Bumi Tanpa Senja

Bumi Tanpa Senja
118. 60 Hari Berlalu Tanpamu


Enam puluh hari telah berlalu begitu saja. Enam puluh hari itu telah mengumpulkan jutaan rindu yang menyesakkan dada. Tapi pria itu masih tetap saja setia, menunggu kekasihnya yang sedang koma untuk membuka mata.


Tahukah engkau apa itu obatnya rindu? Adalah saat kedua pasang mata saling bertemu. Itu saja cukup untuk sekedar melepas rindu. Tapi justru itulah hal yang paling dia tunggu.


Kondisi Bumi makin miris tak terurus lagi. Entah kemana hilangnya Tuan Muda Dirgantara yang gagah dan selalu berpenampilan rapi dengan setelan jas yang harganya tentu tak murah. Tubuh yang kekar karena rajin berolahraga itu kini tampak lebih pucat dan kurus. Wajahnya dipenuhi rambut yang memenuhi rahang dan dagu. Rambutnya sudah lebih panjang dan jarang tersisir rapi. Dan lihat kedua matanya, matanya kian cekung dipenuhi lingkaran hitam di sekitarnya karena kurangnya tidur baik malam maupun siang hari.


Sebisa mungkin ia memaksakan dirinya untuk tetap terjaga, agar saat Senja membuka mata, maka dia lah orang pertama yang mengetahuinya. Duduk berdiam diri di atas kursi memandangi raga yang jiwanya sedang melanglang buana, menjadi rutinitas Bumi selama dua bulan belakangan ini. Makin hari ia makin jarang bicara dengan orang-orang di sekitarnya. Setiap hari yang ada di kepalanya hanya memikirkan satu hal, yaitu Senja sadar dari komanya.


Meski sudah enam puluh hari berlalu, tapi ia masih setia menunggu.


Jefri masuk ke ruangan itu dan melihat sarapan pagi untuk Bumi tak tersentuh sama sekali di atas meja. Secuil pun tak ada yang berkurang. Padahal ini sudah menunjukkan jam makan siang. Jefri dengan makanan yang baru ia bawa menghampiri tuannya yang masih setia duduk di kursi seperti biasa.


“Tuan, saya bawakan makan siang untuk Tuan. Ini makanan kesukaan Tuan. Lebih baik Tuan makan dulu, biar saya saja yang gantian berjaga disini,” kata Jefri berusaha membujuk tuan mudanya.


Bumi hanya menggelengkan kepalanya tanpa menoleh sedikitpun pada Jefri.


“Atau Tuan mau makan disini? Biar saya siapkan mejanya, Tuan,” Jefri masih berusaha lagi.


Bumi kembali menggelengkan kepalanya, membuat Jefri bingung harus berbuat apa.


“Tuan, apa Tuan ingin sesuatu? Ingin minum atau makan sesuatu yang lain mungkin? Tuan mau kue? Atau buah? Atau....”


“Cherry,” jawab Bumi dengan pelan.


“Maaf, Tuan mau apa?” tanya Jefri yang tidak begitu mendengar jelas perkataan Bumi.


“Cherry dan strawberry. Aku mau itu,” ulang Bumi lagi.


“Baik, Tuan. Apa mau di jus sekalian Tuan?”


“Tidak. Cherry dan strawberry,” jawab Bumi lagi.


“Baik, Tuan. Saya akan membelikannya sekarang. Tuan tunggu disini sebentar,” ucap Jefri dengan terburu-buru. Mumpung ada yang diminta oleh tuannya, Jefri merasa ini adalah hal langka. Karena itu ia harus segera mencari buah-buahan tersebut.


Dengan terburu-buru Jefri pergi ke pusat perbelanjaan terdekat dan membeli buah cherry dan strawberry kualitas terbaik disana. Setelah mendapatkannya, Jefri pun segera kembali ke rumah sakit.


“Tuan, ini buah-buahan yang Tuan pesan. Biar saya cucikan dulu semuanya,” ucap Jefri lalu segera mencuci semua buah-buahan tersebut dan memberikannya pada Bumi.


Saat Bumi melihat buah cherry dan strawberry di depan matanya, ingatannya kembali pada saat dimana ia bersama Senja di pantai dulu.


“Aku...ingin cherry dan strawberry.”


“Oh, ada di mobil. Kau mau memakannya sekarang?”


