Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
121. Masih Ada Kesempatan


Di sebuah rumah sakit yang berbeda, rumah sakit yang menangani pasien dengan gangguan jiwa, ada seorang wanita yang duduk melamun di kursi taman yang ada disana. Rambut panjangnya tampak usang tergerai begitu saja. Tatapan matanya yang kosong seolah sedang berkelana jauh entah kemana. Dia adalah Nesya yang sudah dua bulan ini menjadi pasien di rumah sakit itu.


Selama dua bulan itu, baik Adrian atau Tari sebagai orang tuanya tak pernah absen untuk mengunjungi putri semata wayang mereka setiap hari. Terlepas dari kesalahan yang telah ia perbuat, Nesya tetaplah darah daging mereka. Ada darah mereka yang mengalir di dalam setiap denyutan nadinya. Tak hanya kedua orang tuanya saja, Marcel pun cukup sering mengunjunginya dan memberikan semangat padanya.


Semenjak Nesya masuk ke rumah sakit itu, Marcel semakin akrab dengan keluarga Adrian. Bahkan perusahaan mereka kini mengadakan kerjasama. Hal itu sengaja Marcel lakukan agar kepulangannya ke Amerika bisa ditunda lebih lama. Adrian sudah banyak bercerita tentang Nesya dan keluarganya pada Marcel. Marcel pun semakin menaruh kasihan pada Nesya. Walau bagaimanapun, mereka sering melakukan hubungan bersama, tak dipungkiri, ada ketertarikan dalam diri Marcel pada Nesya.


Sore ini Marcel kembali menjenguk Nesya dengan satu buket bunga di tangannya. Ia berjalan menghampiri Nesya yang tengah duduk sendiri di kursi taman. Ia berlutut di depan Nesya dan meletakkan bunga yang ia bawa di atas paha Nesya.


“Hai, Baby. How are you today? Kau selalu terlihat cantik seperti biasanya,” ucap Marcel sambil menyelipkan rambut Nesya ke belakang telinganya.


Nesya tampak diam. Pandangannya masih lurus ke depan, tidak menatap mata lawan bicaranya.


“Aku membawakan bunga untukmu. Aku harap kau menyukainya. Atau mungkin kau mau aku membawakan sesuatu untukmu? Kau bisa katakan padaku apapun yang kau mau, selama itu memungkinkan, aku akan membawakannya untukmu,” ucap Marcel lagi yang masih menatap Nesya.


Nesya masih tak menjawab apa-apa. Pandangan matanya masih kosong seperti biasa. Marcel tak menyerah. Ia beranjak duduk tepat di samping Nesya.


“Oh ya Nesya, kau tau, aku dan papamu menjalin kerjasama perusahaan. Kau masih ingat tidak? Dulu kau sempat bertanya padaku kenapa aku tidak bekerjasama dengan perusahaan papamu, dan sekarang kami berdua sudah melakukannya. Aku makin hari makin dekat dengan papamu. Beliau malah menganggapku sudah seperti anaknya sendiri,” Marcel berhenti sejenak menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


“Aku disini hanya seorang diri. Aku juga senang menganggap orang tuamu seperti orang tuaku sendiri,” ucap Marcel sambil menoleh ke arah Nesya.


Lalu Marcel meraih tangan Nesya dan menggenggamnya dengan erat meskipun Nesya tak sedikitpun menoleh padanya.


“Nesya, semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. Termasuk aku dan juga dirimu. Selama kita masih hidup dan bernyawa, masih ada kesempatan bagi kita untuk menebus kesalahan itu dan merubah diri untuk menjadi lebih baik lagi...”


“Aku akan terus di sampingmu dan memberi dukungan untukmu agar bisa segera sembuh dan kembali menata hidupmu. Atau kalau kau mau, kita bisa pindah ke luar negeri dan memulai kehidupan yang baru disana. Tapi berjanjilah agar kau mau merubah diri dan selalu setia berjalan di sampingku seberat apapun cobaan hidup kita nanti.”


Marcel merasa terharu dengan kata-katanya sendiri. Dan semakin bertambah harus saat melihat wanita di depannya tidak meresponse apa-apa. Ia pun langsung meraih Nesya masuk ke dalam pelukannya. Sesekali ia mencium puncak kepala Nesya dengan matanya yang sudah mulai memerah.


“Permisi, Tuan. Jam besuk sudah selesai. Pasien sudah harus kembali ke ruangannya,” ucap salah seorang perawat disana yang tiba-tiba datang memisahkan mereka.


“Oke. Baik, suster,” sahut Marcel.


Ia pun melepas pelukannya dan mengusap rambut Nesya. “Aku pulang dulu. Besok aku akan datang lagi. Jaga dirimu baik-baik, Baby,” ucap Marcel lalu pergi meninggalkan tempat itu.


Setelah Marcel pergi dari sana, tampak bulir-bulir airmata jatuh dari pelupuk mata Nesya yang sudah tak bisa dibendungnya lagi. Pandangan mata yang tadi kosong, kini melukiskan penyesalan dan kesedihan di saat yang bersamaan.


.


Bersambung...