Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
93. Tak Bisa Mengelak


Bumi dan Jefri keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Mereka tak boleh melewatkan hal yang sudah mereka nanti-nanti. Dengan langkah panjangnya, mereka pun segera berjalan menaiki lift.


Apartemen Marcel berada di lantai sepuluh. Setelah masuk ke dalam lift, Jefri pun segera menekan tombol sepuluh yang berada disana. Lift pun dengan perlahan membawa mereka naik ke atas melewati lantai demi lantai. Sungguh rasanya tak sabar sekali untuk menangkap basah sepasang pria dan wanita yang sedang berhubungan di dalam kamar apartemen Marcel saat ini.


Makin tinggi lift itu naik, makin kencang pula jantung ini memompa aliran darah ke seluruh tubuh seiring dengan ketidak sabaran untuk membuka aib yang selama ini mereka sembunyikan. Sementara di kamar itu, Marcel dan Nesya juga makin panas menyalurkan naf-su dari diri mereka masing-masing.


“Lambat sekali lift ini!” keluh Bumi dengan tidak sabar.


“Sebentar lagi, Tuan.” Jefri berusaha menenangkan meskipun batinnya juga ikut tak sabaran.


Tring!


Lift berdenting dan pintu lift pun terbuka. Jefri membiarkan Bumi lebih dulu keluar dari lift, setelah itu baru ia mengikutinya dari belakang.


Dengan gerakan yang penuh hati-hati, Jefri mengeluarkan kartu akses masuk ke apartemen Marcel dari dalam saku jasnya lalu menempelkannya di pintu kemudian menekan passwordnya. Pintu apartemen pun berhasil dibuka.


Jefri membuka pintu apartemen pelan-pelan agar tak menimbulkan suara kemudian memberi jalan untuk Bumi masuk terlebih dahulu.


Di dalam kamar, Marcel dan Nesya sedang asik-asiknya berhubungan. Mereka tak sadar sama sekali kalau Bumi dan Jefri sudah berhasil masuk ke dalam apartemen itu. Bagaimana mereka mau menyadari kedatangan Bumi dan Jefri jika mereka sedang terbuai dalam surga dunia yang terlarang sebab di antara mereka tak ada ikatan apapun.


Dengan langkah yang hampir tak berbunyi Bumi dan Jefri mendekat ke satu kamar yang pintunya tak tertutup rapat. Dari luar saja sudah dapat terdengar suara sahut-sahutan kenikmatan yang berasal dari Marcel dan Nesya. Tak ingin membuang waktu lebih lama, Bumi segera mendorong pintu itu dan masuk ke dalam kamar bersama Jefri.


Brakkk!


Nesya dan Marcel yang sedang tanggung langsung terkejut bukan main saat mendengar suara pintu dibuka dengan kasar. Tak hanya itu, mereka lebih terkejut lagi saat melihat sudah ada Bumi dan Jefri berada di dalam kamar itu tengah memergoki mereka berdua.


“Bumi?” gumam Nesya seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


Dia yang sedang berada di bawah Marcel, sontak mendorong Marcel agar menyingkir darinya. Dia pun cepat-cepat menarik selimut hingga menutup sampai batas dadanya.


“Kalian? Bagaimana kalian bisa masuk ke apartemenku?” tanya Marcel dengan sangat terkejut.


“B-Bumi...aku bisa jelaskan semuanya. Ak-aku bisa jelaskan semuanya Bumi...” ucap Nesya dengan suara bergetar.


Bumi menatapnya dengan tajam. Ternyata wanita yang sudah bertunangan dengannya itu sangat buruk kelakuannya. Ia tak menyangka seorang putri dari keluarga terpandang seperti keluarga Wijaya memiliki sifat seperti ini.


“Kau sudah tak bisa mengelak lagi. Detik ini juga, pertunangan kita batal!” ucap Bumi dengan tegas dan tanpa keraguan sedikitpun.


“Tidak!” tolak Nesya dengan cepat. “Aku tidak mau pertunangan kita batal! Aku tidak mau!” ucap Nesya yang sudah ketakutan jika hal itu benar terjadi.


“Dan kau pikir aku sudi melanjutkan pertunanganku dengan wanita sepertimu? Kita semua sudah sepakat, jika ada di antara kita yang berkhianat maka pertunangan akan batal. Aku sudah mengumpulkan semua bukti perselingkuhanmu. Setelah ini aku akan langsung bicara pada orang tuaku untuk membatalkan pertunangan kita,” ucap Bumi dengan tegas.


“Tidak, Bumi! Aku mohon...jangan lakukan itu! Aku tidak mau mengecewakan orang tuaku. Kau tau sendiri keluarga kami baru saja harmonis. Aku mohon, demi papaku, demi mamaku, jangan batalkan pertunangan kita,” pinta Nesya dengan memelas.


Bahkan saat ini ia sudah mengeluarkan airmatanya. Airmata yang keluar karena takut orang tuanya akan kecewa jika tau kelakuannya selama ini.


“Kau sudah mengecewakan mereka dengan berbuat seperti ini. Keputusanku sudah bulat. Di antara kita tidak ada lagi hubungan apapun. Bahkan jika kau mau melanjutkan acaramu dengan pria itu, aku tidak peduli sama sekali.”


Setelah mengatakan itu, Bumi pun berbalik meninggalkan kamar tersebut diikuti Jefri yang sempat menatap sinis pada Nesya dan Marcel. Sekeras apapun Nesya berteriak menahan Bumi, pria itu tak sedikitpun mempedulikannya.


Marcel tak dapat berbuat apa-apa. Ia hanya terduduk tak percaya dengan apa yang terjadi barusan. Ia masih bingung bagaimana cara kedua pria tadi masuk ke apartemennya.


