Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
103. Firasat Bumi


Pagi-pagi sekali Nesya sudah datang ke rumah Andika. Ia berencana untuk mengantar tas dan sepatu pesanan Liliana yang akan dipakai hari itu untuk ke sebuah acara. Sesampainya disana orang yang ia temui malah Senja. Nesya pun tak melewatkan kesempatan ini untuk melampiaskan kekesalannya.


“Kak Nesya, tumben pagi-pagi sekali kesini. Ayo kak, sekalian kita sarapan bersama!” ajak Senja dengan ramah.


“Tidak perlu. Aku hanya ingin mengantar ini untuk Tante Lili. Katanya mau dipakai hari ini. Sekalian aku lewat, jadi aku mampir kesini,” jawab Nesya sambil memberikan sebuah paper bag yang langsung diterima oleh Senja.


“Oh, oke, Kak. Mama masih di atas sebentar lagi turun. Kak Nesya betulan tidak mau ikut sarapan?” tawar Senja lagi.


Nesya mendengus. “Tidak usah berpura-pura baik di depanku!” ketus Nesya.


Senja mengerutkan dahinya. Ia merasa aneh kenapa Nesya tiba-tiba seperti tidak suka padanya.


“Maksud kakak?” tanya Senja tak mengerti.


“Aku sudah tau kau ada hubungan dengan Bumi kan? Dan aku yakin, pasti kau juga yang memberitahunya tentang hubunganku dan Marcel. Aku tidak menyangka, kau tega sekali merebut tunangan sepupumu sendiri Senja,” jawab Nesya dengan penuh kesal.


“Aku tidak pernah membongkar rahasiamu pada Bumi,” sanggah Senja.


“Oh ya? Kau pikir aku percaya? Dari awal aku sudah curiga melihat kedekatanmu dan Bumi. Dan sekarang semuanya sudah terbukti. Kau memang berniat merebutnya dariku! Kau puas kan sekarang? Kau merebut satu-satunya kebahagiaan dalam hidupku! Tak bisakah kau melupakan Bumi dan mencari pria lain saja?”


“Kak, aku tidak ada urusannya dengan rahasiamu yang terbongkar. Seharusnya kau introspeksi diri, ini semua karena kau yang masih berhubungan dengan Marcel padahal kau sudah bertunangan dengan Bumi. Kenapa jadi aku yang disalahkan?” Senja tentu tak terima dituduh seperti itu. Apalagi memang bukan dia yang memberitahu Bumi tentang hubungan Nesya dan Marcel.


“Hah, kau lucu sekali! Masih saja mau mengelak. Kau senang kan bisa mendapatkan Bumi sekarang? Sudahlah, aku malas bicara lagi padamu. Aku juga malas menganggapmu sebagai sepupuku lagi!”


Setelah mengatakan itu, Nesya pun pergi dari rumah Senja. Ia tak mau berlama-lama disana karena tak ingin Andika ataupun Liliana melihatnya bertengkar dengan Senja. Sementara Senja termenung melihat kepergian Nesya. Ia tak menyangka sepupunya itu malah membenci dirinya.


***


Kejadian saat bertemu Nesya tadi pagi membuat Senja kehilangan mood nya sepanjang hari. Bahkan ia susah sekali berkonsentrasi untuk bekerja hari ini sehingga banyak pekerjaannya yang belum selesai.


Saat jam lima sore, handphone-nya bergetar. Ada pesan yang masuk dari Bumi untuknya. Ia pun segera membaca pesan itu.


“Apa kau mau melihat matahari terbenam lagi? Kalau mau, aku jemput.”


Setelah membaca pesan itu Senja melihat ke luar jendela yang ada di ruangannya. Cuaca tampak mendung sore itu. Senja pun membalas pesan dari Bumi.


“Di luar gelap. Aku rasa akan hujan. Lagipula aku banyak kerjaan hari ini. Lain waktu saja, ya.”


Tak lama Bumi membalas pesan Senja.


“Kalau makan malam bersama, mau? Tiba-tiba aku merindukanmu. Kita ketemuan, ya?” Balas Bumi disertai emoticon sedih di akhir.


Senja tersenyum membaca pesan itu. Hari ini mood nya sedang tidak bagus. Ia malas bertemu siapapun hari ini. Ia pun kembali membalas pesan Bumi.


“Besok saja, ya. Besok kita melihat kembaranku bersama. Setelah itu makan malam.” Senja mencoba membujuk Bumi.


“But I miss you now,” balas Bumi dengan cepat.


“If you miss me, you can see the sunset, my twin,” (kalau kau merindukanku, kau bisa melihat matahari terbenam, kembaranku) balas Senja disertai emoticon senyum di akhir.


