
“Loh, kau?” ucap Senja pada orang yang baru saja ditabraknya.
“Kau disini juga? Menjenguk Nesya kan?” tanya orang di depannya yang tak lain adalah Dimas. Dimas pun saat itu hendak menjenguk Nesya dengan sebuket bunga di tangannya.
“Iya, aku baru saja dari sana,” jawab Senja.
Dimas melihat Senja masih membawa buket bunga. Ia merasa aneh. Kenapa Senja masih membawa buket bunga itu dan tidak memberikannya pada Nesya?
“Lalu kenapa kau masih membawa bunga itu? Itu bukan buat Nesya?” tanya Dimas curiga.
“Oh, ini. Iya ini buat Kak Nesya,” jawab Senja setengah gugup. Dia tak mau bilang jujur kalau masih ada Bumi disana yang membuatnya tak jadi menjenguk Nesya.
“Trus? Kau tidak jadi memberikan itu padanya?” tanya Dimas lagi seakan tak puas dengan jawaban Senja.
Senja memutar bola matanya jengah. “Kau ini mengalahkan wartawan saja, banyak tanya! Di dalam masih ada Bumi. Aku tidak mau mengganggu waktunya dengan Kak Nesya.” Mau tak mau Senja akhirnya berkata jujur juga.
“Nah, kalau kau jawab seperti itu kan aku jadi tidak bertanya lagi. Ya sudah, kalau begitu ayo kita ke dalam bersama! Aku tau kau pasti merasa tidak nyaman kesana sendirian, jadi biar aku menemanimu.”
“Eh, tapi....”
“Sudah, ayo!”
Dimas langsung menarik tangan Senja dan mengajaknya untuk menjenguk Nesya. Dimas tau, Senja tidak akan sanggup melihat Bumi dan Nesya berduaan saja disana.
Jefri yang menunggu di depan ruangan mengernyitkan dahinya saat melihat Senja kembali lagi. Malah kali ini Senja tidak sendiri melainkan bersama Dimas. Jefri pun membungkuk hormat pada mereka berdua.
Dengan santai Dimas langsung membuka pintu ruangan Nesya dan melihat memang ada Nesya dan kakaknya disana, tapi kali ini mereka sudah tidak berpelukan lagi.
“Dimas? Senja?” gumam Nesya setengah terkejut melihat mereka datang bersamaan.
Bumi yang tadi duduk di kursi mengarah ke Nesya langsung membalikkan badan melihat ke arah pintu.
Deg.
Jantungnya berdetak dengan kencang saat matanya menangkap sosok gadis yang ia rindukan dalam diam. Seseorang yang sudah beberapa hari ini tak ia temui. Siapa lagi kalau bukan Senja. Bahkan ia hampir tak melihat keberadaan Dimas disana kalau adiknya itu tak bersuara.
“Apa kabar Nesya? Bagaimana keadaanmu?” tanya Dimas basa-basi sambil mendekat ke ranjang di sisi lain yang berseberangan dengan Bumi.
Senja yang tertinggal di belakang jadi bingung. Apa dia harus mengikuti Dimas? Kenapa tiba-tiba dia merasa canggung begini? Apalagi saat ia merasa kalau seseorang tengah menatapnya dalam-dalam. Rasanya ia semakin tak berkutik untuk bergerak.
Bumi lalu berdiri dari duduknya. Ia menarik kursi itu untuk Senja duduk disana.
“Duduklah,” ucap Bumi sambil melihat ke arah Senja.
Barulah Senja mengangkat wajahnya sehingga tatapan mereka sempat bertemu beberapa detik. Rasanya Senja tak akan mampu menatap wajah itu lebih lama. Ia pun kembali menunduk sambil berjalan duduk di kursi yang Bumi sediakan untuknya.
“Terimakasih,” jawab Senja dengan singkat.
Bumi pun beralih duduk di sofa yang ada disana. Kali ini matanya beralih menatap ke Dimas. Muncul pertanyaan di kepalanya, apakah mereka sengaja datang bersama?
