Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 95. Tangisan Lion


Empat bulan berlalu 


Masih suasana berkabung, Pagi ini Lintang begitu semangat. Ia membangunkan Lion yang masih terlelap. Dengan lembut Lintang terus mengelus bocah itu. Berperan sebagai ayah sekaligus ibu. Susah, tapi Lintang harus bisa melakukan apa yang sering Yudha lakukan. Meskipun hamil besar, ia tak boleh bermalas-malasan demi menjalankan kewajibannya. 


"Sayang, ayo dong mandi, mau ikut mama nggak?" bisiknya di telinga Lion. 


"Aku nggak mau ikut kalau papa nggak pulang." Seperti biasa, itulah yang diucapkan Lion saat bangun tidur. Terdengar menyayat, namun semua harus diterima oleh Lintang. 


Sebagai seorang ibu, ia tak kehabisan ide dan terus membujuk bocah itu dengan berbagai cara. 


"Papa lagi cari uang, Sayang. Nanti juga pulang." Mengucap dengan berat hati. Mengelak seperti apapun, faktanya empat bulan Yudha belum juga ditemukan. Bahkan tidak ada tanda apapun selain baju kala itu. 


Di mana, di mana, di mana, dan mungkin hanya pertanyaan itu yang terus melintas di benak Lintang. 


"Mama jangan bohong, papa sudah meninggal, kan Ma. Kemarin aku dengar dari teman di sekolah, kata mereka papa meninggal karena kecelakaan."


Lion terisak di pelukan Lintang. Ia rindu pada sang papa yang sudah lama pergi. Tangisan Lion tak bisa dibendung lagi. Ia kini benar-benar kehilangan sosok pelindung.


Lintang membius bibirnya. Ia tak bisa mengucap apapun, jika sudah menyangkut sang suami. Lintang tak bisa berkutik, ia menunduk lesu, mengelus perutnya yang sudah membuncit dengan mata yang mulai digenangi cairan bening. 


Kehamilan Lintang sudah menginjak tujuh bulan. Seharusnya ini adalah saatnya ia bermanja pada sang suami. Meminta segala sesuatu yang diinginkan. Ditemani suami saat periksa, namun semua itu hanya angan-angan belaka. 


Aku harus kuat, demi Lion dan anakku. 


Lintang tersenyum paksa, mengusap rambut Lion. Menuntun jari lentik bocah itu untuk mengelus perutnya. 


"Papa pernah bilang apa pada Lion?" tanya Lintang basa-basi.


Lion menggeleng tanpa suara, bibirnya manyun dengan mata yang menatap sendu. Banyak wejangan yang pernah diberikan Yudha hingga ia lupa. 


"Lion harus pintar, sebagai anak laki-laki harus hebat, bisa menjaga mama dan juga adik Lion. Tidak boleh tergantung pada papa, tapi kalau Lion manja seperti ini, pasti papa tidak ingin bertemu Lion lagi. Berdoa saja, semoga papa bisa kembali pada kita."


Lion mencerna ucapan Lintang. Tangannya tak ingin bergeser, dan terus merasakan gerakan lincah dari perut sang mama. 


''Apa kemarin Lion dengar kata dokter?" Lintang mencoba untuk mengubah suasana hati Lion yang suram. 


Lion mengangguk tanpa suara. 


"Adik Lion cewek," ucap Lion nada kesal, masih teringat dengan papanya yang tak kunjung pulang. 


"Dan papa sudah memberi nama Rembulan, jadi nanti adik Lion namanya, Ayudia Rembulan Anggara."


Lion mengecup perut buncit Lintang berulang kali lalu berbisik, "Cepat lahir ya, Dik. Nanti kita berdoa sama-sama supaya papa cepat pulang."


Meskipun begitu, Lion masih mengingat ucapan temannya di sekolah, hingga ia kembali mengajukan pertanyaan,  


"Papa beneran meninggal ya, Ma?" tanya Lion mengiba. 


