
Bu Indri yang mendapat telepon dari kantor kepolisian itu langsung pingsan. Tak sanggup mendengar kabar duka yang menimpa anak dan menantunya. Organ tubuhnya seakan ikut mati. Pasalnya, itu semua seperti mimpi. Baru saja mereka bercakap dan bercanda, bahkan Lintang sempat meminta ibu mertuanya memasak kesukaannya, namun tiba-tiba saja mereka mengalami kecelakaan.
"Mobil pak Yudha meledak. Korban masih dalam pencarian, Pak. Kami akan semaksimal mungkin menemukan Bu Lintang dan Pak Yudha secepatnya," ujar Polisi pada Pak Radit lewat sambungan telepon.
Itu artinya Yudha dan Lintang tidak terbakar dalam mobil itu. Dan kemungkinan besar mereka selamat.
"Apa keluarga Lintang sudah tahu tentang kejadian ini?" tanya pak Radit dengan bibir bergetar. Menguatkan diri sendiri untuk tidak runtuh. Sesekali melihat sang istri yang berbaring di ranjang dengan mata terpejam.
"Sudah, Pak," jawab Polisi dengan tegas.
"Bagaimana pun caranya, temukan anak dan menantu saya," tegas pak Radit lirih. Benda pipihnya jatuh, tubuhnya lemas dan ikut ambruk di tepi ranjang.
Ya Allah, selamatkan Yudha dan istrinya. Bagaimana nasib Lion jika sampai mereka tiada. Jangan sampai dia kehilangan kedua orang tuanya.
Buliran bening lolos membasahi pipi pak Radit.
Sama seperti bu Indri, keadaan Bu Fatimah jauh lebih mengenaskan. Wanita itu menangis histeris di pelukan pak Juli. Memukul dada suaminya dengan keras.
"Tenang, Bu. Lintang dan Yudha pasti ditemukan, Ibu yang sabar." Pak Juli merengkuh punggung Bu Fatimah yang bergetar hebat.
Pak Juli menatap Lion yang nampak terlelap. Tak bisa membayangkan reaksi Lion jika tahu keadaan orang tuanya.
Pak Juli mengusap pipinya lalu beranjak menggiring Bu Fatimah ke ranjang. Membaringkan wanita itu di samping Lion.
"Ibu jagain Lion di rumah, biar aku yang membantu polisi mencari Lintang dan Yudha."
Pak Juli memegang kedua lengan Bu Fatimah. Hatinya tersayat melihat kesedihan sang istri, bahkan saat ini dadanya terasa sesak hingga harus mensuplai oksigen untuk bernapas.
"Tapi ibu ingin ikut kesana, Yah. Ibu ingin mencari Lintang dan Yudha," kekeh Bu Fatimah, matanya tak henti-hentinya menitihkan air mata.
"Lalu, bagaimana dengan Lion? Pasti dia akan sedih jika tahu mama dan papanya kecelakaan. Kita harus menjaganya, jangan sampai dia mendengar berita ini."
Bu Fatimah mengangguk berat. Meskipun dari lubuk hati yang terdalam ingin ikut ke lokasi kejadian, tetap saja ia harus memikirkan cucunya.
Pak Juli mengganti baju koko nya dengan kemeja yang berwarna navy. Memakai celana hitam lalu mengambil jaket, menghampiri Bu Fatimah dan mencium keningnya.
"Ibu berdoa saja, aku tidak akan pulang sebelum Lintang ditemukan."
"Ibu pegang janji, Ayah. Jangan sampai pulang dengan tangan kosong. Bawa Lintang dalam keadaan selamat."
Pak Juli mengangguk. Meninggalkan rumah dengan penuh keyakinan.
Tiga puluh menit kemudian, Pak Juli sudah tiba ditempat kejadian perkara. Di sana sudah sangat ramai. Banyak polisi dan warga yang berdatangan. Pak Radit dan beberapa orang terdekat pun sudah ada di lokasi, termasuk Andreas.
Kedua orang tua itu saling peluk. Saling menguatkan satu sama lain untuk bisa tegar menghadapi kenyataan pahit yang menimpa anak mereka.
Yudha maupun Lintang adalah anak satu-satunya di keluarga masing-masing, dan itu pasti akan menjadi musibah besar jika sampai terjadi sesuatu pada sepasang suami istri tersebut.