“Aku sudah mendingan. Makasih ya Dimas, Senja, sudah mau menjengukku. Kalian tidak sibuk bekerja? Aku tidak mau mengganggu jam kerja kalian,” jawab Nesya sambil melihat Senja dan Dimas bergantian.
“Tidak, Kak. Aku tidak ada urusan yang begitu penting saat ini. Tidak perlu khawatir,” ucap Senja dengan ramah.
“Kalian datang bersama?” tanya Nesya.
“Iya. Kami datang bersama. Sebelumnya kami sudah telfonan dulu untuk datang kesini,” jawab Dimas dengan cepat.
Senja melirik ke arah Dimas, tapi Dimas tampak acuh saja. Dimas malah mencuri-curi pandang ke arah Bumi. Sesuai perkiraannya, Bumi menatapnya dengan tajam. Apa Bumi tidak suka mereka datang bersama? Terkadang Dimas agak sulit mengartikan tatapan kakaknya yang selalu menusuk itu.
“Wah, sekali lagi terimakasih banyak, ya. Kalian repot-repot menjengukku disini,” ucap Nesya lagi.
“Tidak masalah, Kak. Oh ya, kenapa Kak Nesya bisa sampai jatuh dari tangga? Apa tangganya licin?” tanya Senja.
“Bu-bukan. Waktu itu aku masih dalam keadaan mengantuk, trus aku mau turun ke dapur mengambil minum. Karena masih setengah sadar, jadi tidak sengaja terpeleset,” jawab Nesya berbohong.
“Kau ini seperti orang mabuk saja setengah sadar. Lain kali hati-hati lagi Nesya, itu bahaya untukmu,” ucap Dimas yang membuat Nesya mendadak pucat.
Ia tak menyangka Dimas akan menyinggung soal mabuk segala. Padahal dari tadi tidak ada yang mengungkit soal itu.
“Ah, iya. Lain kali aku akan hati-hati,” sahut Nesya dengan kikuk.
“Ngomong-ngomong apa kalian mau minum sesuatu?” tawar Nesya mengalihkan pembicaraan.
“Boleh. Aku memang belum minum dari tadi. Senja kau minum juga? Atau kita minum di kantin saja berdua? Minum jus siang-siang begini sepertinya enak,” tanya Dimas pada senja sambil memancing reaksi Bumi.
“Jef!” panggil Bumi pada asistennya itu.
Yang dipanggil pun segera masuk ke dalam. “Iya, Tuan. Apa Tuan butuh sesuatu?” tanya Jefri.
“Tolong belikan dua orang yang sedang kehausan ini jus!” jawab Bumi sambil menyindir.
“Baik, Tuan. Nona Senja mau minum jus apa?” tanya Jefri dengan ramah.
“Aku jus melon,” jawab Dimas dengan semangat.
“Oh, baik, Tuan. Nona?”
“Jus jeruk saja. Maaf ya, merepotkanmu,” ucap Senja dengan ramah sambil tersenyum ke arah Jefri.
“Tidak masalah, Nona,” sahut Jefri sambil membalas senyum Senja.
Begitu matanya beralih pada tuannya, senyumannya pun langsung pudar. Ia tak berani lagi lebih lama berada disana dan segera keluar dari ruangan untuk membeli jus.
“Ini aku ada bawakan bunga untukmu,” kata Dimas memecah suasana sepi disana sambil memberikan bunga pada Nesya.
Senja juga ikut memberikan bunga yang tadi ia bawa dan meletakkannya di atas nakas bersebelahan dengan hampers buah dari Bumi.
Eh, ini buah dari siapa? Apa Bumi yang membawanya? Senja sempat melirik pada kartu ucapan disana, ternyata benar itu dari.....
Senja hampir saja tertawa saat membacanya. Masa iya menjenguk calon tunangannya sendiri harus ditulis dari PT. Dirgantara? Yang benar saja! Tidak romantis sama sekali. Senja tidak tau saja yang memesan hampers itu adalah Jefri.
