
Dan sekarang saat yang paling dinanti-nanti oleh Bumi telah tiba. Saat dimana ia akan memergoki wanita yang berstatus sebagai tunangannya itu bermain di belakangnya dengan pria lain.
Sedih? Tentu tidak. Bumi tidak mencintainya sama sekali. Bumi hanya merasa kecewa bukan karena ada rasa cinta, tapi merasa dibohongi oleh tunangannya itu. Nesya pernah mengatakan cinta pada Bumi, tapi di belakangnya, wanita itu berani berhubungan dengan pria lain. Bukan Bumi saja yang dibohongi dalam hal ini. Tapi kedua keluarga besar mereka juga. Tidak mungkin Bumi membiarkan kebohongan ini berlanjut begitu saja. Ia harus menghentikan ini semua.
Hal utama yang Bumi inginkan adalah memutuskan pertunangannya dengan Nesya. Dan disini jelas, semua karena pengkhianatan yang Nesya lakukan. Lalu apakah Bumi sendiri tidak berkhianat karena ia sudah mendekati Senja? Tentu tidak. Dulu ia bahkan rela mencintai Senja dalam diam demi mempertahankan pertunangannya. Dan ia berani mendekati Senja setelah mengetahui pengkhianatan tunangannya ini.
Begitu indahnya semesta mengatur perjalanan cinta antara dirinya dan Senja. Meskipun sempat merasakan sakit yang menyesakkan jiwa, tapi kini mereka sudah bisa bernafas lega. Selangkah lagi, setelah semua selesai, Bumi bertekad akan langsung melamar Senjanya.
Saat ini Bumi sudah berada di dalam mobil bersama Jefri. Mereka sudah berada di parkiran apartemen milik Marcel. Tentu saja mereka memakai mobil lain agar tidak ketahuan oleh Nesya. Sesuai pantauan dari CCTV yang tersambung pada handphone Jefri, saat ini baik Nesya maupun Marcel belum mendatangi apartemen itu. Mereka masih dalam perjalanan menuju kesana. Tentunya Jefri tau itu dari anak buah lain yang mengikuti Marcel dan Nesya saat ini.
Bumi merasa bosan berdiam diri dalam mobil sambil menunggu mereka datang, akhirnya dia memutuskan untuk menelepon Senja terlebih dahulu.
Panggilan pertama belum ada jawaban. Dia mencoba menelepon lagi, barulah di panggilan kedua, Senja menjawabnya.
“Hallo,” sapa Senja yang saat itu tengah sibuk di dapur.
“Hallo, Senjaku. Kau sedang apa? Apa kau sibuk?” tanya Bumi sambil menyandarkan punggungnya.
“Hmm...lumayan. Sekarang aku sedang membuat cake,” jawab Senja.
“Cake? Cake apa? Sepertinya enak sekali,” tanya Bumi.
Senja pun terkekeh dengan perkataan Bumi. “Kau belum coba sudah bilang enak saja. Aku buat tres leches cake,” jawab Senja.
“Apapun yang kau buat pasti enak, Senja. Aku jadi ingin memakanmu. Ah, maaf. Maksudku memakan cake buatanmu.” Jurus rayuan maut Bumi mulai keluar.
Kali ini bukan hanya Senja saja yang tertawa. Jefri yang mendengar obrolan tuannya itu sampai bergetar bahunya menahan tawa. Ia terpaksa menunduk agar Bumi tidak melihatnya sedang menertawakan tingkah lucu tuannya.
Apa sebegitu indahnya jatuh cinta? Kenapa aku jadi ingin merasakan itu juga? Batin Jefri.
“Berhentilah menggombal terus! Kau membuatku tidak konsentrasi kalau begini,” ucap Senja sambil tersenyum malu.
“Aku tidak menggombal, aku serius.”
“Kau mau cake nya? Kalau mau akan aku kirim ke rumahmu besok.”
“Kenapa harus tanya lagi? Tentu saja aku mau. Tapi tidak usah kirim ke rumahku. Besok aku jemput saja sekalian kita jalan-jalan bersama mumpung libur. Kau mau?” tawar Bumi.
“Bisa tidak pakai cherry dan strawberry?” Bumi malah request.
“Kau mau topping itu? Ada sih di kulkas.”
“Iya. Aku mau itu. Cherry dan strawberry.”
Biar sama seperti rasa bibirmu. Tambah Bumi dalam hati.
Lagi asik-asik mengobrol, tampak sebuah mobil yang sudah mereka tunggu mulai masuk ke parkiran. Jefri menoleh ke belakang dan memberi kode kepada Bumi tanpa bersuara. Bumi pun mengangguk dan menyudahi panggilannya pada Senja.
“Kita tunggu sampai mereka masuk ke kamar. Setelah itu, baru kita hampiri mereka!” kata Bumi memberi perintah.
“Baik, Tuan. Saya akan memantau dari CCTV. Atau...Tuan mau....”
“Tidak! Aku tidak mau mengotori mataku!” potong Bumi dengan cepat.
“Baik, Tuan.”
Dari sebuah mobil, dua orang yang sudah ditunggu tampak keluar dari mobil dan berjalan menuju lift bersama. Marcel tampak dengan leluasa merangkul pinggang ramping milik Nesya. Mereka tampak cocok seperti sepasang kekasih.
Lift pun membawa mereka ke lantai atas tempat dimana unit apartemen Marcel berada. Begitu masuk ke dalam apartemen, Marcel tampak menarik tangan Nesya dengan tak sabar, lalu menghimpitnya ke pintu dan menempelkan bibir mereka berdua. Jefri yang harus melihat adegan itu sampai mengalihkan pandangannya saking jijik melihat itu. Segala macam umpatan kasar sudah ia ucapkan dalam hati.
Habis ini aku wajib ke dokter mata!
Sementara itu Marcel dan Nesya yang tidak sadar sedang diawasi terus menerus melakukan adegan demi adegan dengan sesuka hati. Padahal tidak ada ikatan apa-apa di antara mereka. Tapi mereka bisa melakukan itu dengan senang hati dan suka rela.
Setelah beberapa menit melakukan pemanasan di ruang depan, Marcel tampak menggendong Nesya masuk ke kamarnya.
“Tuan, ini saatnya!” kata Jefri memberitahu.
Bumi pun mengangguk. “Kita kesana sekarang!”
.
Bersambung...