
“Cheers.....!” seru beberapa wanita di sebuah club malam sambil bersulang dengan mengangkat gelas berisi minuman beralkohol mereka tinggi-tinggi.
Nesya dan beberapa teman-temannya sedang merayakan keberhasilan perjodohan antara dirinya dan Bumi.
“Kau beruntung sekali bisa berjodoh dengan Tuan Muda Dirgantara,” ucap salah seorang temannya.
“Iya, Nes. Dia sudah tampan, pengusaha kaya raya, pokoknya impian semua wanita. Aku pun tidak akan menolak kalau dijodohkan dengannya,” timpal temannya yang lain.
“Well, aku juga merasa beruntung. Tidak mudah mendapatkan sosok seperti Bumi. Untungnya kami terlibat perjodohan dari sejak kami kecil. Jadi, aku punya kesempatan untuk memilikinya,” kata Nesya membenarkan.
“Tapi aku penasaran, apa kalian sudah saling dekat? Maksudku dia tau bagaimana kehidupanmu?” tanya temannya penasaran.
“Nope! Tentu saja dia tidak tau. Dan jangan sampai tau. Kami tidak begitu dekat. Tapi itu bukan masalah. Nanti setelah menikah juga kami akan dekat karena tinggal bersama,” jawab Nesya.
“Kau benar. Bumi jangan sampai tau kau seperti apa. Mereka itu kan keluarga terpandang, bisa-bisa perjodohanmu batal kalau mereka tau kau suka......”
“Stop! Tidak usah membahasku lagi. Kalian tidak perlu khawatir, aku akan menyembunyikan ini dari keluarganya dan keluargaku tentunya. Sudahlah, mari kita nikmati pesta ini! Nanti setelah menikah dengannya aku rasa aku akan kesusahan untuk berpesta,” ucap Nesya.
“Yahh, kau akan bertobat setelah menikah? Tidak clubbing lagi?”
“Hmm...entahlah. Lihat bagaimana nanti kalau aku bisa mengelabui Bumi,” jawab Nesya sambil terkekeh.
Kemudian ia kembali menuang minumannya yang telah habis lalu kembali mengajak teman-temannya bersulang.
“Ayo kita bersulang untuk perjodohanku dan Bumi. Cheeerrrrssss......!”
“Cheerrrsssss....!”
***
Sementara itu di rumahnya, Adrian dan Tari sudah dari tadi menunggunya dengan gelisah. Sudah hampir jam 1 malam, tapi anak gadis mereka belum juga pulang ke rumah. Memang ini bukan yang pertama kali Nesya bertingkah seperti ini. Tapi masalahnya sekarang Nesya akan bertunangan dengan anak keluarga Dirgantara, ia harus bisa menjaga nama baik keluarga.
Adrian juga tak mau kalau sewaktu-waktu Bumi memergoki Nesya pulang larut malam. Kalau tidak diubah dari sekarang, kapan lagi kebiasaan buruknya itu harus diubah? Adrian tak ingin setelah menikah nanti justru Nesya dan Bumi akan bertengkar karena kebiasaan buruk Nesya yang selalu pulang malam dan berkumpul dengan teman-temannya.
“Kemana anak itu jam segini belum pulang? Aku curiga. Dia pasti melakukan hal yang tidak benar,” omel Adrian yang saat ini berada di kamarnya bersama Tari.
“Sayang, jangan berpasangan buruk dulu! Nesya kan bilang ada temannya yang ulang tahun malam ini. Bisa jadi mereka sedang merayakannya,” kata Tari berusaha menenangkan suaminya.
“Sayang, kamu jangan belain dia terus! Baru saja kemarin malam Nesya dan Bumi resmi dijodohkan, aku tidak mau Nesya berbuat hal-hal yang memalukan di luar sana sehingga pertunangan mereka batal.”
“Iya, Sayang. Aku mengerti. Sebentar lagi juga dia pulang. Sabar, ya.” Tari berusaha menenangkan suaminya dan mengusap-usap punggung suaminya itu.
Tak lama terdengar suara mobil masuk ke halaman rumah mereka. Ternyata itu adalah mobil Nesya.
