Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
96. Pengakuan Nesya dan Marcel


Nesya mengerjapkan matanya beberapa kali. Cahaya matahari yang masuk dari celah jendela yang terbuka membuatnya terbangun dari tidurnya. Saat pertama kali membuka mata, yang ia ingat adalah permintaan Bumi untuk membatalkan pertunangan mereka.


“Kau sudah bangun?” tanya Marcel yang baru masuk dalam kamar dengan membawa secangkir teh hangat dan roti isi tuna buatannya.


Kemudian Marcel meletakkan nampan berisi makanan ke atas nakas di samping tempat tidur, lalu ia duduk di sisi ranjang melihat Nesya yang sepertinya tak bersemangat bangun pagi ini. Ia merasa kasihan melihat Nesya seperti itu. Mata Nesya pun masih terlihat sedikit bengkak karena terlalu banyak menangis tadi malam.


“Kau sudah bangun dari tadi? Jam berapa sekarang?” tanya Nesya yang sudah duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


“Sekarang sudah jam delapan. Aku sudah bangun dari jam tujuh tadi,” jawab Marcel.


“Oh...”


Hanya oh saja yang mampu Nesya ucapkan saat ini. Kemudian ia kembali diam dengan banyak pikiran yang ada di kepalanya. Marcel mengerti, wanita di depannya ini pasti masih memikirkan kejadian tadi malam.


“Nesya, kau pasti bisa melewati masalah ini,” ucap Marcel tiba-tiba.


“Bagaimana aku melewatinya sedangkan aku sendiri masih bingung bagaimana cara memberitahu papaku soal permintaan Bumi? Aku tidak tau harus mulai darimana,” keluh Nesya.


“Sebaiknya kau jujur saja. Aku akan membantumu menjelaskan pada papamu,” usul Marcel.


“Jujur? Apa kau gila? Kau memintaku jujur pada orang tuaku kalau kita sudah tidur bersama?” kata Nesya dengan nada yang tinggi.


“Hei, tenang, Baby! Tenang dulu. Maksudku begini, kau tinggal bilang kita sudah berpacaran lama, kau tidak mencintai Bumi, begitu juga sebaliknya. Lalu kau ingin membatalkan pertunangan ini. Begitu saja,” kata Marcel menjelaskan.


“Tapi aku masih belum rela membatalkan pertunanganku dan Bumi! Aku masih menginginkannya menjadi suamiku, Marcel.”


“Tapi dia tidak menginginkanmu. Come on, Nesya. Sadarlah. Buat apa juga kau menikah dengan orang yang tidak mencintaimu. Dia bahkan tidak peduli padamu. Kau juga tidak mencintainya kan? Kau cuma berambisi untuk memilikinya karena dia punya segalanya,” sindir Marcel dengan telak.


“Saranku sebaiknya kau beritahu orang tuamu secepatnya sebelum Bumi yang buka suara. Kau akan menyesal jika sampai hal itu terjadi, Nesya,” sambung Marcel.


Nesya terdiam mendengar perkataan Marcel. Rasanya saat ini dia memang sudah tak punya pilihan lain. Ia harus lebih dulu bicara pelan-pelan pada orang tuanya tentang pembatalan pertunangannya sebelum Bumi membuka semua kartunya.


Marcel yang melihat Nesya hanya diam saja ingin beranjak meninggalkan kamar itu, tapi dengan cepat Nesya menahan tangannya.


“Kau mau membantuku?” tanya Nesya dengan suara yang lebih pelan.


Marcel pun mengangguk. “Sure, Baby. Aku akan membantumu sebisaku,” ucap Marcel dengan tersenyum.


“Thank you.”


“It's okay. Ya sudah, kau sarapan dulu. Setelah itu kita siap-siap ke rumahmu.”


***


Dan saat ini, Nesya sudah bersama Marcel di kediaman Adrian. Adrian masih berada di dalam kamarnya. Sementara Nesya dan Marcel sudah duduk di ruang tamu bersama Tari.


“Ma, sebenarnya ada hal penting yang mau aku bicarakan,” ucap Nesya dengan ragu-ragu.


“Hal penting apa, Sayang? Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan dari Mama?” tanya Tari saat melihat gelagat Nesya berbeda dari biasanya.


“Ini soal.....”


Belum sempat Nesya melanjutkan pembicaraannya, Adrian sudah lebih dulu datang dan ikut duduk di sebelah istrinya.


“Nesya, tadi malam kenapa tidak pulang ke rumah? Ini siapa?” tanya Adrian melihat seorang pria duduk di sebelah Nesya.


Marcel pun mendekat dan mengulurkan tangan pada Adrian untuk bersalaman.


“Perkenalkan saya Marcel, Tuan,” ucap Marcel lalu kembali duduk di tempatnya.


“Kenapa wajah kalian tegang semua? Apa ada sesuatu yang ingin dibicarakan?” tanya Adrian.


Nesya melirik Marcel sejenak lalu Marcel pun mengangguk seolah meminta Nesya untuk segera berbicara.


“Pa, ada yang aku mau bicarakan. Ini tentang pertunanganku dan Bumi,” ucap Nesya takut-takut.


