Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
120. Bumiku, Langitku, Dirgantaraku


Bumi dan keluarganya, beserta keluarga Senja sedang menunggu di depan kamar tempat Senja dirawat. Mereka menunggu dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Senja. Ketika tadi Bumi sedang berbicara pada Senja, gadis itu meresponse nya dengan membalas genggaman tangan Bumi. Tak hanya itu saja, bibirnya pun mulai bergerak-gerak seolah ingin mengatakan sesuatu. Bumi pun dengan cepat memanggil dokter untuk memeriksa Senja. Dan saat ini mereka sedang menunggu hasilnya.


Semua menunggu dengan cemas. Mereka berharap Senja bisa segera sadar dari komanya. Sudah cukup lama Senja mengalami koma. Tanpa adanya Senja, hidup mereka terasa sepi dan tak ceria seperti biasanya.


“Kenapa dokternya lama sekali? Apa yang mereka lakukan pada Senjaku?” gerutu Bumi dengan tak sabaran.


“Sabar, Bumi. Mereka sedang memeriksa Senja,” kata Tuan Dirgantara menenangkan putranya yang begitu tak sabar ingin mengetahui keadaan Senja saat ini.


“Aku ingin melihatnya,” desak Bumi.


“Untuk apa? Memangnya kau dokter? Sudah, sabar sebentar!” ucap Tuan Dirgantara yang sudah tak mau dibantah.


Bumi hanya bisa mendengus tak sabaran menunggu hasil pemeriksaan dokter di dalam. Dari raut wajahnya memang hanya dia saja yang terlihat paling cemas dan tak sabar. Jefri yang berdiri di sampingnya hanya bisa diam melihat tingkah bosnya itu. Kalau sudah berhubungan dengan Senja, dia lupa apa itu artinya sabar.


“Dia posesif sekali pada anak kita,” bisik Andika pada Liliana.


“Itu karena dia sangat mencintai Senja,” sahut Liliana juga ikut berbisik.


“Papa tidak yakin Senja mengenalinya,” bisik Andika lagi.


“Kenapa? Papa mendo'akan anak kita amnesia?”tanya Liliana sambil menaikkan sebelah alisnya.


“Bukan. Tapi penampilannya sekarang berbeda. Dengan rambut dan brewok seperti itu, belum lagi badannya yang sudah kurus, apa Senja bisa mengenalinya?”


“Kenapa tidak? Kalau sudah cinta, orang yang buta saja bisa mengenali yang mana kekasihnya,” kata Liliana membela calon menantunya.


Andika berdecih. “Bela terus calon menantunya.”


“Papa sih, bertanya yang bukan-bukan.”


Andika tak membalas lagi. Kalau dibalas, bisa panjang urusannya.


Tak lama pintu ruangan itupun dibuka dari dalam. Dokter dan perawat yang memeriksa Senja keluar dengan wajah yang berbinar.


“Bagaimana keadaan anak saya, Dokter?” tanya Andika ingin tahu.


“Nona Senja sudah sadar, Tuan. Nona Senja sudah bangun dari komanya. Dan kabar baiknya lagi, sejauh ini Nona Senja ingatannya baik-baik saja. Tadi saya mencoba bertanya siapa namanya dan keluarganya, Nona Senja bisa menjawab dengan baik,” jawab dokter itu yang membuat mereka semua bernafas lega.


“Boleh kami melihatnya sekarang, Dokter?” tanya Andika.


“Boleh, tapi hanya satu orang saja dulu yang.....”


Belum selesai dokter itu berbicara, Bumi sudah langsung menerobos masuk ke dalam sehingga membuat yang lain tercengang melihatnya.


“Maafkan anak saya, Tuan. Mungkin dia terlalu rindu dengan Senja,” ucap Tuan Dirgantara yang tak enak hati pada Andika.


“Tidak apa-apa, Tuan. Saya bisa memakluminya,” jawab Andika dengan terpaksa. Padahal niat hati, dia dulu yang ingin melihat Senja, tapi sudah keduluan dengan calon menantunya.


Sementara di dalam, Bumi berjalan dengan tergesa mendekati Senja. Ia berdiri di samping Senja yang kini sudah membuka matanya.


Bumi pun meraih tangan Senja dan mengusapnya dengan lembut lalu mengecupnya dengan penuh kasih. Ia pun menunduk mendekatkan wajahnya di hadapan Senja.


