Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
109. Bumi Yang Merindukan Senja


Malam telah berganti dengan pagi. Rembulan sudah bertukar tempat dengan matahari. Tapi disini, di hati seorang pria yang menunggu kekasihnya untuk sadar, malam ataupun pagi tetap saja tak ada bedanya. Semua seakan sama. Masih sama-sama gelap karena ia sudah kehilangan cahayanya lagi. Lagi, untuk yang kedua kali.


Bumi duduk di kursi yang tepat berada di samping ranjang rumah sakit dimana Senja terbaring tanpa suara. Bahkan hembusan nafas dari hidungnya pun makin tak kentara suaranya. Setelah Senja dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP yang khusus untuk keluarga Dirgantara, Bumi tak pernah meninggalkan Senja walau sedetikpun. Dalam hatinya ia selalu berharap. Ketika Senja terbangun, maka dia lah orang pertama yang harus dilihat oleh Senjanya.


Andika dan Liliana sudah pulang ke rumah tadi subuh. Liliana dalam kondisi yang sangat terpukul. Ia bahkan sempat pingsan saat pertama kali melihat kondisi Senja. Untuk itu, mereka pulang dulu sebentar ke rumah, dan berjanji nanti siang akan kembali lagi.


Sejak tadi malam sepertinya belum sedikitpun Bumi memejamkan matanya. Ia tak merasa kantuk sama sekali. Ia selalu ingin melihat Senja. Ia terus memperhatikan Senja seperti ini. Duduk diam di kursi tanpa bersuara dengan mata yang terus tertuju pada Senja. Matanya yang sembab dan sayu terus melihat ke wajah kekasihnya yang sedang tertidur pulas dengan alat pernapasan terpasang disana.


Satu tangannya terulur menyentuh tangan Senja yang terpasang jarum infus. Diusap-usapnya punggung tangan itu dengan lembut sama seperti yang pernah ia lakukan dahulu. Lalu ia kembali menatap wajah Senja, tanpa berhenti mengusap tangannya.


“Senjaku, apa jarum infus ini menyakiti tanganmu? Bilang padaku kalau ada yang sakit, aku akan minta dokter untuk memeriksanya,” ucap Bumi berbicara pada Senja yang tak sadarkan diri.


“Senja... jangan tidur terlalu lama. Disini ada Bumi yang merindukanmu. Bumi ini merindukan cahaya indahmu. Aku merindukan suaramu. Aku rindu menelfonmu di pagi hari. Mendengar kau bilang halo saja, membuat hatiku bergetar, dan aku mau mendengar itu lagi dari mulutmu...”


Tes.


Airmatanya mulai berjatuhan lagi.


“Senja... katakan padaku kau suka hadiah apa lagi? Akan aku kirim semua hadiah terbaik untukmu. Kau suka bunga warna apa? Aku akan membuat taman bunga yang indah untukmu kalau kau mau. Kau suka bunga dariku kan? Hari ini aku akan meminta Jefri membelikan bunga lagi untukmu, Senja. Maaf bukan aku yang membelinya langsung. Aku hanya tidak mau meninggalkanmu lagi. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu, Senja. Aku tidak akan membiarkanmu pergi kemana-mana sendiri....”


“Kau juga harus berjanji padaku, Senja. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku sendirian disini. Apa jadinya bumi tanpa senja? Tentu tidak ada lagi keindahan di dalamnya. Sama sepertiku, Senja. Aku tanpamu, bagai raga yang kehilangan jiwanya.”


Bumi pun mendekatkan hidungnya mencium punggung tangan Senja. Tangan itu menjadi basah karena airmatanya. Setiap ia berdialog dengan Senja, airmatanya terus mengalir tanpa henti tanpa mampu ia tahan lagi. Mata yang baru saja mengering kini sudah kembali basah lagi. Hidungnya juga bahkan tampak memerah dan basah. Ia tak kuasa menahan kesedihannya saat ini.


Di depan celah kaca kecil di pintu, Tuan Dirgantara melihat kesedihan putra kandungnya itu. Airmatanya pun ikut menetes melihat putranya bersedih kembali. Baru saja Tuan Muda yang dingin itu kembali ceria dan berwarna hidupnya, tapi sekarang awan mendung malah kembali menyelimutinya.


Terakhir kali Tuan Dirgantara melihat Bumi seperti itu saat kepergian ibu kandungnya. Bumi kecil menangis berhari-hari dan sering mengurung diri di dalam kamarnya. Bumi kecil yang dulu ceria tumbuh menjadi pria yang pendiam dan dingin hingga ia dewasa. Sampai pada akhirnya ia menemukan cahaya senja dalam hidupnya, ia kembali ceria dan berubah sering tersenyum.


“Tuan,” sapa Jefri yang melihat Tuan besarnya meneteskan airmata.


Tuan Dirgantara melihat ke arah Jefri yang mengulurkan sebuah sapu tangan padanya. Ia pun mengambil sapu tangan itu dan menyeka airmatanya.


“Terimakasih,” ucap Tuan Dirgantara.


“Sama-sama, Tuan. Apa Tuan butuh sesuatu?” tanya Jefri.


“Jef, kau yang paling dekat dengan anakku saat ini. Aku minta tolong awasi dia terus, aku tidak mau dia malah sakit akhirnya. Dokter yang berjaga disini bilang, Bumi bahkan belum tidur sama sekali dari tadi malam. Tolong bantu aku membujuknya nanti. Sekarang......”


Tuan Dirgantara beralih melihat ke arah Bumi lagi. Lalu melanjutkan perkataannya. “Sekarang biarkan dia seperti itu dulu. Aku tau dia sangat sedih saat ini. Siang nanti kalau keluarga Tuan Andika sudah datang, tolong bantu bujuk dia agar mau istirahat sebentar.”


“Baik, Tuan. Saya akan melakukannya,” jawab Jefri dengan patuh.


Tuan Dirgantara mengangguk lalu menepuk pundak Jefri. Kemudian ia pun pergi meninggalkan rumah sakit itu dan kembali ke rumahnya.


Jefri ikut mengintip Tuan Mudanya dari depan pintu. Memang benar, pria itu tampak sangat terpukul dan pilu. Dia saja yang melihat keadaan Bumi saat ini bisa merasakan kesedihan yang Bumi alami. Apalagi Bumi sendiri yang harus merasakan kesedihan karena kekasih yang dicintainya terbaring lemah tak berdaya dalam keadaan koma.


Hati Jefri ikut berdenyut mengingat kembali kejadian saat Bumi dan Senja mengunjungi tanah tempat mereka akan membangun rumah sakit. Saat itu mereka tampak sangat bahagia. Jefri pun sampai iri melihat mereka. Ia bahkan ingin juga merasakan yang namanya jatuh cinta. Tapi lihatlah saat ini, cinta yang tadi membuat mereka bahagia, juga bisa membuat mereka bersedih dan terluka.


.


Bersambung...