
Hari demi hari kondisi Senja semakin membaik. Saat ini ia hanya perlu fokus pada penyembuhannya saja lagi. Selain itu, ia juga harus banyak latihan gerak untuk melatih kembali otot-ototnya yang sudah dua bulan tidak digerakkan. Sepanjang pengobatan Senja, tak ada satu hari pun yang terlewati oleh Bumi untuk menemani kekasihnya. Meskipun sesekali ia harus mondar-mandir ke kantornya, tapi ia selalu menyempatkan diri untuk menemani Senja terapi menggerakkan ototnya.
Seperti hari ini, setelah menyelesaikan meeting di kantor, Bumi langsung menyusul ke rumah sakit untuk menemani Senja terapi meskipun disana sudah ada Liliana yang menemaninya. Senja dilatih untuk berjalan dengan perlahan sambil berpegangan pada besi yang ada di sisi kiri dan kanannya. Bumi juga ikut berada di samping Senja dan ikut berjalan perlahan di sampingnya. Sementara Liliana berdiri di depan menunggu Senja.
Senja pun mulai menggerakkan kakinya perlahan dan berjalan sambil memegang besi di sisi kiri dan kanan. Bumi terus menyemangati kekasihnya itu dengan sabar sambil mensejajari langkahnya.
“Kau hebat, ayo coba lagi! Gerakkan kakimu pelan-pelan untuk melangkah,” ucap Bumi menyemangati.
Senja hanya tersenyum sekilas ke arah Bumi sambil terus berusaha melangkahkan kakinya. Ia terus berjalan dengan tertatih sampai ke ujung.
“Yesss! Kau berhasil!” seru Bumi.
“Kau bisa, Sayang! Kau hebat!” Liliana ikut menyemangati Senja.
“Kalau maju lagi masih bisa tidak?” tanya Bumi sambil merentangkan tangannya pada jarak beberapa langkah di depan Senja.
Senja tampak ragu-ragu, pasalnya di kiri kanan sudah tak ada besi untuk dipegang lagi.
“Ayo, Senjaku! Aku menunggumu,” ucap Bumi yang masih merentangkan tangannya. Ia sengaja melakukan itu. Ia ingin menguji apakah Senja bisa melangkahkan kakinya tanpa perlu bantuan pegangan lagi.
Senja yang tadi tampak ragu kini mulai melangkahkan kakinya lagi dengan perlahan meskipun tak ada besi penyangga di sampingnya. Melihat Bumi merentangkan tangan menunggunya, membuat ia tak sabar ingin segera masuk ke dalam dekapan hangat yang sudah lama ia rindukan.
Aku bisa! Aku pasti bisa! Aku tidak mau mengecewakan Bumi yang sudah menungguku disana. Aku pasti bisa berjalan menghampirinya. Senja menyemangati dirinya sendiri dalam hati.
Senja berusaha keras melangkahkan kakinya setapak demi setapak ke depan. Melakukan hal itu saja sampai membuatnya sampai berkeringat. Tapi ia terus mencoba melangkah maju. Ia yakin, ia pasti bisa sampai kesana.
Senja pun makin dekat jaraknya dengan Bumi. Saat jarak antara mereka hanya tersisa satu langkah lagi, Senja tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena terlalu terburu-buru ingin cepat sampai. Akhirnya ia pun terjatuh dan Bumi langsung dengan sigap menyambutnya.
Grep!
Senja masuk ke pelukan Buminya.
“Kau berhasil!” ucap Bumi pada Senja.
Senja pun mengangguk bahagia. “Kau yang membuatku berhasil berjalan. Terimakasih selalu setia menemaniku,” balas Senja dengan terharu.
Mereka saling menatap dengan lekat. Karena terlalu terbawa suasana sehingga tak sadar Bumi semakin mendekatkan wajahnya ke arah Senja.
“Ekhem!” deheman yang keras dari Andika membuat mereka terkejut lalu menjauhkan wajah mereka.
Andika yang baru sampai disana berhasil mengganggu Bumi dan Senja. Lagian yang benar saja, masa iya mereka mau begituan di ruang terapi?
Bumi dan Senja jadi canggung. Bumi segera membantu Senja berdiri tegak di sampingnya sambil merangkul pinggang Senja agar tidak jatuh. Liliana dan dokter yang ada disana hanya terkekeh melihat tingkah kedua manusia itu.
