Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
107. Dihantui Rasa Takut


Marcel yang mendapat informasi dari Catherine bahwa Nesya sedang berada di sebuah hotel langsung pergi menuju hotel tersebut. Ia merasa sangat khawatir kalau Nesya akan merencanakan sesuatu yang macam-macam pada Senja.


Sesampainya disana, Marcel masuk ke dalam kamar hotel dengan bantuan dari pihak hotel sebab beberapa kali Marcel mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban dari dalam. Setelah berhasil masuk, Marcel pun segera mencari keberadaan Nesya.


“Nesya....Nesya.....kau dimana?” teriak Marcel sambil mencari keberadaan Nesya dengan panik.


Tiba-tiba Marcel melihat ada sepasang kaki dibalik gorden jendela kamar hotel itu. Marcel mengerutkan keningnya. Ia merasa aneh, apa benar itu Nesya? Kalau iya, kenapa dia bersembunyi dibalik gorden itu?   


Marcel pun perlahan mendekati sepasang kaki yang tampak itu. Marcel yakin itu pasti Nesya.


“Nesya,” panggil Marcel dengan lembut.


Nesya yang mendengar ada suara seseorang mendekatinya, malah menggelengkan kepalanya dengan cepat. Lalu ia duduk menekuk kakinya dan memeluk kakinya itu serta menunduk ketakutan.


Marcel pun menarik gorden yang menyembunyikan Nesya di baliknya.


“Tidak...Bukan aku...Ak-aku tidak membunuhnya. Bukan aku pelakunya.... bukan aku...” teriak Nesya pada dirinya sendiri.


Marcel pun berjongkok mendekati Nesya. “Hei, Nesya. Ini aku, Marcel. Ada apa denganmu?” tanya Marcel sambil menyibak rambut Nesya yang menutupi wajahnya.


“Bukan aku.... bukan aku yang salah.....” kata Nesya yang sudah mulai menangis.


“Hei, look! Look at me!” Marcel mendongakkan wajah Nesya agar melihat ke arahnya.


“Ini aku, Marcel. Ada apa denganmu? Siapa yang mengganggumu sampai kau seperti ini? Ada apa ini, Nesya?” tanya Marcel lagi sambil menatap kedua mata Nesya.


Nesya pun menyadari pria di depannya itu adalah Marcel. Ia pun langsung memeluk Marcel dengan erat sambil ketakutan.


“Marcel, tolong bawa aku pergi dari sini! Tolong sembunyikan aku, Marcel! Tolong sembunyikan aku!” pinta Nesya sambil menangis tersedu-sedu.


“Oke, oke. Sabar dulu. Sekarang kita sebaiknya pergi ke apartemenku dulu. Kau bisa cerita padaku nanti di apartemen,” bujuk Marcel.


Ia pun segera membereskan barang milik Nesya lalu pergi meninggalkan hotel itu menuju ke apartemennya. Sepanjang perjalanan Nesya tampak seperti orang yang sangat ketakutan. Marcel tak pernah melihat Nesya seperti ini sebelumnya.


Baru saja sampai di apartemen, sudah ada panggilan masuk dari Adrian di handphone Marcel.


“Hallo, Tuan.”


“Marcel, apa Nesya ada bersamamu?” tanya Adrian yang terdengar sangat khawatir.


Marcel melihat ke arah Nesya yang sedang duduk di atas sofa sambil menekuk kakinya dan memeluk kedua kakinya itu.


“Ada, Tuan. Dia bersama saya,” jawab Marcel dengan jujur.


“Dari tadi aku menghubungi handphone-nya tapi tidak diangkat. Kalian ada dimana sekarang? Beritahu pada Nesya, Senja baru saja mengalami kecelakaan dan masuk rumah sakit. Kondisinya sangat parah saat ini,” ucap Adrian.


Deg.


Marcel terkejut mendengar kabar itu. Ia kembali melihat ke arah Nesya. Ia teringat perkataan Nesya saat di hotel tadi. Apa mungkin Nesya adalah dalang dibalik semua ini? Ditambah lagi Nesya tampak ketakutan dan berkali-kali mengatakan kalau dia bukan pembunuh. Rasanya Marcel makin curiga saja dengan wanita itu.


“Hallo Marcel, kau masih disana?” tanya Adrian saat tak mendengar suara dari Marcel.


