Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 46. Wejangan dari Luna


Yudha keluar dari kamar saat dering ponsel kembali menggema. Kali ini bukan nama Clair eyang berkelip, melainkan sang buah hati yang ditinggalkan di rumah bersama sang pengasuh.


Suara tangis menyapa setelah Yudha menggeser lencana warna hijau. Duduk di kursi ruang tamu rumah Lintang. "Lion kenapa?" tanya Yudha melepas kancing kemeja bagian atas. Mengibas-ngibas tangannya, saat hawa panas menusuk hingga keringat semakin bercucuran. 


"Mama di mana, Pa?" tanya Lion masih dengan tangisannya. 


Yudha membayangkan bagaimana lucunya wajah Lion saat ini, pasti hidungnya memerah dengan mata yang berkaca-kaca karena rindu pada wanita yang ia sayangi. 


Yudha beranjak lagi dan duduk di depan teras mencari angin sembari menatap motor yang melintas di jalan depan rumah Lintang. 


"Lion tenang saja, sebentar lagi mama pasti pulang. Sekarang lebih baik Lion tidur dulu sama Mbak Mimah." 


Yudha melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata sudah hampir tiga jam ia berada di rumah Lintang, dan itu cukup menguras keringat nya, hingga baju yang dipakainya bahasa kuyup. 


"Bener ya, Pa. Jangan bohong." Lion menekankan lagi dengan suara lirih.


"Papa nggak bohong." Yudha meyakinkan lalu mengakhiri sambungannya. Meskipun ia belum tahu keputusan Lintang, tetap berharap sang istri mau pulang bersamanya. 


Diam-diam Lintang mengikuti langkah Yudha. Ia mengintip dari belakang pintu. Mendengar percakapan Yudha dan Lion dengan jelas sehingga membuatnya terenyuh mengingat wajah mungil putra tercinta. 


Tanpa di sadari Lintang, Yudha berdiri di sampingnya yang masih bersandar di pintu yang terbuat dari kayu. Menatap wajah gadis itu dari lalu mengusap pucuk kepalanya. 


"Apa aku mengganggumu?"


Lintang menunduk lalu menggeleng tanpa suara. 


"Kamar mandi nya di mana?" tanya Yudha. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang jauh dari kata mewah. 


Lintang menunjuk ke arah belakang dengan bibir yang masih membisu. 


Berjalan menuju ke arah jari Lintang menunjuk, melewati dapur dan beberapa ruangan kosong. 


"Sayang," teriak Yudha dengan suara keras. 


Memegang knop pintu ruangan yang ada di sebelah kiri. Lintang menghampiri Yudha yang nampak kebingungan. 


"Yang ini apa yang ini?" 


Yudha menunjuk dua pintu yang tertutup rapat, melucuti bajunya hingga telanjang dada. 


"Kenapa buka baju di sini?" tanya Lintang mengalihkan pandangan. Ia masih malu-malu jika  melihat tubuh sempurna sang suami yang pasti menjadi idaman setiap wanita. 


"Gerah, Sayang. Lihat deh bajuku, basah." Yudha menjewer kemejanya di depan Lintang. 


Benar saja, bahkan kemeja milik sang suami persis seperti habis dicuci. Lintang meraih baju Yudha dan membawanya keluar setelah menunjukkan kamar mandinya. 


Lintang duduk di ruang tamu, mendekap kemeja Yudha, menghirup aroma parfum yang masih terasa kental. Lagi-lagi hatinya terus bergetar mengingat pelukan hangat pria itu. 


"Apa kamu benar-benar mencintaiku seperti ucapanmu, Mas. Aku hanya takut kecewa lagi. Aku takut kamu hanya merasa bersalah karena masa lalu. Aku tidak ingin seperti ibuku."


Trauma akan kejadian yang menimpa ibunya membuat Lintang berat untuk membuka hatinya pada pria lain. Apalagi sebelum Yudha ia pun pernah ditinggalkan Adam dan tak ingin mengulang lagi. 


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Lintang, ia beranjak dan membukanya. 


Ternyata Luna yang datang. Wanita berambut sebahu dengan dandanan ala Ibu rumah tangga itu tersenyum melihat Lintang setelah beberapa bulan berpisah. 


"Apa suami kamu ikut ke sini?" 


Luna menatap ke arah dalam, mengabsen ruang tamu yang nampak kosong. 


