Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
88. Tidak Akan Ada Yang Memisahkan Bumi dan Senja


Bumi menunduk dan benar-benar menempelkan bibirnya pada bibir Senja sehingga membuat gadis itu melebarkan matanya.


Dia menciumku? Pekik Senja dalam hati.


Senja merasa dadanya bergetar begitu hebat. Nafasnya terasa tercekat saat harum nafas Bumi merasuk ke dalam rongga hidungnya. Ia seakan tak bisa berbuat apa-apa. Ciuman Bumi begitu melenakannya.


Merasa Senja hanya diam tak menolaknya, Bumi tersenyum dalam hati. Dengan berani ia mulai memagut bibir merah muda yang sudah lama diidam-idamkannya. Ah, ternyata rasanya lebih manis dari buah cherry, wanginya lebih harum dari strawberry. Kalau sudah begini rasanya ia ingin terus dan terus merasakannya lagi.


Senja makin mencengkram erat kedua bahu Bumi saat merasakan bibirnya dipagut lebih dalam oleh Bumi. Bumi pun mengeratkan pelukannya pada pinggang Senja karena tak rela bibir itu menjauh dari bibirnya. Mereka berhasil membuat iri sang rembulan yang bersembunyi dibalik awan. Bintang pun malu-malu untuk menunjukkan kilaunya.


Hei, lihatlah mereka masih terlena dalam kehangatan. Tak sadar angin semakin bertiup lebih kencang menyatukan awan. Hingga pada akhirnya rintik-rintik gerimis yang menegur mereka. Sabarlah dulu sampai nanti tepat pada waktunya.


Senja mengendurkan cengkramannya dan perlahan menarik wajahnya. Meski tak rela, Bumi pun melakukan hal yang sama. Bumi tersenyum melihat wajah Senja yang sudah merah merona. Wajah itu hanya tertunduk malu tanpa berani menatap kedua matanya.


Bumi pun mengangkat dagu Senja lalu mengusap bibir merah muda itu dengan lembut. Bibir yang jadi basah akibat perbuatannya. Kalau tidak ditegur oleh titisan air dari langit, malas sekali rasanya Bumi menyudahi ciuman mereka.


“Sudah mulai gerimis, kita pulang sekarang,” ucap Bumi yang diangguki Senja dengan patuh.


Bumi membuka jasnya lalu memakaikannya pada Senja.


Ah, harumnya. Gumam Senja dalam hati.


Lalu Bumi pun menggenggam tangan Senja dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Senja memang tak membawa mobil saat itu. Ia pergi kesana diantar oleh supirnya.


Sepanjang perjalanan raut wajah bahagia terlukis di wajah keduanya. Ada perasaan lega setelah mereka sama-sama jujur tentang isi hati mereka. Jika sedang berada di lampu merah, maka Bumi akan meraih satu tangan Senja lalu mengecup punggung tangan itu sambil berkata, “Aku mencintaimu.”


Senja sampai sulit untuk percaya bahwa yang sedang bersamanya saat ini adalah Bumi Langit Dirgantara. Pria yang begitu datar, dingin dan jarang tersenyum itu kini berubah sangat manis dan romantis. Kalau sudah begini, bagaimana bisa hati Senja tak berbunga-bunga. Lihatlah, pipinya tak berhenti merona merah. Rasa malu-malu dan bahagia berbaur jadi satu dalam hatinya.


Tak lama mobil pun sampai tepat di depan gerbang kediaman Tuan Andika. Senja sengaja meminta Bumi untuk tidak masuk ke dalam. Ia tak mau ayahnya tau dulu tentang hubungannya dan Bumi. Baru saja beberapa hari lalu ia meminta ayahnya untuk menjauhkannya dari Bumi, ayahnya bisa terkejut kalau tau sekarang mereka sudah sedekat ini.


“Kau yakin tidak mau aku antar sampai ke dalam?” tanya Bumi sambil menyelipkan rambut Senja ke belakang telinganya. Sejak tadi ada saja hal manis yang dilakukan pria itu pada Senjanya.


“Iya, aku yakin. Biar aku yang bicara dulu sama Papa,” jawab Senja sambil mengangguk.


“Kenapa kita tidak bicara berdua sama papamu? Aku tidak mau terkesan pengecut dan berani main sembunyi-sembunyi saja,” tanya Bumi lagi yang kini sudah menggenggam tangan Senja lalu mengusap-usap punggung tangan itu dengan ibu jarinya.


“Tenang saja, papa tidak akan berpikiran begitu. Aku akan jelaskan semua pada Papa. Nanti pasti ada waktunya Papa memintamu datang untuk menjelaskan langsung padanya,” jawab Senja berusaha meyakinkan Bumi.


“Lalu, bagaimana dengan Kak Nesya?” tanya Senja kemudian.


“Tidak perlu memikirkannya. Percaya padaku, Senja. Tidak akan ada yang mampu memisahkan Bumi dari Senjanya,” jawab Bumi dengan penuh keyakinan.


Senja pun mengangguk dengan senang. Kata-kata Bumi berhasil meyakinkannya.


“Ya sudah, aku turun dulu kalau begitu. Gerimisnya juga sudah reda. Kau hati-hati di jalan, ya,” ucap Senja malu-malu.


“Baiklah, jangan lupa makan dan istirahat yang cukup,” kata Bumi lalu mengecup sekali lagi punggung tangan Senja sebelum melepaskannya.


Senja pun mengangguk lalu turun dari mobil. Dengan langkah cepat ia berjalan melewati gerbang lalu masuk ke dalam rumahnya. Setelah memastikan Senja masuk ke dalam, barulah Bumi menjalankan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Saking bahagianya Senja saat itu, ia masuk ke dalam rumahnya sambil senyum-senyum sendirian. Ia tak sadar ayahnya melihat tingkah anehnya itu dari anak tangga.


“Ekhem...ekhem,” Andika berdehem dengan keras hingga mengagetkan Senja yang baru saja mau menapaki anak tangga paling bawah.


“Eh, Papa,” gumam Senja malu-malu lalu berlari cepat memeluk ayahnya.


“Habis bertemu penunggu pantai? Kata supir, anak Papa ini minta diantar ke pantai setelah pulang dari kantor tadi,” tanya Andika penuh curiga.


“Papa ada-ada saja,” sahut Senja sambil terkekeh.


Masa Bumi dibilang penunggu pantai. Imbuh Senja dalam hati.


“Terus kenapa senyum-senyum sendiri begini?” Andika masih penasaran.


“Tidak ada apa-apa. Senja ke kamar dulu ya, Pa. Mau mandi, bersih-bersih.” Senja dengan cepat mencium pipi ayahnya lalu kabur masuk ke dalam kamar sebelum ayahnya bertanya lebih banyak lagi.


Begitu masuk dalam kamarnya Senja langsung berlari berputar-putar hingga terjatuh di atas tempat tidurnya. Ah, betapa bahagianya dia saat itu. Ia kembali menyentuh bibirnya yang tadi sudah merasakan ciuman pertamanya dari Bumi. Rasa lembut dan hangatnya seolah masih melekat kuat disana.


Tak hanya Senja yang bertingkah aneh malam itu. Bumi pun juga melakukan hal yang sama. Sejak masuk ke rumah wajahnya selalu tersenyum bahagia. Semua penghuni rumah yang melihatnya mengerutkan kening seolah tak percaya dan bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi dengan Tuan Muda Dirgantara?


.


Bersambung...