Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 103. Ulang tahun pernikahan


Sore ini Yudha mengajak Lintang dan Lion jalan-jalan ke Lion park, salah satu tempat wisata gratis yang ada di Singapura. 


Merlion adalah sebuah patung dengan kepala singa dan berbadan ikan yang sudah menjadi maskot Singapura. Nama Merlion merupakan gabungan dari “mermaid” dan “lion” atau dalam bahasa Indonesia adalah ikan duyung dan singa.


Taman Merlion Park buka 24 jam setiap hari. Siapapun yang ingin berkunjung kesana tanpa membutuhkan uang, sehingga dapat menghemat biaya perjalanan. Selain berfoto-foto, juga dapat menikmati sungai di lokasi ini karena Merlion Park terletak di depan Singapore River. 


Bukan masalah uang bagi Yudha. Akan tetapi, hanya tempat itu yang dekat dengan Vila miliknya.


"Apa nama Lion terinspirasi dari tempat ini, Mas?" tanya Lintang memandangi kepala singa yang mengeluarkan air itu dari dalam mobil. 


"Iya, dulu aku sering ke sini untuk melepas penat saat kesulitan membuat skripsi. Dan aku selalu ingat dengan tempat ini, akhirnya aku memberi nama Lion pada putra pertamaku." 


Lion yang duduk di pangkuan Bian tersenyum bangga mendengar cerita sang papa. Meskipun masih kecil, otaknya sudah bisa mencerna apa yang dikatakan Yudha. 


"Pa, aku mau ke sana." Menunjuk air jernih yang ada di dekat mobil. 


"Iya, Sayang. Kamu ke sana saja sama om Bian."


Bian turun, menggendong Lion lalu mengajaknya bermain. Andreas pun mengikutinya dari belakang. 


Yudha dan Lintang duduk di kursi yang memanjang. Menikmati pemandangan sore yang sangat luar biasa. 


"Maafkan papa hanya bisa mengajak kamu ke sini." Mengecup perut Lintang. 


"Nggak apa, Mas. Lagi pula aku sudah mendapatkan hadiah terbesar dari sini, dan itu sudah lebih dari cukup membuatku bahagia."


"Apa?" tanya Yudha yang tak tahu menahu. Otaknya hanya menerka hadiah yang diucapkan Lintang. 


"Kamu. Menemukan kamu adalah anugerah terindah bagiku, dan tidak ada yang lebih istimewa dari itu."


Tangan Yudha mengulur. Merangkul pundak Lintang. Mereka menatap jauh ke depan dimana Lion berlarian di tepi sungai. 


"Dan memiliki kamu adalah rezeki rerbesar dalam hidupku," timpal Yudha. 


Setelah puas jalan-jalan, Yudha membawa seluruh keluarganya berkunjung ke sebuah restoran mewah. Ini adalah malam terakhir mereka di Singapura. Sebelum pulang, Yudha sengaja untuk berlibur. Mengingat mereka yang pasti menguras tenaga saat mengurus dirinya. 


"Kamu mau yang mana, Sayang?" tanya Yudha pada Lintang yang dari tadi hanya menatap makanan di meja. 


"Yang itu." Lintang menunjuk makanan yang tepat berada di depan pak Radit. 


Makanan khas Tionghoa yang bernama  Hokkien Prawn Mee, yaitu mie kuning dan bihun yang dicelupkan ke dalam kaldu, direbus bersama seafood dan kemudian digoreng agak kering dengan sedikit kuah. Bersama dengan bumbu bawang putih dan telur, udang, cumi, tauge, serta kecap asin. 


Yudha langsung mengambilnya dan meletakkan di depan Lintang. 


Restoran itu lengkap menyajikan semua makanan yang bervarian sehingga membuat pengunjung puas dengan sajiannya. 


"Biar aku yang suapin." Yudha menyodorkan sendok di depan Lintang. Meskipun di depan keluarganya, ia tak malu menerima suapan itu. 


Suasana yang begitu indah. Ternyata ada hikmah dibalik perjuangan Lintang selama ini, hatinya yang kukuh dan yakin kini terbukti. Orang yang dicintai telah kembali di sisinya. Kini tinggal menunggu bayinya yang akan lahir kurang lebih lima minggu lagi.


