
“Senja!”
Senja yang tadi berniat pergi ke toilet jadi menghentikan langkahnya saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya dari belakang. Senja menoleh ke arah suara. Ia terkejut karena tak menyangka ada Marcel disana.
“Marcel? Kau?”
Marcel mendekati Senja. Ia melihat ke kiri kanan, koridor itu sepi tidak ada orang yang lewat. Sepertinya ada hal yang penting mau ia sampaikan.
“Aku mau bicara sesuatu padamu,” ucap Marcel yang terlihat seperti sedang memikirkan sesuatu. Dia yang biasa bersikap santai kini tampak lebih serius.
“Aku tidak menyangka kau diundang juga ke acara ini,” sindir Senja.
“Nesya awalnya tidak berencana mengundangku. Tapi aku yang memaksa datang. Itu semua karena ada yang mau aku sampaikan pada dirimu. Aku tau kau tidak akan mau bertemu denganku lagi, makanya aku memaksa datang kesini,” jawab Marcel.
“Bicaralah cepat! Apa yang mau kau sampaikan?” Senja sebenarnya malas bertemu Marcel lagi setelah kemarin memergoki pria itu dan Nesya di apartemen.
Marcel maju selangkah dan hendak meraih tangan Senja, tapi dengan cepat Senja menepisnya.
“Don't touch me!” ketus Senja.
“Okay, okay, fine. Aku tidak akan menyentuhmu. Aku tau kau pasti masih merasa marah setelah tau aku ada hubungan dengan Nesya. Tapi kalau boleh jujur, aku tidak memiliki perasaan apapun padanya, Senja,” ucap Marcel dengan sungguh-sungguh.
“Itu bukan urusanku!”
“Aku tau itu bukan urusanmu. Tapi...Senja...aku...aku mencintaimu, Senja. Aku tulus mencintaimu,” ucap Marcel dengan tulus.
Senja cukup terkejut dengan ungkapan perasaan Marcel padanya. Marcel memang sudah lama mengejarnya dari sejak mereka masih kuliah di universitas yang sama di luar negeri. Tapi Senja tidak tau kalau Marcel akan seserius itu padanya.
Kepala Senja mendadak berdenyut dengan ungkapan cinta Marcel barusan. Sudah dua orang yang berbicara tentang cinta padanya. Kemarin Bumi, sekarang malah Marcel. Bedanya, saat Marcel yang berbicara, Senja tak sedikitpun merasakan getaran di hatinya.
“Aku rasa kau sudah tau apa jawabanku. Dari dulu sampai sekarang tidak akan berubah. Kau hanya teman sekampusku. Tidak lebih!” tolak Senja dengan tegas. Ia juga tidak ingin memberi harapan pada seseorang. Kalau tidak cinta, ya langsung katakan saja apa adanya.
“Senja, aku mohon beri aku satu kesempatan. Aku benar-benar mencintaimu, Senja. Aku tidak pernah seserius ini sebelumnya. Aku janji akan berubah dan meninggalkan kebiasaanku. Kau wanita yang baik dan aku ingin kau menjadi pendamping hidupku,” bujuk Marcel.
“Kalau kau ingin wanita yang baik untuk pendamping hidupmu, aku juga begitu. Aku ingin pria baik-baik yang akan menikahiku nanti. Pria yang tulus mencintaiku dan pastinya tidak suka main perempuan! Apa kau pikir akan adil bagiku jika aku mendapat pria yang suka bermain perempuan? Dan satu hal yang harus kau tau, mengubah kebiasaan itu tidak semudah membalikkan telapak tangan, Marcel. Aku harap kau paham apa maksudku.”
“Tapi aku mencintaimu, Senja. Aku janji akan berubah!” ucap Marcel yang terkesan memaksa.
“Tapi aku tidak. Mencintai itu harus dari kedua belah pihak. Tidak bisa sepihak. Aku minta maaf, tapi aku tidak bisa menerimamu!” Senja masih bertahan dengan keputusannya.
Marcel merasa kecewa. Hatinya merasa sakit ditolak mentah-mentah oleh Senja. Senja pikir tak ada yang perlu dibahas lagi. Ia ingin meninggalkan tempat itu tapi Marcel dengan cepat menarik sebelah tangannya. Marcel masih merasa berat menerima penolakan Senja, gadis yang diincarnya sejak masih di kampus dulu.
“Senja, please give me a chance!” ucap Marcel sambil memohon.
“No Marcel, tolong lepaskan tanganku! Aku sudah menolakmu. Aku mohon mengertilah,” pinta Senja.
“Tapi aku benar-benar mencintaimu, Senja.”
