
Setelah menimbang secara matang, akhirnya Lintang menyetujui permintaan Andreas untuk pergi ke Singapura. Menunaikan amanah yang diberikan sang suami. Meskipun berat, Lintang mencoba memikulnya. Ia duduk di tepi ranjang meraih foto Yudha yang ada di nakas. Menatapnya dalam-dalam, mengurai rasa rindu yang membelenggu.
Hatinya tersayat, kepergian Yudha memberikan banyak tanda tanya yang tak kunjung ada jawaban.
Jika meninggal, di mana jasadnya? Walaupun masih hidup, kenapa tidak pulang?
"Mas, aku akan pergi ke Singapura dengan Bian dan pak Andreas, doakan aku semoga urusannya berjalan dengan lancar, ini pertama kalinya aku harus menggantikan posisi kamu di depan klien.''
Mata Lintang berkaca, mengelus perutnya yang kian membuncit, itu adalah anugerah yang membuatnya bisa berdiri sampai saat ini. Setiap melihat foto sang suami, ia tak bisa menyembunyikan kesedihannya yang mendarah daging. Namun, ada dua malaikat yang masih bisa menenangkan hatinya. Putrinya yang belum lahir dan Lion.
Bu Indri masuk menghampiri Lintang. Mengusap lembut kepala wanita itu, ia tahu jika sang menantu masih terhanyut dengan suasana duka. Namun, itu harus tetap dilewati dengan tegar.
"Mama akan siapkan baju kamu." Bu Indri mengambil koper yang ada di atas lemari. Mulai memasukkan satu persatu baju Lintang yang ada di lemari.
"Ma, masukkan beberapa baju mas Yudha. Aku nggak bisa tidur kalau belum memeluk baju dia."
Faktanya, waktu empat bulan lebih pun tak cukup menghilangkan hangatnya pelukan Yudha. Seakan tangan sang suami masih setia merengkuhnya saat Lintang memakai bajunya.
Untuk yang kesekian kali hati bu Indri teriris mendengar permintaan sang menantu.
Bu Indri meletakan baju tidur, baju kerja dan juga baju santai milik Yudha di tengah-tengah baju Lintang, tak lupa meletakkan parfum putranya itu di antara alat make up Lintang.
"Jangan lupa makan. Minum susu, tidur yang teratur, jangan banyak melamun. Sayangi bayi kamu."
"Iya, Ma," jawab Lintang singkat. Ia memakai jaket yang sudah disiapkan lalu keluar.
Bu Indri menyeret koper dari belakang. Mengikuti langkah Lintang menghampiri Andreas dan Bian yang ada di depan.
Lintang memeluk seluruh keluarganya bergantian, air matanya luruh seketika saat Bu Fatimah mencium keningnya.
"Percayalah, dibalik musibah akan ada anugerah yang jauh lebih indah. Jika kita masih diuji dengan masalah dunia. Itu artinya Allah sayang pada kita."
Menguatkan hati Lintang untuk sekuat baja.
"Lion, Mama pergi dulu. Mama akan segera kembali untuk Lion, jangan nakal. Kalau kangen, Lion telpon mama," pinta Lintang mencium pipi gembul putranya.
Tidak ada ucapan apapun dari bibir mungil bocah itu. Namun, tatapannya menunjukkan harapan besar pada Lintang.
Lambaian demi lambaian mengiringi perpisahan Lintang dan keluarganya. Ia harus rela dan siap untuk sering kali melakukan itu. Meninggalkan rumah demi pekerjaan.
Di dalam pesawat
Lintang menatap ke arah luar jendela. Menikmati pemandangan dibawah, mengusir kegundahan yang masih bersemayam.
Bian yang duduk di samping sang kakak itu pun tersenyum, setelah sekian lama tenggelam dalam luka, akhirnya bisa melihat wajah Lintang lumayan berseri.
Tangannya menggenggam erat lengan Bian saat pesawat mulai mendarat, jantungnya berdebar. Ini pengalaman pertama Lintang naik pesawat. Namun sayangnya, bukan orang tercinta yang bersamanya, melainkan adik tiri dan sang asisten.
Lintang mengusap perutnya yang terasa mual. Menatap Andreas yang ada di belakangnya. Menarik tangan Bian.
"Bian, kepalaku pusing, bisa nggak kita istirahat sebentar."
