya itu merasa tidak nyaman. Interaksi antara Bumi dan Nesya sangat berbeda ketika Bumi bersama Senja.


Sedang asik memperhatikan tuannya, tiba-tiba Jefri mendengar seorang gadis mengeluh dari belakang.


“Nasib...nasib... beginilah nasib tidak punya pasangan. Berdansa saja tidak ada yang mengajak,” keluh seorang gadis yang tak lain adalah Viona.


Jefri tak bisa menahan tawanya. Ia terbahak mendengar keluhan Viona sehingga gadis itu mendelik padanya.


“Kenapa kau menertawaiku? Kau seperti punya pasangan saja,” sindir Viona dengan kesal.


“Dih, jomblo juga pakai acara meledek segala! Kasian tidak punya pasangan!”


“Kasian tidak ada yang mengajak berdansa!”


“Kau berani meledekku?”


“Tidak. Buat apa meledek gadis kecil?!”


“Kau..... kau menyebalkan!”


Viona membuang pandangannya ke arah lain lalu melirik kembali ke arah Jefri.


“Kenapa? Nona mau mengajak saya berdansa? Saya tidak mau,” kata Jefri yang seolah dapat menebak isi hati Viona.


“Dih, kepedean! Aku juga tidak mau berdansa denganmu!” ketus Viona lalu membuang pandangannya ke arah lain lagi. Padahal dia sempat berharap Jefri akan menawarkannya untuk berdansa bersama.


***


Alunan musik yang indah terus mengiringi pasangan-pasangan yang sedang berdansa itu. Semakin lama semakin banyak juga pasangan lain yang ikut bergabung untuk berdansa. Hingga tiba saatnya sang wanita berputar dan berganti pasangan, lalu...


Hap!


Senja jatuh ke pelukan Bumi nya.


Deg deg deg.


Jantung mereka sama-sama berdetak kencang ketika tatapan mata itu kembali bertemu. Dunia di sekitar mereka seakan berhenti berputar hingga membawa mereka pada kenangan beberapa bulan lalu dimana Bumi memeluk Senja untuk pertama kalinya.


Seperti ada getaran jiwa yang hebat membuncah di dada yang mengunci mulut mereka untuk saling berbicara. Keduanya hening tanpa kata, hanya bisa berbicara lewat tatapan mata.


Jika pasangan yang lain sudah dari tadi kembali bergerak untuk berdansa. Maka berbeda dengan mereka yang hanya mematung dengan posisi yang sangat intim. Kedua tangan Bumi bukan hanya memegang pinggang Senja tapi bahkan memeluknya. Sedangkan Senja meletakkan kedua tangannya di pundak Bumi.


“Apa kita akan terus seperti ini?” tanya Senja ragu-ragu.


“Aku bahkan tidak keberatan jika terus seperti ini seumur hidupku,” jawab Bumi yang berhasil membuat Senja merona malu.


“Aku rasa kau memelukku terlalu erat,” ucap Senja dengan pelan.


“Apa kau tidak nyaman?” tanya Bumi sambil melihat ke arah Senja yang mulai menunduk malu-malu.


“Hmmm...tidak enak dilihat yang lain,” jawab Senja.


“Baiklah. Mari kita mulai berdansa. Berdansa di tengah rindu.”


Sontak Senja medongak ke atas mendengar perkataan Bumi barusan sehingga jarak wajah keduanya semakin dekat saja.


Mata Bumi terfokus pada bibir ranum merah muda milik Senja. Bibir yang selalu tak sabar ingin ia rasa bagaimana manisnya. Kalau tanda bibirnya yang melekat di sapu tangan saja terasa begitu harum dan manis, apalagi kalau dapat merasakannya langsung.


“Berdansa di tengah rindu? Apa maksudmu?” tanya Senja kebingungan.


“Sudah aku bilang padamu tadi kan, aku merindukanmu.”


Belum sempat Senja bicara lagi, Bumi langsung memulai dansanya. Ia mengarahkan Senja untuk berputar lalu dengan sigap ia menyambutnya. Ah, ini gerakan yang paling Bumi suka. Saat dimana Senja berkali-kali jatuh ke pelukannya. Lama-lama mereka berdua semakin menikmati alunan musik yang tercipta. Mereka terus menari di tengah rindu di antara mereka.


Nesya yang dari tadi berganti dansa dengan Dimas, terus memperhatikan kedekatan Bumi dan Senja. Mereka terlihat begitu mesra. Tadi saat berdansa dengannya, Bumi tak sedikitpun mau menatapnya lama-lama. Tapi lihatlah ketika bersama Senja, mereka seakan merasa dunia ini milik berdua. Tak sadar kah Bumi kalau saat ini dia sudah menjadi tunangan Nesya? Tak dipungkiri Nesya mulai cemburu dengan kedekatan Bumi dan Senja.


Bersambung...