“Sunset nya tidak ada hari ini, tertutup mendung.” Bumi masih berusaha meluluhkan Senja.


“Same as me,” balas Senja singkat.


Tak lama setelah pesan Senja yang terakhir dibaca Bumi, handphone Senja pun berdering karena ada panggilan masuk dari Bumi.


“Hallo,” sapa Senja saat menjawab panggilan dari Bumi.


“Senja, aku tidak suka kau bicara seperti itu,” kata Bumi tiba-tiba. Dari nada suaranya terdengar sangat serius sekali.


“Tentu saja.”


“Dimana salahnya?”


“Same as me. Kamu tadi bilang same as me. Kamu bilang kamu tidak ada seperti sunset hari ini,” jawab Bumi dengan nada khawatir.


“Oh...aku pikir apa. Ya maksudku hari ini kan kita tidak bisa bertemu dulu. Aku punya banyak sekali pekerjaan yang harus diselesaikan,” kata Senja berusaha menenangkan Bumi.


“Aku jadi khawatir padamu,” ucap Bumi yang sudah menurunkan nada suaranya.


“Tidak usah khawatir, aku baik-baik saja,” ucap Senja.


“Ya sudah, pulang nanti aku jemput, ya?”


“Tidak usah, aku pulang dengan papaku.”


“Tapi firasatku tiba-tiba tidak enak.”


“Bumiku, Langitku, Dirgantaraku, percayalah, aku baik-baik saja saat ini. Nanti setelah bekerja, aku akan pulang bersama papaku. Aku tidak akan kemana-mana lagi, aku mau istirahat saja di rumah. Tidak ada yang harus dikhawatirkan,” kata Senja meyakinkan Bumi.


Bumi terdengar menghembuskan nafas dengan berat. “Baiklah. Jaga dirimu baik-baik, Senja. Jangan terlalu lelah dalam bekerja! Kau harus jaga kesehatanmu. Dan ingat, jangan keluar lagi malam-malam setelah pulang dari kantor. Kau harus istirahat yang banyak,” kata Bumi panjang lebar.


“Iya, iya, Sayangkuuuu,” sahut Senja.


“Eh, apa tadi kau bilang?” tanya Bumi.


“Iya, Bumiku,” jawab Senja sengaja meledek Bumi.


“Bukan. Tadi kau tidak bilang itu,” protes Bumi.


“Tidak ada siaran ulang. Cukup sekali saja. Sudah dulu ya, aku masih banyak pekerjaan. Aku mencintaimu, Bumiku.”


“Aku juga mencintaimu, Senjaku.”


Bumi pun memutuskan panggilannya. Ia melihat ke arah luar jendela, memang benar langit tampak mendung sore itu. Entah mengapa ia merasa sangat merindukan Senja dan ingin sekali bertemu dengan gadis pujaan hatinya itu.


“Ah, aku ingin sekali segera menikahinya agar bisa bertemu dengannya setiap hari. Baru satu hari tidak bertemu saja, aku sudah serindu ini,” gumam Bumi pada dirinya sendiri.


Di tempat lain ada Nesya yang mondar-mandir di ruangannya menunggu telepon dari seseorang. Seseorang yang akan ia mintai bantuan untuk menjebak Senja. Begitu handphone-nya berdering, ia pun dengan cepat menjawab panggilan itu.


"Hallo, bagaimana? Kau bisa?" tanya Nesya tak sabaran.


"Baiklah, aku bisa. Tapi ingat, jangan libatkan aku jika sesuatu yang buruk terjadi padamu! Dan jangan lupa, transfer dulu setengahnya ke rekeningku sekarang juga!" jawab penelepon di seberang sana.


"Kau tidak perlu khawatir, yang penting malam ini juga aku mau rencanaku berhasil. Kirim nomor rekeningmu sekarang, aku akan segera mentransfer bayaranmu!" ucap Nesya.


"Baik, Nona," sahut penelepon itu.


Setelah menerima SMS dari penelepon tadi, Nesya dengan cepat mengirimkan uang sebesar dua ratus lima puluh juta sesuai kesepakatan. Ia tak peduli jika uangnya terkuras banyak demi melancarkan balas dendamnya. Ia pun tersenyum licik membayangkan rencananya akan berhasil nanti malam.


Rupanya setelah bertemu Senja tadi pagi, kekesalannya pada Senja semakin bertambah. Ia sangat tidak sabar ingin memberikan pelajaran pada Senja. Ia berpikir bahwa ia harus segera memberi pelajaran pada Senja sebelum pernikahannya dan Marcel dilaksanakan.


.


Bersambung...