“Aku...aku ingin...ingin membatalkan pertunanganku, Pa,” jawab Nesya dengan terbata.


“Apa? Batal? Apa maksudmu Nesya? Kau jangan main-main soal ini!”


Bukan hanya Adrian yang terkejut dengan jawaban anaknya. Tari juga tak kalah terkejut mendengarnya. Pantas saja dari sejak datang tadi Nesya sudah menunjukkan gelagat yang berbeda.


“Apa alasanmu ingin membatalkan pertunangan ini tiba-tiba? Jangan bilang kalau ini semua ada hubungannya dengan pria ini!” tanya Adrian sambil menunjuk ke arah Marcel.


“Aku ingin membatalkan pertunanganku karena aku tidak mencintai Bumi, Pa. Dia juga tidak mencintaiku. Kami sadar kami bertunangan hanya karena perjodohan bukan karena cinta. Dan aku juga sebenarnya sudah lama berpacaran dengan Marcel. Aku mencintainya, Pa. Aku tidak bisa melanjutkan pertunanganku dengan Bumi,” jawab Nesya.


“Omong kosong! Kalau begitu kenapa dari awal kau tidak menolak perjodohan kalian? Kau bahkan sangat senang waktu kalian akan bertunangan dulu. Papa tidak setuju. Sebaiknya putuskan pacarmu ini dan lanjutkan pertunanganmu dengan Bumi. Papa lebih setuju kalau Bumi yang menjadi menantu Papa,” ucap Adrian dengan tegas.


“Pa, aku mohon mengerti keadaanku. Aku tidak mencintai Bumi. Aku mau pertunanganku dibatalkan.” Nesya masih mencoba membujuk Adrian. Ternyata cukup sulit membujuk ayahnya agar setuju dengan permintaannya.


“Tidak! Papa tidak akan setuju pertunangan kalian batal. Dan kau, Marcel, lebih baik kau jauhi Nesya karena dia sebentar lagi akan menikah dengan Tuan Muda Dirgantara. Dan saya lebih memilih pria itu menjadi menantu saya daripada kamu,” ucap Adrian secara terang-terangan.


Marcel tentu tersinggung dikatai seperti itu. Rasanya memang cukup sulit membujuk ayah Nesya ini.


Marcel menghela nafas dalam-dalam sebelum akhirnya berbicara. “Saya sudah tidur dengan Nesya, Tuan. Maka saya rasa saya lebih berhak menjadi menantu, Tuan.”


“Apa?!” pekik Adrian dengan terkejut.


Ia pun berdiri lalu menarik kerah kemeja Marcel dengan penuh amarah. “Kau bilang apa tadi?” ulang Adrian.


“Kami sudah pernah tidur bersama, Tuan. Nesya sudah seharusnya menikah dengan saya, bukan dengan Tuan Muda Dirgantara,” jawab Marcel tanpa takut.


Bugh.


Sebuah pukulan mendarat ke wajah Marcel. Tak cukup sekali. Bahkan tiga kali Adrian melayangkan tinjunya ke wajah Marcel. Kalau Tari dan Nesya tak menghalanginya, mungkin entah bagaimana nasib Marcel saat itu. Marcel tentu saja mampu melawan Adrian, tapi dia tak melakukannya. Ia masih menghormati Adrian sebagai orang tua Nesya.


Nesya sendiri cukup terkejut dengan perkataan Marcel tadi. Ia tak menyangka Marcel akan berkata seperti itu. Itu semua sungguh di luar dugaannya.


“Kamu baji-ngan! Berani kamu meniduri anak saya!” hardik Adrian.


“Maaf, Tuan. Kami melakukannya atas dasar suka sama suka karena kami saling cinta, bukan saya memaksanya,” kata Marcel membela diri.


“Benar itu Nesya?” tanya Adrian dengan suara tinggi.


Nesya yang ditanya seperti itu tentu gelagapan. Dalam hati ia mengutuk kebodohan Marcel yang bicara terang-terangan pada orang tuanya.


“Maafkan Nesya, Pa,” ucap Nesya sambil menunduk.


Adrian menggelengkan kepalanya tak percaya. Ia tak menyangka putri semata wayangnya sudah salah langkah dalam bergaul.


“Kau benar-benar mengecewakan Papa dan Mama, Nesya! Papa sangat malu punya anak seperti kamu!” hardik Adrian.


“Maaf, Pa. Aku benar-benar minta maaf. Karena itu, aku tidak bisa melanjutkan pertunanganku dan Bumi,” ucap Nesya dengan pelan.


“Kau hanya bikin malu keluarga!”


Setelah itu Adrian pun masuk ke kamarnya meninggalkan Nesya dan Marcel sementara Tari menyusul suaminya untuk menenangkan suaminya itu.


“Sayang....”


“Aku harus bicara pada Mas Andika. Aku akan memintanya menjadi penengah antara aku dan keluarga Dirgantara. Aku terlalu malu untuk membatalkan pertunangan ini secara tiba-tiba,” potong Adrian sebelum Tari sempat bicara.


“Lakukanlah. Aku mendukung keputusanmu.”


.


Bersambung malam...