Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
127. Kita Adalah Keluarga


Sesuai permintaan Senja, hari ini Jefri pergi ke rumah sakit tempat Nesya dirawat. Jefri bertemu dengan dokter Eka dan langsung mengutarakan niatnya datang kesana.


“Saya kesini atas perintah dari Tuan Muda Dirgantara. Tuan Muda meminta agar pasien bernama Nesya dibebaskan jika memang kondisinya sudah kembali normal. Tuan Muda juga meminta surat keterangan dari rumah sakit ini yang menerangkan bahwa Nona Nesya sudah sembuh dan diperbolehkan pulang,” kata Jefri secara langsung.


Dokter Eka merasa lega mendengarnya. Akhirnya kesabaran Nesya selama ini dibalas dengan pembebasannya. Jiwanya juga sudah kembali sehat dan normal seperti biasa. Jadi memang sudah seharusnya ia dikeluarkan dari rumah sakit itu. Ditambah lagi saat ini pribadinya sudah berubah menjadi jauh lebih baik dari sebelumnya. Ia berhak mendapat kesempatan untuk hidup lebih layak dibandingkan dengan hidup di rumah sakit itu.


“Saya senang mendengar berita ini, Tuan Jefri. Saya akan mengurus surat keterangannya sekarang juga. Kalau boleh, tolong sampaikan terimakasih saya untuk Tuan Dirgantara dan Tuan Bumi Dirgantara. Saya mengerti mereka adalah orang-orang yang baik dan sangat bijaksana,” ucap dokter Eka dengan raut wajah bahagia.


“Baiklah, akan saya sampaikan. Setelah ini, Dokter juga bisa menghubungi orang tuanya untuk menjemputnya pulang.”


“Baik, Tuan. Tentu akan saya lakukan.”


Dokter Eka pun segera menyiapkan apa yang Jefri minta. Setelah selesai dokter Eka mengantarnya pulang hingga ke pintu depan rumah sakit.


Saat melewati satu koridor, Jefri yang tengah berjalan dengan dokter Eka dikejutkan oleh salah satu pasien yang tiba-tiba muncul di depan lalu mengangetkannya.


“Baaaaaa! Sayangku...!” teriak pasien itu lalu memegang sebelah lengan Jefri dengan erat.


Jefri tentu saja sangat terkejut dan merasa risih diperlakukan seperti itu. Belum lagi melihat pasien wanita itu memakai lipstick merah menyala yang melebihi garis bibirnya, dan pewarna alis yang hitam pekat menutupi alisnya. Sungguh, Jefri merasa apes sekali saat itu.


“Sayangkuuuu...kita ngopi yuk, Sayangku...” kata pasien itu sambil menunjukkan cangkir plastik kecil di tangannya.


Jefri pun segera menepis cangkir itu dari hadapannya. “Menyingkir dariku! Apa kau ini sudah gila melakukan ini padaku?” hardik Jefri dengan kesal.


“Sayangku jangan galak-galak! Aku cuma mau mengajakmu ngopi-ngopi. Kau tidak punya uang ya untuk membeli kopi?” kata pasien itu lagi sambil memainkan alisnya naik turun sehingga membuat Jefri bertambah risih.


Cih, dia bilang aku tidak punya uang untuk beli kopi. Dia belum tau saja, aku bahkan bisa membeli kopi dengan warungnya sekalian! Umpat Jefri dalam hati.


“Dokter, lakukan sesuatu!” bentak Jefri yang sudah tak tahan lagi.


“Baik, Tuan. Maaf ya Tuan, mereka memang seperti ini.”


Dokter Eka pun mulai membujuk pasien itu agar mau melepaskan tangan Jefri. Lalu ada petugas lain yang segera membawa pasien itu ke kamarnya.


Jefri pun mendengus lalu berjalan cepat keluar dan meninggalkan rumah sakit itu.


“Lama-lama disana aku bukan jadi gila, tapi bisa darah tinggi melihat kelakuan mereka! Hah, gara-gara wanita tadi bilang soal kopi, aku malah jadi teringat Jingga lagi,” umpat Jefri lalu menjalankan mobilnya kembali lagi ke kantornya.


***


Setelah mengantar Jefri, dokter Eka segera menghubungi keluarga Nesya dan ia pun pergi memberitahu Nesya yang sedang berada di ruangannya.


Mendengar kabar bahwa dirinya akan segera pulang ke rumah hari itu, Nesya pun langsung menangis terharu. Ia memeluk dokter Eka dan tak berhenti mengucapkan terimakasih pada dokter itu.