Malam itu Nesya pulang ke rumah dalam keadaan sempoyongan. Setelah berpesta alkohol dengan teman-temannya, ia menjadi mabuk. Saking mabuknya, ia menaiki anak tangga rumahnya dengan tertatih-tatih sambil berpegangan pada pagar tangga agar dirinya tak kehilangan keseimbangan. Ia tak tau saja di atas tangga sang ayah sudah menunggunya dengan kesal.
“Jadi ini yang kamu bilang pesta ulang tahun? Pulang lewat tengah malam dalam keadaan mabuk?” tanya Adrian dengan suara menengking. Apalagi saat ia mencium bau alkohol yang begitu menyengat dari Nesya. Entah sudah berapa banyak alkohol yang sudah Nesya minum malam itu.
“Pa-pa?” gumam Nesya terbata sambil melihat ke arah ayahnya yang tampak menjadi dua karena pandangannya yang kabur. Kepalanya juga terasa berat. Rasanya ia ingin cepat-cepat masuk ke kamar dan merebahkan dirinya.
“Dari mana kamu, Nesya? Jujur sama Papa! Apa yang kamu lakukan di luar sana? Hah?! Kamu tau perbuatanmu ini bisa membuat Papa malu?” bentak Adrian.
“Sayang, sabar. Nesya sepertinya sedang mabuk. Kita bicara besok pagi saja,” bujuk Tari.
“Kamu masuk ke dalam! Aku mau bicara sama Nesya. Dia sudah bukan anak kecil lagi mau kamu bela terus,” kata Adrian pada istrinya. Mau tak mau Tari diam saja tak membela Nesya lagi, tapi dia juga tak langsung masuk ke kamarnya.
“Pa, aku pusing. Aku mau ke kamar. Ngantuk!” racau Nesya sambil memegang kepalanya. Makin lama kepalanya memang terasa makin berat dan pusing.
“Jawab dulu pertanyaan Papa dari mana kamu sebenarnya?!” desak Adrian. Adrian tidak peduli dengan alasan yang diberikan Nesya.
Bukannya menjawab Nesya malah berdecak dan ingin melangkahkan kakinya masuk ke kamar. Tapi Adrian menarik tangannya dan menahannya agar tidak pergi sebelum menjawab jujur pertanyaannya.
“Papa ih... Nesya ngantuk!” ucap Nesya sambil menepis tangan sang ayah. Ia kembali memegang kepalanya yang makin lama makin berputar. Bayangan ayah dan ibunya yang tadi terpecah menjadi dua kini malah bertambah banyak. Ia menggelengkan kepalanya beberapa kali, tetap saja kepalanya masih pusing dan berputar.
"Nesya sudah besar! Papa kenapa, sih? Nesya cuma bersenang-senang sama teman-teman saja," racau Nesya lagi.
“Bersenang-senang di club malam maksud kamu? Sampai mabuk begini?!” bentak Adrian lagi.
“Ah, Papa cerewet!” ucap Nesya dalam keadaan tidak sadar. Ia pun berbalik ingin menuruni tangga berniat pergi dari sana, tapi yang terjadi malah dirinya kehilangan keseimbangan dan tak sempat berpegang pada pagar tangga.
“Aaaaaahhhhhhh........” jerit Nesya saat kakinya tergelincir dan ia pun terguling jatuh dari tangga.
“Nesyaaaaaaa...” teriak Adrian dan Tari nyaris bersamaan melihat Nesya jatuh seperti itu.
Adrian tak sempat menarik Nesya yang lebih dahulu jatuh dan berguling melewati anak tangga hingga ke bawah. Lalu Adrian dan Tari dengan segera menuruni anak tangga dan menghampiri Nesya.
Adrian dan Tari tampak sangat pucat melihat anaknya jatuh seperti itu. Bahkan saat ini Tari sudah hampir menangis melihat Nesya yang tak bergerak lagi.
Nesya tampak tak sadarkan diri. Sikunya tampak memar dan keningnya terlihat mengeluarkan darah.
"Nesya, Nesya, bangun Nesya!" kata Adrian sambil memangku Nesya dan menepuk pipi kiri dan kanannya.
"Kita bawa Nesya ke rumah sakit sekarang!" kata Adrian lagi saat melihat Nesya masih tak sadarkan diri.
Dengan cepat Adrian menggendong Nesya dan membawanya ke mobil untuk dibawa ke rumah sakit bersama Tari.