Nesya sendiri tentu tak mau menerima itu begitu saja. Ia dengan cepat bangun dari tempat tidur dan menutupi tubuhnya yang polos dengan bathrobe milik Marcel. Setelah itu ia pun segera mengejar Bumi keluar.


Nesya berlari hendak menghampiri Bumi sebelum pria itu benar-benar keluar dari apartemen Marcel, tapi ia langsung dicegah oleh Jefri. Jefri tidak mungkin membiarkan Nesya menyentuh tuannya itu.


“Lepaskan aku! Ini bukan urusanmu! Aku ingin bicara pada Bumi!” teriak Nesya sambil berusaha melepaskan cengkraman tangan Jefri.


“Cuih! Kau jangan sok ikut campur!” kata Nesya yang sempat meludahi Jefri. Untung Jefri sangat cepat mengelak sehingga tidak mengenai wajahnya.


Kalau bukan wanita, mungkin Jefri tak segan melayangkan satu pukulan ke wajahnya.


Melihat Nesya yang semakin menggila, Bumi pun menghentikan langkahnya.


“Katakan apa maumu!” kata Bumi tanpa menoleh ke arah Nesya.


“Aku mohon jangan batalkan pertunangan kita Bumi. Aku mohon....” pinta Nesya lagi dengan linangan airmatanya.


“Jangan buang waktuku! Keputusanku tidak akan berubah.”


Nesya tau betul bagaimana sifat Bumi. Apa yang dikatakannya, itulah yang akan dilakukannya. Melihat tidak ada sedikitpun kemungkinan Bumi akan luluh padanya, akhirnya Nesya pun pasrah dan hanya bernegosiasi pada Bumi.


“Baiklah. Pertunangan kita akan batal. Tapi aku benar-benar memohon padamu. Biar aku yang bicara pada orang tuaku. Aku akan bilang aku mencintai pria lain dan tidak mau melanjutkan pertunangan ini. Untuk itu, aku mohon padamu, biar aku yang bicara pada mereka. Aku janji tidak akan merugikanmu sedikitpun. Aku mohon, Bumi. Aku mohon.”


Nesya sudah pasrah. Hanya itu saja lagi yang bisa ia pinta pada Bumi.


Bumi terdiam sejenak mencerna kata-kata Nesya. Ia tampak menghela nafas dengan berat. Ini bukan keputusan yang mudah baginya.


“Baiklah. Aku turuti maumu. Aku mau besok kau sudah langsung bilang pada orang tuamu. Aku tunggu kabar dari keluarga kalian besok. Jika tidak, bukti perselingkuhanmu akan langsung aku kirimkan pada mereka,” kata Bumi mengakhiri semuanya.


Setelah itu ia pun langsung pergi keluar dari apartemen milik Marcel. Jefri juga segera melepaskan tangan Nesya. Ia tersenyum sinis pada wanita yang tampak kacau itu, lalu mengikuti langkah Bumi meninggalkan tempat itu.


Kini tinggallah Nesya dengan segala penyesalan yang ada dalam dirinya. Ia pun terduduk lemas di lantai. Kondisinya tampak sangat kacau dengan rambut acak-acakan dan wajah sembabnya. Bumi tak sedikitpun berbelas kasihan padanya.


Marcel yang sudah berpakaian, keluar menghampirinya. Ia berusaha menenangkan Nesya dan memegang kedua lengan Nesya tapi ditepis oleh wanita itu. Nesya hanya diam menatap sayu pintu apartemen yang tertutup itu. Matanya tampak kosong dan wajahnya penuh penyesalan. Nasi sudah menjadi bubur. Sepintar-pintarnya ia menutupi kebiasaan buruknya, tetap saja suatu saat akan terbongkar. Dan masa itu kini sudah tiba. Ia harus menanggung semua perbuatannya.


***


Bumi yang kini sudah berada di rumah langsung meminta ayahnya untuk bicara empat mata saja. Ia tak mau lama-lama mengulur waktu. Ia merasa harus sesegera mungkin memberitahu ayahnya tentang pembatalan pertunangan mereka.


“Ada masalah apa sampai malam-malam begini kau ingin bicara pada Ayah? Ayah jadi penasaran,” tanya Tuan Dirgantara yang baru masuk ke ruang kerjanya lalu duduk di sofa yang berhadapan dengan Bumi.


“Ada hal penting yang harus aku sampaikan, Ayah,” jawab Bumi yang membuat Tuan Dirgantara semakin penasaran.


Tuan Dirgantara menarik sudut bibirnya. Anaknya tampak sangat tergesa-gesa. “Kalau tidak penting, mana mungkin kau memanggil ayah untuk bicara padamu. Katakan apa yang terjadi pada Ayah.”


Bumi menatap ayahnya dengan sungguh-sungguh. Ia nampak menghela nafas dalam-dalam sebelum bicara.


“Aku ingin membatalkan pertunanganku dan Nesya, Ayah,” jawab Bumi.


“Apa? Kau jangan main-main soal ini!” Tentu saja Tuan Dirgantara sangat terkejut mendengar perkataan putranya itu.


“Nesya sudah memiliki kekasih lain, Ayah. Dia tidak mencintaiku. Aku juga tidak mencintainya. Kami sama-sama tidak mencintai. Pertunangan kami tidak bisa dilanjutkan lagi. Lagipula...aku sekarang sudah sadar kalau aku mencintai wanita lain,” jawab Bumi secara terang-terangan.


“Siapa wanita yang kau maksud?”


“Senja, Ayah. Anak Tuan Andika Wijaya.”


.


Bersambung...