“Terimakasih, Dokter. Terimakasih banyak sudah banyak membantu merubahku dan menyadarkanku,” ucap Nesya di sela isak tangisnya.


Nesya pun melerai pelukannya dan mengangguki perkataan dokter Eka. Selanjutnya Nesya pun bersiap-siap untuk bertukar pakaian karena orang tuanya akan segera menjemputnya.


Awalnya Nesya mengira hanya kedua orang tuanya saja yang datang menjemputnya pulang, tapi ternyata ada Marcel juga disana yang ikut bersama mereka.


“Nesya...” lirih Tari dengan airmata yang sudah lolos membasahi pipinya.


“Mama...” ucap Nesya dengan suara bergetar.


Nesya pun berlari lalu berhamburan masuk ke pelukan ibunya. Ia memeluk ibunya dengan erat. Ia terus menangis terisak dalam pelukan sang ibu.


“Maafin Nesya, Ma. Maafin, Nesya. Maafin Nesya karena sudah membuat keluarga kita malu,” ucap Nesya di sela isak tangisnya.


“Tidak, Sayang. Tidak. Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Syukurnya kau masih bisa menebus kesalahanmu ini. Kau masih diberi kesempatan untuk berubah, Sayang. Mulai sekarang Mama dan Papa janji akan lebih memperhatikanmu, Nak,” bujuk Tati sambil mengusap punggung putrinya.


Nesya pun melerai pelukannya pada Tari dan beralih memeluk ayahnya, Adrian.


“Papa, Nesya minta maaf juga sama Papa. Maafkan Nesya sudah membuat Papa kecewa,” ucap Nesya dengan penuh penyesalan.


“Papa juga minta maaf padamu. Semua ini berawal dari kesalahan yang Papa lakukan. Sekarang Papa janji akan terus mendampingimu dan lebih memperhatikanmu lagi, Sayang. Kau beruntung masih mendapat kebaikan hati dari sepupumu, Senja. Dia memaafkanmu dan meminta agar kau bebas dari sini. Untuk itu, kau harus merubah hidupmu dan jangan sia-siakan kesempatan ini,” kata Adrian menasehati.


“Iya, Pa. Nesya menyesali semua perbuatan Nesya dulu. Nesya ingin segera minta maaf langsung pada Senja, Pa.”


“Baiklah, kita ke rumah Om Andika mu kalau begitu.”


Sementara itu Marcel hanya bisa tersenyum melihat perubahan pada diri Nesya. Ia juga ikut terharu melihat keluarga itu sudah bersatu kembali.


Setelah dari rumah sakit, mereka pun segera mendatangi rumah Andika. Saat itu Andika tidak ada di rumah karena masih di perusahaannya. Hanya ada Liliana dan Senja saja yang menyambut kedatangan mereka.


Ketika bertemu dengan Senja disana, Nesya langsung menangis dan berlutut di hadapan Senja saking ia menyesal dengan perbuatannya yang telah lalu. Senja tentu tak tinggal diam. Ia meminta Nesya untuk bangun dan langsung memeluknya.


“Kak, kau tidak perlu melakukan hal itu. Kita semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Aku sudah memaafkanmu, Kak. Aku juga sudah kembali sehat seperti semula. Dan aku sangat senang melihatmu juga sudah kembali normal,” ucap Senja yang masih memeluk Nesya.


“Tapi aku merasa bersalah. Aku terlalu jahat padamu, Senja. Aku tidak pantas menjadi sepupu dari orang sebaik dirimu,” kata Nesya menyesali perbuatannya.


Senja pun melerai pelukannya dan menatap Nesya. “Kak, kita ini keluarga. Keluarga Wijaya. Sekuat apapun kita berusaha pungkiri, kita tetap adalah sebuah keluarga. Sebagai keluarga sudah seharusnya kita saling memaafkan dan mendukung satu sama lain ke arah yang lebih baik. Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi, Kak Nesya. Aku tidak punya saudara lain selain dirimu. Kau tetap akan selalu menjadi seorang kakak bagiku.”


Nesya sangat tersentuh dengan perkataan Senja. Senja benar-benar seperti malaikat tak bersayap di matanya. Ia pun mengangguki perkataan Senja dan kembali memeluk adik sepupunya itu. Orang tua mereka pun tersenyum karena ikut bahagia sekaligus bangga melihat anak-anak mereka bisa mempunyai ikatan persaudaraan yang kuat seperti itu.


.


Bersambung...