Yudha menatap semua orang yang masih menikmati santapannya. Ingin bicara, namun bingung memulai dari mana, akhirnya ia mengajak Andreas keluar dari ruangan itu. 


Andreas hanya mengangguk tanda mengerti, sebagai pria dewasa, ia paham maksud perkataan Yudha. 


Malam kian larut. Seluruh keluarga sudah keluar dari restoran, kini tinggal Yudha dan Lintang yang ada di sana. 


Mobil mewah yang dipesan Yudha sudah tiba di depan restoran. Namun, Lintang menghentikan langkah Yudha yang hampir mendekati nya. 


"Mas, jangan bilang kalau kamu mau nyetir sendiri?" tanya Lintang dengan bibir bergetar. 


Jeritan dan hantaman keras itu, seakan masih terngiang-ngiang di telinga Lintang. Ia tak bisa melupakan tragedi yang membuat dirinya dan Yudha berpisah. 


"Nggak, itu sopirnya." 


Menunjuk pria berbaju hitam yang ada di sebuah toko minuman. 


Lintang mengelus dadanya lalu masuk setelah Yudha membuka pintu untuknya. 


Sebuah hotel besar yang ada di kawasan kota itu membuat mata Lintang terpana. Ia dan Yudha memang belum pernah merasakan bulan madu atau berlibur. Ini kali pertama mereka bersenang-senang setelah sekian lama hanyut dalam suasana duka.  


"Apa kita akan menginap di sini?" Lintang memastikan, menatap indahnya lampu yang menyala. Juga ornamen yang sangat megah dan elegan memanjakan mata. 


"Iya, maaf aku cuma bisa mengajakmu ke sini. Lain kali kita kana jalan-jalan ke negara lain dengan Rembulan." Yudha menyebut nama untuk calon anaknya yang sebentar lagi akan lahir. 


Lintang tertawa lalu turun, meraih tangan Yudha. Keduanya berjalan sambil bergandengan menuju kamar yang dipesan Andreas. 


Sebuah kamar mewah yang akan menjadi tempat peristirahatan Lintang dan Yudha itu dihiasi sangat indah. Meskipun bukan lagi pengantin baru, Yudha ingin malam ini terlewati dengan sesuatu yang tak akan terlupakan. 


Lintang membuka pintu kamar. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan lalu berhenti di ranjang yang dipenuhi dengan kelopak mawar. 


"Mas, lebay banget. Kita bukan lagi pengantin baru. Malu-maluin, apa kata pelayan kalau tahu yang menyewa sudah pengantin usang?" 


Lintang menggerutu, meletakkan tas nya di nakas, sepertinya hari ini sangat melelahkan sehingga dirinya langsung berbaring. 


Yudha tersenyum lalu menghampiri sang istri. 


"Kita belum pengantin usang, pernikahan kita baru menginjak satu tahun, apa kamu lupa kalau ini hari anniversary kita?" 


Lintang menepuk jidatnya. Hari yang pernah di nanti itu akhirnya tiba, namun ia lupa karena kejadian yang menimpa. "Maaf, aku lupa." 


Sebuah kecupan mendarat di bibir Yudha. "Selamat ulang tahun pernikahan, Sayang. Semoga kedepannya pernikahan kita diberi kebahagiaan yang melimpah. Sehat selalu untukmu, jangan pernah bosan dengan sikapku yang manja dan kekanak-kanakan." 


Lintang menyandarkan kepalanya di dada Yudha. Mendengarkan detak jantung pria itu. 


Yudha pun mengucapkan hal yang sama. Menangkup kedua pipi Lintang lalu mencium bibir wanita itu. Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Tangan Yudha mulai merayap menyentuh bagian tubuh Lintang yang membuat sang empu menggelinjang. Terlena dengan sentuhan lembut yang sudah lama ia dambakan.


"Apa malam ini kamu siap melayaniku?" tanya Yudha setelah melepaskan ciumannya.


Lintang mengangguk pelan. Kembali menyatukan bibirnya. Melanjutkan apa yang pernah tertunda.


"I love you," bisik Yudha sebelum menyatukan tubuhnya.