Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
122. Memperebutkan Senja


Dengan sadarnya Senja dari koma, seperti membawa kembali cahaya kebahagiaan bagi dua keluarga, yakni keluarga Wijaya dan keluarga Dirgantara. Apalagi Tuan Muda Dirgantara, setelah mendapatkan semangat hidupnya kembali, dia langsung merapikan dirinya dengan mencukur rambut dan merapikan jambang serta jenggotnya.


Tubuhnya memang belum kembali seperti dulu. Dua bulan ia mogok makan, membuatnya kehilangan banyak berat tubuh. Memang tak mungkin bisa kembali dalam sehari dua hari, tapi ia bertekad akan mengembalikan lagi kebugaran badannya seperti semula.


Malam ini, Bumi masih setia menemani Senjanya. Tentunya ditemani oleh Andika dan Liliana, sementara keluarga Dirgantara yang lain sudah kembali ke rumah. Kalau sang asisten, Jefri, tidak perlu ditanya. Dimana ada bosnya, disitulah ada dia.


“Kau terlihat lebih rapi,” ucap Senja dengan pelan pada Bumi.


“Aku baru sadar wajahku jelek sekali saat berkaca di depan cermin tadi. Aku baru sadar wajahku sudah penuh rambut yang lebat seperti semak belukar,” kata Bumi yang baru menyadari penampilannya.


Senja tersenyum mendengar perkataan Bumi. “Bagiku kau selalu tampan,” ucap Senja yang membuat Andika yang mendengarnya mencibirkan bibirnya.


“Tampan darimana? Seperti tarzan iya,” celetuk Andika dengan pelan yang terdengar di kuping Liliana.


“Papa, jangan ganggu mereka! Papa kenapa sih dari tadi sentimen sekali dengan menantu kita?” tegur Liliana.


“Calon, Ma. Baru calon,” koreksi Andika.


“Sama saja,” ujar Liliana.


“Lihatlah, bagaimana Papa tidak sentimen padanya, belum menikah dengan Senja saja, kalian sudah membelanya, tidak ada yang mau di pihak Papa,” ucap Andika pura-pura merajuk.


“Papa tetap cinta pertama Senja,” ucap Senja tiba-tiba.


Andika pun mendekati Senja dan mencium kening anaknya. “Tentu saja. Selamanya Papa akan menjadi cinta pertamamu,” sahut Andika sambil melirik sekilas ke arah Bumi.


“Tapi aku cinta dalam hatimu kan, Senjaku?” tanya Bumi kemudian.


“Iya, tentu saja,” jawab Senja yang membuat Bumi mengembangkan senyumannya dan balas melirik Andika.


“Tapi Papa menduduki urutan pertama di hatimu kan, Nak?” tanya Andika masih tak mau kalah.


“Papa...”


“Kenapa Papa bertanya seperti itu? Kan Senja sudah menjawab aku yang ada di hatinya,” potong Bumi sebelum Senja selesai dengan kalimatnya.


“Apa salahnya? Aku ini Papanya,” Andika balik bertanya.


“Dia calon istriku,” balas Bumi.


“Baru calon,” balas Andika lagi.


“Tapi sebentar lagi akan sah jadi istriku, Pa.”


“Baru akan,” Andika tak mau kalah.


“Maaf, Ma,” ucap Andika dan Bumi nyaris bersamaan.


Senja hanya tersenyum saja melihat tingkah kedua pria yang sangat berarti bagi hidupnya itu. Senja bahagia hubungan mereka sudah sedekat ini.


Dari sofa Jefri juga ikut bahagia melihat keakraban keluarga itu. Tuan mudanya yang dulu selalu bersedih dan murung, kini sudah ceria kembali.


Mereka terlihat bahagia sekali. Bikin yang lihat menjadi iri. Tuan muda sudah kembali mendapatkan cinta dan semangat hidupnya lagi. Gumam Jefri dalam hati.


Tiba-tiba Jefri teringat akan seorang gadis yang sebulan lalu diantarnya pulang ke rumah. Ya, Jefri belum pernah bertemu dengan Jingga lagi hampir sebulan lamanya. Dia benar-benar sibuk hingga tak ada waktu untuk singgah kesana. Tapi malam ini sepertinya ia akan pergi ke Coffee Shop itu lagi.


***


Jefri tak menyangka malam ini Bumi akan meminta laporan perkembangan pembangunan rumah sakit padanya. Untung saja Jefri sudah punya soft copy filenya. Jadi, ia lebih mudah untuk menjelaskan kepada Bumi tentang perkembangan pembangunan rumah sakit tersebut.


Bumi sudah kembali ke Bumi yang dulu. Ia sudah tak melulu duduk termenung memikirkan Senja, tapi juga sudah mulai peduli pada hal-hal lainnya.


Menjelaskan tentang pembangunan itu memakan waktu cukup lama, belum lagi Andika sesekali juga ikut menimpali pembicaraan mereka dan ikut memberikan saran juga. Alhasil, Jefri pulang dari rumah sakit hampir jam sepuluh malam.


Jefri melajukan mobilnya untuk segera menuju ke Coffee Shop Janji Kita. Begitu hampir tiba di sana, ia bisa melihat gadis yang pernah membuatnya tertawa sedang berdiri di depan tempat itu sambil sesekali melihat jam tangannya.


Dia pasti menunggu ojek lagi. Pikir Jefri.


Belum sampai Jefri disana, tiba-tiba ada sebuah motor yang menghampiri Jingga. Motor itu dikendarai oleh seorang pria yang kemudian memberikan helm pada Jingga lalu Jingga pun memakainya. Tak hanya itu saja, pria itu malah sempat membantu Jingga mengaitkan pengait helmnya.


Siapa yang menjemputnya? Sepertinya bukan tukang ojek. Batin Jefri menerka-nerka.


Jingga pun naik ke atas motor lalu pria di depannya mengarahkan tangan Jingga agar memegang pinggangnya agar tidak jatuh.


Deg.


Jefri terdiam melihat kenyataan di depannya. Lama tak bertemu Jingga, sepertinya gadis itu sekarang sudah memiliki seorang kekasih. Jefri pun hanya bisa tersenyum sinis pada dirinya sendiri. Dia sudah kalah cepat dari pria yang menjemput Jingga malam ini.


Setelah motor itu pergi dari sana, Jefri juga ikut meninggalkan tempat itu.


Hahhh...


Jefri menghela nafas dengan berat. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Kenapa juga ia harus merasa cemburu melihat Jingga dijemput pulang oleh pria lain? Memangnya siapa dia? Toh, mereka tidak ada ikatan apa-apa. Bertemu juga baru dua kali.


Jefri berusaha menepis segala pikiran-pikiran anehnya. Tapi, semakin perasaan itu ditepis, justru semakin kuat ia bertahan disana. Ada apa kira-kira dengan perasaan Jefri pada Jingga?


.


Bersambung...