Tak lama Jefri pun kembali dengan dua jus di tangannya. Dimas dan Senja kini sudah duduk di sofa untuk menikmati jus mereka, sementara Bumi beralih duduk di kursi dekat ranjang.
“Mmm...nikmat sekali jusnya! Segar!” ucap Dimas.
“Punyamu sepertinya segar juga,” imbuh Dimas sambil melihat jus yang diminum Senja.
“Iya, sangat segar. Tidak terlalu manis. Kau mau coba?” Niat hati Senja hanya basa-basi tapi siapa sangka Dimas malah serius menanggapinya.
“Boleh,” jawab Dimas dengan santai.
Dimas pun mendekat pada Senja untuk meminum jus milik Senja. Di saat itu pula Bumi mengutuk dalam hati jangan sampai Dimas berani minum minuman milik Senja, apalagi harus memakai sedotan bekas Senja minum. Tidak! Dia tidak rela!
Tapi Dimas dengan santai malah meminum jus milik Senja dari sedotan bekas mulut Senja. Rasanya bertambah manis bagi Dimas. Sementara Bumi sudah mengepalkan tangannya dengan geram seperti ingin melenyapkan Dimas dari muka bumi.
“Mmm iya! Jus jerukmu juga segar!” ujar Dimas tanpa merasa berdosa.
“Bumi, aku jadi haus juga lihat mereka minum. Bisa tolong bantu aku minum?” pinta Nesya pada Bumi.
Bumi sebenarnya malas. Tapi ia terpaksa membantu Nesya yang sedang diinfus tangannya. Ia mengambil minuman di atas nakas lalu membantu Nesya untuk meminumnya.
Kalau tadi Bumi yang cemburu pada Dimas, kali ini Senja pula yang gantian cemburu melihat Bumi membantu Nesya minum. Mereka berdua saling cemburu dalam diam.
Setelah membantu Nesya minum, Bumi melihat jam tangannya. Sepertinya ia sudah harus kembali ke perusahaan.
“Aku harus kembali ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ucap Bumi.
“Aku juga sepertinya akan kembali ke kantor.” Dimas ikut-ikut menyahut.
“Kau tinggal dulu disini sampai orang tua Nesya balik lagi kesini. Bukannya kau tidak memiliki begitu banyak pekerjaan di kantor?” kata Bumi sambil menyindir.
Gleg.
Dimas menelan salivanya dengan susah payah. Perkataan Bumi barusan menurutnya mengandung ancaman.
“Kalau begitu, aku juga pulang dulu ya, Kak. Aku juga harus segera balik ke kantor lagi,” ucap Senja berpamitan.
“Baiklah, terimakasih sudah menjengukku, ya. Hati-hati di jalan,” kata Nesya dengan manis semanis mungkin.
***
Senja berjalan dengan cepat untuk menghindari Bumi. Tapi langkahnya tak lebih besar dari pria itu. Bumi memberi kode pada Jefri agar menunggunya di mobil, sementara ia sendiri berjalan mendekati Senja.
Grep!
Bumi menarik lengan Senja dan membawanya di satu lorong rumah sakit yang tak ramai. Senja pun terkejut saat badanya menempel di dinding sementara Bumi tepat berada di depannya dengan jarak yang sangat dekat.
“K-kau mau apa?” tanya Senja dengan terbata.
Bumi tak menjawab. Ia malah semakin mendekatkan wajahnya. Hal itu tentu saja membuat jantung Senja berdetak tak karuan. Bahkan ingin bernafas pun rasanya sangat sulit sekali jika berada sedekat itu dengan pria yang ia cintai diam-diam.
Aroma nafas Bumi kian jelas di indra penciuman Senja. Itu membuat Senja bingung harus berbuat apa. Senja seolah kehilangan keberaniannya. Melihat wajah di depannya kian mendekat, Senja malah menutup matanya erat-erat.
Bersambung...
***
Hai semua, terimakasih atas dukungan kalian ya. Maaf belum bisa membalas komentar satu per satu dikarenakan keterbatasan waktu 🤗 Selamat membaca 💙