“Senja, kau sudah sadar? Cahaya Senjaku sudah kembali menemui Buminya lagi,” ucap Bumi dengan suara bergetar.


Senja melihat pria di depannya itu dengan penuh iba, dia bisa mengenali dengan baik siapa pria di depannya. Meskipun pria itu matanya sudah cekung dengan lingkaran hitam, rambut pada rahangnya menutupi sebagian wajahnya, tapi ia tetap bisa mengenalinya.


Tangan Senja bergerak dengan tertatih hendak menyentuh wajah Bumi. Bumi membantu mengarahkan tangan Senja untuk memegang wajahnya. Bumi dapat merasakan tangan Senja perlahan mera-ba wajahnya meskipun pelan tak berdaya. Wajar saja, Senja sudah cukup lama mengalami koma, syaraf-syaraf ototnya sudah lama tak digerakkan. Karena itu, ia masih belum bisa menggerakkan anggota tubuhnya dengan sempurna.


Dari sudut mata Senja, tiba-tiba keluar airmata kerinduan yang selama ini ia pendam. Ia juga merasa iba melihat pria yang dicintainya berubah menjadi seperti ini. Ia dapat merasakan betapa tersiksanya Bumi selama ia tak sadarkan diri.


“Jangan menangis, aku baik-baik saja. Kita sudah bersama sekarang, kita tidak akan terpisah lagi,” ucap Bumi sambil menyeka airmata Senja dengan satu tangannya yang lain.


Senja pun mengangguk samar mengiyakan perkataan Bumi.


“Yang terpenting sekarang, kau sudah sadar dan tidak lupa denganku, Senja. Kau masih ingat kan siapa yang ada di depanmu ini?” tanya Bumi kemudian.


Senja kembali mengangguk. Mulutnya tampak bergerak perlahan hendak mengatakan sesuatu.


“Kau... Bumiku... Langitku... Dirgantaraku...”ucap Senja dengan sangat pelan nyaris tak terdengar.


Pecahlah sudah tangis bahagia dari seorang Bumi Langit Dirgantara. Ia dengan cepat mengangguk membenarkan Senja. Ia pun mencium kening Senja dalam-dalam agak lama. Dengan sadarnya Senja, terbayar sudah kerinduan yang selama ini membelenggu jiwa dan raganya.


Tentu aku selalu mengingatmu Bumiku, Langitku, Dirgantaraku. Aku tidak akan pernah melupakan tatapan matamu yang selalu menatapku dengan penuh cinta. Batin Senja.


"Terimakasih untuk selalu mengingatku. Terimakasih untuk selalu menyimpan namaku dalam ingatanmu," ucap Bumi dengan suaranya yang serak karena menangis.


"Terimakasih juga sudah menungguku selama dua bulan ini," sahut Senja dengan terbata.


Saat diperiksa oleh dokter tadi, dokter yang menjelaskan kalau dirinya sudah mengalami koma selama dua bulan lamanya.


Bumi tiba-tiba menggelengkan kepalanya membuat Senja bingung dan bertanya-tanya dalam hati.


"Lebih tepatnya aku menunggumu selama dua bulan, tiga hari. Tidak ada satu haripun yang terlewatkan dalam hitunganku Senja. Dan di tiap hari itu, aku selalu meminta satu hal, aku selalu meminta agar kau segera membuka matamu dan kembali menatapku seperti ini," ucap Bumi yang membuat Senja kembali tersentuh hatinya.


Ia makin yakin, Bumi sangat tersiksa menunggunya sadar dari koma.


"Maaf," ucap Senja dengan lirih.


Bumi kembali menggelengkan kepalanya. "Kau tidak salah. Ini bukan salah kita. Takdir hanya sedang menguji seberapa besar cinta kita. Dan sekarang kita sudah sama-sama bisa membuktikan bahwa tak akan ada kisahnya Bumi tanpa Senja. Kita ditakdirkan bertemu untuk disatukan dalam cinta, bukan untuk dipisahkan selamanya."


Senja makin terharu dengan kata-kata pria di depannya. Ia pun tersenyum tapi juga menangis dalam waktu yang bersamaan. Dia merasa sangat beruntung dicintai pria yang tulus seperti Bumi. Pria yang dulu ia temui secara tidak sengaja tapi kini justru bertahta dalam hatinya.


.


Bersambung...