"Bagaimana, Pak? Apa sudah ada tanda-tanda tentang anak dan menantu saya?" tanya Pak Juli antusias.
"Mobil pak Yudha meledak. Tim kami sudah turun ke bawah. Karena tempatnya yang sangat dalam, kami tidak bisa leluasa mencarinya. Mungkin akan menunggu besok."
Seketika Andreas menarik kerah polisi itu. Amarahnya tak bisa dibendung lagi mendengar pernyataan itu.
"Bapak jangan bicara sembarangan. Bagaimana kalau pak Yudha dan bu Lintang kedinginan. Bagaimana kalau nanti malam turun hujan. Apa bapak akan membiarkan mereka di dalam sana." Menunjuk jurang yang tampak gelap gulita.
"Saya tidak setuju, bagaimanapun juga malam ini kita akan melakukan pencarian," imbuhnya.
Andreas merampas lampu senter yang ada di tangan polisi dan memakai di kepalanya. Mengambil satu lagi untuk persediaan. Ia memasang pengaman untuk turun. Tidak ada yang bisa ia pikirkan selain keselamatan Yudha.
"Andreas, Ini sudah terlalu malam, apa tidak sebaiknya kita menunggu polisi." Pak Radit menggenggam tangan sang asisten. Meskipun ia cemas dengan keadaan Yudha dan Lintang, tetap saja harus memikirkan pria itu juga.
"Benar kata pak Radit, sebaiknya kita menunggu polisi," imbuh pak Juli.
"Bapak tenang saja, saya akan membawa pak Yudha dan bu Lintang kembali."
Andreas mengucapkan dengan penuh keyakinan.
"Hati-hati! Aku akan menunggumu di sini."
Andreas turun ke jurang itu ditemani beberapa petugas. Ia langsung menuju ke titik lokasi, di mana mobil Yudha itu hangus terbakar.
Matanya berkaca saat ia mendekati bangkai besi itu. Tangannya gemetar saat memastikan tubuh bos nya tidak ada di sana. Dadanya gemuruh hebat, bayangan Yudha selalu melintas di otaknya.
Enam tahun bersama, banyak pelajaran yang dipetik Andreas dari seorang Yudha. Tak hanya dalam dunia bisnis namanya dikenal, namun cara bagaimana bos nya itu menyayangi seluruh keluarganya dengan cara yang berbeda. Selalu menjunjung tinggi Bu Indri. Membangun rumah tangga yang hangat bersama orang-orang terkasih.
Aku yakin Pak Yudha dan Bu Lintang jatuh di sekitar sini.
Andreas mengedarkan pandangannya. Menyalakan senter yang ada di tangannya. Matanya berusaha menembus kegelapan yang dipenuhi kabut. Tempat yang ditumbuhi semak itu terasa sangat mengerikan. Suara jangkrik menjadi hiasan telinga Andreas hingga bulu halusnya berdiri.
"Pak Yudha, Bu Lintang," teriak Andreas sekencang-kencangnya. Kakinya mulai melangkah menyusuri rerumputan. Tangannya menyibak dedaunan yang sangat lebat, tak peduli dengan duri-duri yang mulai menancap di tangannya, Andreas tidak ingin mengecewakan pak Radit yang berharap penuh pada dirinya.
Hampir satu jam Andreas dan tim yang bertugas berada di dasar jurang. Mereka tidak menemukan apa-apa. Hanya sesekali binatang yang melintas membuat mereka terkejut.
"Sepertinya kita harus kembali dan melanjutkan pencariannya besok," ujar salah satu tim yang sudah merasa kelelahan.
Andreas membisu. Membayangkan nasib Yudha dan Lintang saat ini, pasti kesakitan dan penuh luka.
"Tidak, aku tidak akan kembali sebelum mereka ditemukan," sergah Andreas melanjutkan langkahnya menuju ke arah tempat yang lain.
Semua orang menghela napas.
Menatap punggung Andreas berlalu. Terpaksa mereka mengikuti pria itu dari belakang.
Pak Yudha, Bu Lintang, kalian dia mana.
Andreas berhenti sejenak. Mengusir rasa lelah yang mulai menyelimuti. Demi sebuah janji yang diucapkan, ia tak ingin kembali tanpa kedua majikannya itu.