“I-iya, Tuan. Saya disini. Saya akan beritahu Nesya secepatnya. Disini hujannya sangat deras, Tuan. Saya rasa tunggu hujan agak reda baru kami akan menyusul ke rumah sakit. Di rumah sakit mana Senja dirawat, Tuan?”


“Baik, Tuan.”


Adrian pun memutuskan panggilan itu. Sementara Marcel menatap Nesya dengan penuh curiga. Melihat Nesya yang ketakutan seperti itu, ia yakin ini ada sangkut padanya dengan kecelakaan yang dialami Senja.


Marcel pun mendekati Nesya dan duduk di sebelahnya.


“Nesya, tadi papamu menelfon. Dia bilang Senja masuk rumah sakit karena kecelakaan,” ucap Marcel yang membuat Nesya menoleh ke arahnya dengan ekspresi terkejut.


“Senja kecelakaan?” ulang Nesya.


Marcel mengangguk.


“Kecelakaan...dia masih hidup?” tanya Nesya lagi.


“Dia masih hidup tapi kondisinya sangat parah saat ini, dia sedang dirawat di rumah sakit Dirgantara,” jawab Marcel.


Mendengar kata Dirgantara, pikirannya malah tertuju pada Bumi. “Apa Bumi ada disana bersamanya?” tanya Nesya.


“Aku tidak tau. Kenapa kau malah menanyakan Bumi?” tanya Marcel kemudian.


“Kenapa Bumi sangat mencintai Senja, Marcel? Kenapa dia tidak mencintaiku?” tanya Nesya dengan wajah sedihnya.


“Apa maksudmu?” tanya Marcel keheranan. Ia tak mengerti kenapa Nesya malah menanyakan hal itu saat ini. Padahal dia barusan mengabarkan tentang keadaan Senja, sepupunya.


Nesya pun mulai menangis lagi. “Kau tau, Bumi mencintai Senja. Sangat mencintai Senja. Aku melihat mereka beberapa kali bermesraan bersama. Aku sakit hati, Marcel. Aku sakit hati!” teriak Nesya.


Raut wajah yang tadi sedih kini berubah menjadi sinis. “Itu sebabnya malam ini aku ingin menjebaknya di hotel agar dia tidur dengan laki-laki lain. Aku ingin Bumi membencinya! Aku ingin Bumi berhenti mencintainya! Aku benci Senja! Aku benci dia! Aku benci!” teriak Nesya lagi seperti orang hilang akal.


“Nesya tenangkan dirimu! Apa kau gila? Senja itu sepupumu sendiri! Kenapa kau tega mau menjebaknya?” tanya Marcel dengan penuh kekesalan.


“Karena aku benci dia! Aku benci dia yang selalu dicintai semua orang! Dia selalu dibanggakan semua orang! Dan lihat sekarang, lihat! Bahkan Tuhan pun menggagalkan rencanaku untuk menjebaknya! Kenapa semua yang aku mau tidak bisa aku dapatkan? Aku benci hidupku!” teriak Nesya lagi.


Marcel menggelengkan kepalanya karena tak menyangka Nesya akan berbuat senekat itu. Padahal setau Marcel hubungan mereka berdua baik-baik saja. Marcel pun curiga, Senja keluar malam ini saat hujan deras pasti karena Nesya.


“Jawab aku, Nesya! Apa kau yang meminta Senja keluar malam ini sebelum dia kecelakaan?” tanya Marcel sambil memegang kedua lengan Nesya.


Wajah Nesya berubah ketakutan. Ia pun menunduk lalu menggelengkan kepalanya.


“Aku tidak membunuhnya. Aku tidak membunuhnya,” jawab Nesya dengan suara bergetar.


Setelah itu ia mendongak menatap Marcel dan tertawa seperti orang yang kehilangan akalnya.


“Ha...ha...ha...ha...Senja sudah seharusnya pergi dari muka bumi ini! Aku benci dia! Aku benci dia merebut Bumi dariku! Biarkan dia pergi dari dunia ini. Biarkan dia meninggalkan Bumi! Hanya aku yang pantas untuk Bumi. Bumi adalah tunanganku!” teriak Nesya lagi lalu ia kembali tertawa sekeras-kerasnya.


Marcel malah bergidik ngeri melihat Nesya seperti itu. Ia melepaskan tangannya. Ia merasa Nesya sudah mulai kehilangan akalnya.


Aku harus beritahu Tuan Adrian. Sepertinya putrinya mulai mengalami gangguan jiwa. Ucap Marcel dalam hati.


.


Bersambung...