“Iya, aku mau sekarang. Tapi bukan yang di mobil.”


“Cherry dan strawberry yang mana maksudmu?”


“Yang ini.”


Setetes airmatanya turun begitu saja dari pelupuk mata mengingat kenangan manis itu. Ia pun mengambil cherry dan strawberry itu lalu mulai memakannya satu per satu.


Rasanya berbeda, Senja. Manisnya tak lagi sama. Gumam Bumi dalam hati sambil terus memakan buah-buahan itu.


Jefri tertegun melihat pemandangan di depannya. Jefri yakin, ada kisah dibalik cherry dan strawberry itu sendiri. Sebab Tuan mudanya itu juga pernah secara khusus memesan gelang dengan hiasan ornamen berbentuk buah cherry dan strawberry.


Sementara itu Bumi terus memakan buah-buahan tersebut sambil melihat ke arah Senja. Ia hanya sekedar memakan buah-buahan itu tanpa menikmati rasanya. Ada air dari strawberry yang belepotan di sekitar bibirnya tak ia hiraukan, ia hanya terus makan dan makan. Malah Jefri yang berinisiatif sesekali mengelap air yang terkena jenggot tuannya itu. Ya, wajahnya kini banyak ditumbuhi rambut yang tak terurus.


Saat Bumi sedang memakan buah-buahan itu, Liliana datang untuk menjenguk Senja sekaligus membawakan sup untuk Bumi. Siang ini Andika tidak menemaninya karena ada urusan perusahaan yang harus dikerjakan. Dua bulan bolak balik ke rumah sakit, membuat Andika dan Liliana makin merasa akrab dengan Bumi. Mereka sudah menganggap Bumi seperti menantu mereka sendiri. Mereka juga sudah membahasakan diri dengan sebutan Papa dan Mama, bukan Tuan dan Nyonya seperti dulu lagi.


Liliana melihat ada beberapa kotak makanan yang masih utuh di atas meja. Bumi tampak masih asik dengan cherry dan strawberry nya. Sementara Jefri setia berdiri di samping tuannya sambil sesekali membantu membersihkan sisa buah yang menempel.


“Apa dia belum makan?” tanya Liliana pada Jefri setengah berbisik.


“Belum, Nyonya. Tuan Muda malah minta buah cherry dan strawberry. Dari tadi hanya mau makan itu saja,” jawab Jefri.


“Kau sendiri sudah makan siang?”


“Belum, Nyonya.”


“Ya sudah, kau makanlah dulu. Biar saya yang disini.”


“Baik, Nyonya. Terimakasih. Kalau ada apa-apa, Nyonya bisa segera hubungi saya.”


“Iya, jangan khawatir!”


Jefri pun keluar untuk mengisi perutnya. Sementara ia berusaha untuk mendekati Bumi.


“Bumi, sudah dulu makan buahnya. Terlalu banyak makan buah juga tidak baik. Mama bawakan sup untukmu,” ucap Liliana.


Bumi menghentikan makannya lalu menoleh ke arah Liliana. “Aku makan ini saja,” sahut Bumi sambil menunjukkan strawberry di tangannya lalu ia lanjut memakannya lagi.


“Kamu juga harus makan yang lain. Tubuhmu sudah kurus sekali. Mama masak makanan kesukaan Senja. Sup ayam. Senja dulu sangat suka makan sup buatan Mama,” ucap Liliana lagi yang membuat Bumi menghentikan makannya.


“Senja suka sup ayam?” tanya Bumi.


Liliana pun mengangguk. “Iya, dia suka sekali. Dia bisa habis dua mangkuk sendiri loh kalau makan sup buatan Mama. Kau makan juga, ya. Cobain sup nya. Kau pasti suka. Mumpung masih hangat,” jawab Liliana sambil berusaha membujuk Bumi.


Akhirnya Bumi pun mengangguk. “Tapi aku mau makan disini.”


“Boleh. Sebentar Mama ambilkan.”


Liliana merasa senang Bumi mau juga dibujuk olehnya. Ia pun segera memberikan sup ayam buatannya pada Bumi. Melihat Bumi mau memakan masakannya, ada rasa sedih menjalar di hati Liliana. Ia teringat malam dimana Senja mendapat kecelakaan, waktu itu Senja tak sempat memakan sup ayam buatannya.


.


Bersambung...