"Ada apa?" Luna menatap baju Yudha yang masih ada di tangan Lintang. 


Lintang menatap pintu lagi lalu mendekatkan wajahnya di telinga Luna. 


"Gimana mbak bisa tahu kalau mas Arief mencintai, Mbak?" tanya Lintang malu-malu.


Luna mengatupkan bibirnya. Menahan tawa saat wajah Lintang nampak bersemu. Ia tahu maksud dari pertanyaan Lintang. 


"Setiap orang itu menunjukkan dengan cara yang berbeda. Tapi kebanyakan orang akan menunjukkan cinta dengan suatu pengorbanan. Seperti yang dilakukan Yudha. Dia rela mengeluarkan banyak uang untuk menyembuhkan ibu kamu. Padahal, dia bisa mendapatkan perempuan yang jauh lebih kaya, tapi nyatanya, dia mengejar-ngejar kamu dan menerima apapun kekurangan dan kelebihan kamu. Jangan ragu lagi, yakinlah bahwa dia itu laki-laki yang bisa membimbing kamu dan menjadi kepala rumah tangga yang baik. Anggap saja masa lalu kalian tidak pernah terjadi."


Luna menjeda ucapannya sejenak, melirik Yudha yang sebenarnya sudah berada di belakang jendela. 


"Jangan sampai kamu menyesal karena kehilangan orang yang baik seperti dia," imbuhnya. 


"Tapi tadi dia pelukan dengan perempuan lain didepan ku," sergah Lintang merengut. Kesal jika mengingat Claire yang manja pada suaminya. 


"Suami kamu itu tampan dan kaya. Perempuan mana yang tak tergila-gila padanya, kamu harus pintar menjaganya. Aku tahu dia pernah menyakiti bu Fatimah, tapi cobalah berdamai dengan keadaan. Pasti hidup kamu akan bahagia."


Luna memeluk Lintang. Menyalurkan kekuatan dan keberanian untuk melangkah maju, bukan berhenti ataupun terus menoleh ke belakang yang pasti tidak akan pernah bisa melihat masa depan cerah. 


"Aku akan coba." 


Yudha mengangkat jempolnya ke arah Luna, lalu menutup jendela dengan pelan. 


"Sekarang masuklah, pasti suami kamu sudah menunggu."


Luna meninggalkan Lintang yang masih bergelut dengan pikirannya. 


Lintang masuk dan menatap Yudha yang duduk di ruang tamu. Melangkah ragu ke arah suaminya yang sibuk dengan ponselnya. 


"Sayang, Lion tadi nyariin kamu, kita pulang yuk, sudah hampir sore," ajak Yudha serius. 


Ucapan Luna terus melintas di keningnya. Kali ini ia ingin melawan rasa takut yang terus mengendap di dada. Bersahabat dengan status yang ia miliki, yang pasti nya akan diperebutkan hampir setiap kaum hawa. 


"Aku mau pulang. Tapi dengan syarat."


Mendengar kata 'aku', Yudha tersenyum tipis karena istrinya tidak lagi bicara secara formal seperti di kantor yang yang membuatnya risih. 


"Apa?" 


"Jangan temui Claire lagi. Jangan ke klub. Jangan keluar malam, jangan berhubungan dengan perempuan yang bukan mahram, siapapun itu. Jangan pernah berbohong ataupun menutupi apapun yang Mas lakukan di belakangku."


Yudha mengangguk cepat, meskipun syarat itu terdengar bertubi-tubi, Yudha sedikitpun tak keberatan dengan pemerintahan Lintang. 


Setelah keluar dari rumah Lintang, Yudha berjalan menghampiri Luna yang sedang menjemur pakaian. Meninggalkan Lintang yang sudah masuk mobil. 


"Ada perlu apa, Pak?"


Luna menghentikan aktivitasnya, meskipun lebih tua, ia tetap hormat pada Yudha yang jauh lebih kaya dan terpandang. 


Yudha mengeluarkan sebuah cek yang sudah ditandatangani lalu menyodorkan di depan Luna. 


"Silahkan mbak ambil ini. Tulis berapapun yang mbak inginkan. Anggap saja ini sebagai tanda terima kasih saya  karena keluarga mbak sudah baik pada Lintang dan ibu."


"Terima saja, Mbak. Kalau perlu kuras habis uang mas Yudha," teriak Lintang dari dalam mobil yang membuat Yudha dan Luna terkekeh.