“Senja masih butuh perawatan, bukan ciuman!” ketus Andika pada Bumi secara terang-terangan.
Lalu ia mengambil Senja dari Bumi dan membantu Senja berjalan dan duduk kembali di kursi rodanya.
“Bumi hanya membantu Senja berjalan saja, Pa,” ucap Senja membela kekasihnya.
“Iya, tapi sambil mencari kesempatan juga,” sanggah Andika.
Kali ini Bumi mati kutu, ia tak dapat membantah calon mertuanya itu. Ia hanya menggaruk keningnya yang tidak gatal. Ia juga menyesal kenapa tadi malah terlena terbawa suasana. Ah, cherry dan strawberry itu selalu berhasil menghilangkan akal sehatnya.
“Sudah, jangan dibahas lagi! Nanti mereka malu,” kata Liliana menengahi.
“Papa ih, sudah, sudah! Mending kita tanya dokter bagaimana perkembangan Senja,” usul Liliana.
“Jadi, bagaimana dokter perkembangan anak saya?” tanya Andika pada dokter yang menangani Senja.
“Nona Senja mengalami kemajuan pesat dalam berjalan. Saya yakin, beberapa hari lagi, Nona Senja pasti sudah bisa berjalan seperti biasa. Yang penting Nona harus sering-sering latihan menggerakkan otot-ototnya. Jangan lupa untuk istirahat yang cukup juga, mengkonsumsi makanan sehat dan bergizi, serta minum vitamin yang diresepkan dokter,” jawab sang dokter menjelaskan panjang lebar.
“Baik, dokter. Terimakasih penjelasannya,” ucap Andika.
“Tuh Sayang, kata dokter, sebentar lagi anak Mama ini sudah bisa berjalan normal seperti biasa,” kata Liliana menyemangati anaknya.
Senja pun tersenyum bahagia. “Senja sangat senang mendengarnya. Terimakasih ya Mama, Papa, sudah selalu menemani Senja. Terimakasih juga Bumi, kau selalu menemaniku dan memberi dukungan padaku,” ucap Senja dengan tulus.
“Tidak perlu berterima kasih. Aku malah senang melakukannya. Aku berharap kau segera sehat lagi dan kita akan segera menikah setelah kau kembali pulih.”
Andika langsung membesarkan matanya mendengar Bumi bilang ingin segera menikahi Senja.
“Tunggu Senja pulih dulu! Kasihan dia kalau masih sakit tapi sudah harus melayanimu,” ucap Andika.
“Aku hanya memintanya menikah denganku, bukan melayaniku Papa Mertua,” jelas Bumi.
“Sama saja. Memangnya setelah menikah, kau tidak mau dilayani?” tanya Andika.
“Aku sih terserah Senja saja. Kalau Senja mau, kenapa aku harus menolaknya?” balas Bumi.
“Tapi Senja masih sakit,” bantah Andika.
“Dia akan segera sembuh, Papa Mertua. Apa Papa tidak bisa mendengar apa yang dokter katakan tadi?” Bumi masih tak mau kalah.
“Iya, aku dengar. Tapi dia belum boleh terlalu lelah.”
“Lelah kenapa? Memang aku meminta dia membersihkan rumah?”
“Bukan lelah yang itu maksudku, tapi lelah yang lain. Pokoknya Senja anakku tidak boleh lelah untuk hal apapun!”
“Dia tidak akan lelah. Aku bisa jamin itu.”
“Bagaimana bisa kau membuatnya tidak lelah?”
Liliana dan Senja dari tadi bolak balik bergantian melihat ke arah Andika dan Bumi. Kedua pria di depan mereka malah meributkan hal tidak jelas yang membingungkan mereka.
“Sudah! Sudah! Kalian ini kenapa sih selalu ribut setiap bertemu?!” bentak Liliana menengahi keduanya.
“Dia tu, Ma!” ucap Andika dan Bumi nyaris bersamaan.
“Sudah! Kalian berdua sama saja! Senja juga butuh ketenangan. Dia bisa pusing melihat kalian yang selalu bertengkar seperti kucing dan tikus saja. Sudah Senja, ayo kita pergi saja!”
Liliana pun mendorong kursi roda Senja dibantu oleh dokter untuk meninggalkan ruangan itu. Andika dan Bumi saling membuang muka lalu ikut menyusul Senja.
.
Bersambung...