Lintang menyeret kakinya yang terasa berat. Matanya mulai berkunang saat mentari menerpa wajahnya.
"Silahkan, Bu."
Andreas menggiring Lintang ke arah kursi yang ada di depan bandara. Setelah semua duduk, Bian mengoles minyak angin di kaki sang kakak yang sedikit bengkak.
"Kakak nggak papa, kan?"
Wajah Lintang nampak pucat hingga membuat Bian khawatir. Kelelahan Lintang memang tak bisa di disembunyikan dari siapapun termasuk adik tirinya, meskipun mencoba baik-baik saja, tetap saja guratan itu tetap nampak.
Lintang menggeleng sambil tersenyum.
"Kakak belum terbiasa saja. Maaf kakak merepotkan kamu dan pak Andreas."
Ia menghubungi seseorang. Entah siapa, Lintang pun tak ingin ikut campur dengan urusan sang asisten.
"Bian, kita harus bawa Bu Lintang ke rumah sakit."
Andreas berjalan lebih dulu, diikuti Lintang dan Bian dari belakang, ingin menolak, namun kali ini sepertinya Lintang tak kuat lagi dan harus memeriksakan kandungannya.
Lintang tak banyak bicara. Menahan perutnya yang terasa nyeri. Sesekali mencengkram tangan Bian yang ada di samping nya.
Aaawww
Lintang meringis saat merasakan tendangan hebat dari putrinya. Seolah-olah ada sesuatu yang diinginkan bayinya.
Andreas melajukan mobilnya lebih cepat lagi saat melihat wajah Lintang.
"Sabar ya, Nak. Kita OTW ke rumah sakit." Mengelus perutnya yang masih terus bergerak liar.
Setelah membelah jalanan selama tiga puluh menit, akhirnya Lintang dan rombongan tiba di rumah sakit.
Andreas langsung membawa Lintang pada dokter kandungan, meskipun belum menikah, pria itu sangat lihai mengambil langkah.
Bian dan Andreas menunggu di luar, sedangkan Lintang masuk setelah ruangan dokter itu kosong.
"Kenapa suaminya tidak masuk, Nyonya?" tanya dokter cantik yang memakai seragam khas rumah sakit.
Lintang tersenyum kecut.
"Suami saya tidak ikut, Dok. Yang di luar itu adik dan asisten suami saya."
Dokter itu manggut-manggut dan mulai memeriksa Lintang.
"Wow…. keren."
Dokter wanita itu heran saat melihat gerakan perut Lintang. Seperti anak kecil saat mendapatkan hadiah yang di sukai, itulah ia mengatakannya.
Gerakan cepat ke kanan kiri sehingga membuat Lintang meringis kesakitan.
"Anak Nyonya sehat. Dia baik-baik saja. Sekarang Anda harus istirahat dan olahraga yang teratur supaya proses kelahirannya berjalan lancar."
Lintang terbangun setelah dokter itu menutup perutnya, ia turun dengan pelan lalu duduk di kursi pasien, menunggu resep dari sang dokter.
" Terima kasih, Dok. Saya peemisi dulu." Lintang keluar dari ruangan itu menghampiri Bian dan Andreas yang duduk di kursi stainles.
"Sudah selesai, Bu?" tanya Andreas berdiri, mengambil kertas yang ada di tangan Lintang.
"Sepertinya pertemuan dengan klien diundur nanti malam, aku capek."
"Baik, Bu. Nanti saya akan atur waktunya."
Baru beberapa langkah, Lintang menghentikan ayunan kakinya saat melihat beberapa dokter yang berlari kecil ke arah ujung, wajah mereka nampak panik sambil berbicara dengan serius.
"Bu Lintang," panggil Andreas yang sudah menjauh darinya.
Dada Lintang tiba-tiba terasa sesak. Seperti ada aliran magnet yang menariknya dari belakang.
"Sepertinya disana ada pasien yang kritis." Menunjuk pada tim medis yang masuk ke sebuah ruangan.
"Biasa, Bu. Ini rumah sakit, pasti ada saja pasien yang seperti itu."
Lintang melanjutkan langkahnya. Mengusap dadanya yang masih terasa bergemuruh. Setibanya di parkiran, lagi-lagi ia Lintang dikejutkan dengan seseorang yang ia kenal.
Seorang wanita dengan langkah buru-buru membuat Lintang membeku.
"Itu kan, Claire. "