“Tapi aku tidak. Lepaskan tanganku sekarang!” Senja merasa Marcel makin kuat memegang tangannya. Pria itu malah menatapnya dalam-dalam.
“Lepaskan tangannya!”
Terdengar suara seseorang mendekati mereka. Ternyata itu adalah Dimas. Dimas segera mendorong Marcel sehingga genggaman tangannya pada Senja terlepas.
Marcel tentu tak terima didorong begitu saja. Ia balas mendorong Dimas bahkan sudah mencengkram kerah kemeja milik Dimas. Dimas pun balas mencengkram kerah kemeja Marcel.
“Jangan ikut campur urusanku dan Senja!” ketus Marcel.
Marcel mendengus. “Kau bukan siapa-siapanya! Jangan sok jadi pahlawan disini!”
“Aku memang bukan siapa-siapa disini, tapi kalau kau berani menyakiti Senja, aku tidak akan segan-segan memberi pelajaran padamu! Dan kalau aku mau, aku bisa dengan mudah meminta bodyguardku untuk menendangmu dari sini!”
“Jangan sombong, Tuan! Kau bukan keturunan keluarga Dirgantara! Kau hanya anak sambungnya!” ucap Marcel yang membuat Dimas naik darah.
Dimas sudah mengangkat tangannya ingin memberi tinjunya kepada Marcel tapi Senja dengan cepat menahan tangannya.
“Dimas cukup! Sudah Dimas, jangan sampai ada keributan di acara kakakmu! Marcel, lepaskan Dimas! Kalian jangan seperti anak kecil!” teriak Senja meleraikan kedua pria itu.
Barulah Dimas dan Marcel saling melepaskan cengkraman mereka. Mereka pun saling membenarkan kerah kemeja mereka yang berantakan.
Senja tau Dimas sangat tersinggung dengan kata-kata Marcel. Ia pun mendekati Dimas dan memegang lengannya agar pria itu merasa tenang.
“Tidak usah pikirkan kata-katanya barusan. Aku berterima kasih kau mau membelaku,” ucap Senja dengan lembut.
Dimas pun melunak lalu mengusap kepala Senja dengan lembut. “Aku akan selalu melindungimu, Senja. Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu,” ucap Dimas dengan sungguh-sungguh.
Senja pun mengangguk, lalu Dimas merangkulnya dan mengajaknya pergi dari tempat itu.
Marcel mengepalkan tangannya melihat kemesraan Dimas dan Senja. Dia sangat iri karena Dimas bisa seakrab itu dengan Senja. Ia sangat cemburu. Tak pernah rasanya ia merasakan cemburu seperti ini sebelumnya.
Dan ternyata yang cemburu akan kemesraan Dimas dan Senja bukan hanya Marcel saja. Bumi yang awalnya ingin menemui Senja juga sempat melihat kejadian barusan. Kejadian dimana Marcel menarik tangan Senja. Belum sempat ia membela Senja, Dimas sudah lebih dulu pergi mendekatinya.
Seharusnya aku yang disana membelamu, Senja. Aku yang harusnya selalu menjadi malaikat pelindungmu. Gumam Bumi dalam hati.
Bumi baru saja ingin pergi dari sana, tapi tiba-tiba ia malah melihat Nesya menghampiri Marcel.
“Marcel, kenapa kau ada disini?” tanya Nesya.
“Aku baru bicara dengan Senja,” jawab Marcel dengan malas.
“Lalu? Bagaimana?” tanya Nesya penasaran.
“Aku rasa kau tau jawabannya,” jawab Marcel dengan lemah.
Nesya pun mendekat ke arah Marcel dan mengusap-usap pundaknya.
"Aku sudah pernah bilang bukan? Aku tau bagaimana Senja. Apalagi setelah dia tau tentang hubungan kita. Dia tidak mungkin menerimamu,” ucap Nesya yang membuat Bumi melebarkan matanya.
Hubungan? Hubungan apa maksudnya? Kenapa mereka terlihat sangat dekat? Tanya Bumi dalam hati.
“Sudahlah, aku mau pulang saja,” ucap Marcel.
“Baiklah. Hati-hati di jalan. Tenangkanlah pikiranmu dulu."
Setelah melihat Marcel pergi, Bumi pun segera pergi meninggalkan tempat itu dan menemui Jefri. Ia tampak membisikkan sesuatu pada Jefri. Entah apa yang ia bisikkan, yang jelas Jefri hanya mengangguk dengan patuh.
Bersambung...
***
Biar nggak pada galau terus, aku kasih bab no. 66 supaya kalian sedikit terhibur ya. Hehehe ✌ Selamat membaca dan terimakasih banyak atas komentar baik kalian 🤗 Sambung besok lagi yaa...