Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
128. Tak Sabar Lagi


Mulai pagi ini Senja sudah tak diizinkan keluar kemana-mana lagi oleh kedua orang tuanya. Pernikahannya dengan Bumi sudah tinggal menunggu hari lagi. Segala sesuatunya sudah dipersiapkan dengan baik. Ia hanya perlu melakukan perawatan kecantikan di rumah saja.


Bukan hanya tak diizinkan keluar rumah, ia juga dilarang untuk bertemu dengan Bumi sampai nanti hari pernikahannya tiba. Bahkan sekedar melakukan video call saja juga tidak boleh. Mereka hanya bisa berkomunikasi lewat telepon atau berkirim pesan saja.


Drrrt drrttt drrrt.


Handphone Senja bergetar, ternyata ada panggilan masuk dari calon suaminya. Senja tersenyum saat tau Bumi yang meneleponnya, ia pun segera menjawab panggilan itu.


“Hallo, Sayang.” Senja sengaja menggoda Bumi.


“Lihatlah, aku sudah tersiksa begini, kau malah menggodaku,” keluh Bumi yang membuat Senja terkekeh.


“Memangnya kenapa kau bisa tersiksa?” tanya Senja pura-pura tidak tau.


Senja yang tadi duduk di depan meja riasnya kini beralih pindah duduk di tepi ranjang sambil memeluk bantalnya.


“Jelas aku tersiksa. Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa bertemu langsung denganmu, Senjaku,” jawab Bumi dengan suara yang dibuat sesedih mungkin.


“Uuhhhh...kasihan sekali. Padahal aku disini biasa saja tuh,” kata Senja sambil menutup mulutnya untuk menahan tawanya.


“Apa kau bilang? Kau tidak merindukanku? Kau tidak memikirkanku, Senja?” tanya Bumi.


“Tidak. Aku biasa saja,” jawab Senja yang masih menahan tawanya.


“Wah, wah, wah...bisa-bisanya aku setengah mati merindukanmu disini, tapi kau malah tidak merindukanku sama sekali,” ucap Bumi dengan kesal.


“Kenapa harus rindu?” seloroh Senja lagi.


Kali ini Bumi tak marah, ia malah terbahak mendengar ucapan Senja.


“Kau mempermainkanku, ya? Kau sedang menguji imanku? Ingat ya, sebentar lagi kau akan menjadi istriku. Aku akan membalas perbuatanmu nanti,” ancam Bumi dengan senyum licik di wajahnya.


“Kau mengancamku? Kau ini ternyata pendendam sekali,” cibir Senja.


“Salah sendiri. Siapa suruh kau berani mempermainkanku.”


“Aku hanya becanda.”


“Tidak, tidak, kau tadi serius mempermainkanku,” sanggah Bumi.


“Ih, kau ini, tidak mau mengalah!”


Bumi pun tergelak mendengar Senja kesal padanya.


“Iya, iya, aku juga becanda. Senja, tapi aku benar-benar merindukanmu saat ini. Aku bisa stress memikirkanmu terus. Aku sudah tidak bisa sabar lagi ingin bertemu denganmu. Lama-lama aku datangi saja rumahmu sekarang,” kata Bumi dengan sungguh-sungguh.


“Eh, jangan-jangan! Kita belum boleh bertemu. Sabar sebentar. Hanya tiga hari saja lagi,” cegah Senja.


Bumi terdengar mendengus. “Tiga hari seperti tiga abad bagiku.”


“Hahaha, kau ini lebay sekali! Oh ya, kau sedang dimana sekarang? Apa kau masih datang ke kantor?” tanya Senja mengalihkan pembicaraan.


“Iya, ragaku di kantor, pikiranku di rumahmu,” jawab Bumi yang membuat Senja kembali tergelak.


“Kau ini sekarang benar-benar berlebihan! Kenapa kau masih bekerja? Seharusnya kau sudah istirahat di rumah, ambil cuti.”


“Untuk apa aku di rumah? Aku malah tambah bingung mau mengerjakan apa di rumah.”


“Tidak! Aku tidak mau ada yang menyentuhku selain dirimu. Aku perawatannya nanti saja setelah menikah. Kau yang melakukannya, ya,” ujar Bumi dengan suara menggoda.


“Ih...tidak, tidak! Kau kan bisa suruh bayanganmu, Jefri.” Senja kembali terkekeh dengan ucapannya sendiri.


“Tidak. Aku tidak mau dia menyentuhku,” bantah Bumi.


“Hahahaha...kau lucu sekali,” seloroh Senja.


“Ck, kau senang sekali sepertinya melihat aku tersiksa seperti ini. Lihat saja nanti, aku akan benar-benar menghukummu kalau kita sudah menikah nanti.”


“Memang kau mau menghukumku seperti apa?”


“Wah...kau berani menantangku juga, ya. Tenang saja. Hukuman ini tidak akan membuatmu sakit, tapi membuatmu enak.”


“Ish, dasar mesum!” gerutu Senja.


“Loh, mesum kenapa? Memang aku mau menghukummu bagaimana? Aku saja belum bilang apa-apa, kau yang berpikiran kesana. Berarti kau yang mesum,” tuduh Bumi.


“Ih...sudah ah, aku tutup dulu telfonnya. Kau jangan terlalu lelah bekerja, ya. Jaga kesehatanmu, Sayang.”


“Ulang sekali lagi.”


“Sayang. Aku mencintaimu, Bumiku.”


“Aku juga mencintaimu, Senjaku.”


Bumi pun memutuskan panggilan itu. Wajahnya kembali berseri-seri mendengar ungkapan cinta dari Senja. Padahal tadi padi dia selalu uring-uringan karena memikirkan Senjanya. Tapi sekarang mendengar suara Senja saja, bisa membuat mood nya baik lagi.


Jefri yang baru masuk ke ruangan bosnya itu dapat menerka, jika bosnya sedang bahagia seperti itu, pasti ada hubungannya dengan Senja. Ia tak mau mengganggu kebahagiaan bosnya. Ia hanya diam berdiri di dekat meja kerja Bumi.


“Kau kenapa diam disitu? Kau tidak ada kerjaan lain?” tanya Bumi keheranan. Padahal Jefri sudah bela-belain hanya diam berdiri di tempat karena tidak mau mengganggunya, dia malah memandang Jefri dengan penuh heran seperti itu.


“Maaf, Tuan. Saya lihat Tuan sedang bahagia sekali sepertinya. Jadi saya menunggu saja sampai Tuan selesai.”


“Selesai apa?”


“Selesai berkhayal tentang Nona Senja,” jawab Jefri sambil terkekeh.


“Ck, kau bisa saja. Pasti mau minta tanda tangan kan? Mana berkasnya?”


Jefri pun memberikan berkas kepada Bumi lalu Bumi mulai membaca dan menandatanganinya.


“Selama aku cuti menikah nanti, tolong atur pekerjaan dengan baik. Mungkin aku akan susah dihubungi. Maklumlah pengantin baru, kau mana tau. Pacar saja tidak punya. Eh, kau tidak punya pacar kan?” Bumi malah bertanya yang tidak-tidak.


“Tidak, Tuan,” jawab Jefri dengan lemah.


“Carilah, Jef. Umurmu juga sudah tidak muda lagi. Tapi nanti saja carinya tunggu aku selesai pulang bulan madu, biar kau fokus pada pekerjaanmu,” ucap Bumi seenaknya.


“Baik, Tuan,” sahut Jefri lagi-lagi dengan lemah.


.


Bersambung...