Aku harus jawab apa? Lion berhak tahu apa yang terjadi saat ini, tidak mungkin aku menutupinya, tapi aku tidak yakin sebelum jasad mas Yudha ditemukan. 


"Papa tidak meninggal, dia hanya jalan-jalan di surga Allah, suatu saat kita akan bertemu papa lagi."


"Kalau begitu aku mau minum susu, biar disayang papa." 


Lintang memalingkan wajahnya, tak sanggup untuk menatap wajah imut sang buah hati saat dirinya menangis. 


Lion menyibak selimutnya lalu turun. Berlari membuka pintu. 


Lintang mengikutinya dari belakang, entah sampai kapan ia harus berbohong, yang pastinya saat ini belum sanggup untuk jujur. 


Andreas yang baru saja tiba, akhirnya langsung mengikuti permainan Lion, berpura-pura mencari persembunyian bocah itu. 


Lintang keluar dari kamar menghampiri Bu Indri dan Bu Fatimah yang ada di ruang makan. Mereka menyiapkan sarapan pagi untuk semuanya. 


"Ma, aku ingin ke tempat kecelakaan mas Yudha. Siapa tahu aku mendapat petunjuk di sana."


"Mama dan ibu akan menemani kamu."


"Ayah juga ikut," sahut Pak Juli dari raung keluarga.


Pak Radit tak bisa ikut karena ada diluar kota untuk mengurus salah satu perusahaan Yudha. 


Lion yang sudah tertangkap di gendongan Andreas itu pun mengangkat tangannya. 


"Aku ikut," ucapnya dengan suara cempreng. 


"Kalau gitu Lion sarapan dulu, habis itu mandi," pinta Lintang tanpa mendekat. 


"Sama Om Andreas," Pinta Lion penuh harap. 


"Siap, Aden. Om akan mandiin dan juga suapin Lion sampai kenyang."


Lintang hanya geleng-geleng. Selain memegang pekerjaan di kantor, kehadiran Andreas pun sangat membantu untuk menjaga Lion.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Semenjak kecelakaan itu, ini pertama kali Lintang mengenakan baju hitam. Menghormati sang suami yang kemungkinan besar sudah meninggal, meskipun hatinya belum percaya sepenuhnya, Lintang juga tak memungkiri kenyataan yang ada. 


Terasa sangat asing, hidup tanpa didampingi sang suami. Namun, itulah yang terjadi, Lintang kini berstatus janda. 


Lintang keluar dari kamar. Melangkah pelan menghampiri Andreas yang masih menyisir rambut Lion. Berdiri di belakang pria itu. Menatap tanpa berkata apapun. Perlakuan Andreas kembali mengingatkan pada sang suami yang sangat sabar pada putranya. 


"Sekarang kita berangkat." Andreas menggiring Lintang dan Lion menuju mobil, membukakan pintu untuk mereka berdua. 


"Terima kasih," ucap Lintang diiringi dengan senyuman.


Hampir saja Andreas menyalakan mesin, Lintang menghentikan pria itu. 


"Ada apa, Bu?" tanya Andreas menatap Lintang dari pantulan spion yang menggantung. 


"Kok nggak ada yang ikut mobil ini? Kita sendirian?" tanya Lintang antusias. 


Dari lubuk hati terdalam, ia tidak ingin hanya berdua dengan Andreas, baginya itu tak baik mengingat status mereka yang sama-sama lajang. 


"Nggak ada, Bu. Bu Indri dan bu Fatimah ikut mobil pak Juli," jawab Andreas seperti ucapan Bu Indri yang memintanya untuk pergi lebih dulu. 


"Nggak bisa, pokoknya kita harus satu mobil, nggak boleh sendiri-sendiri." Lintang tetap kekeh dan kembali turun. 


Andreas mengikuti perintah Lintang. Menyiapkan mobil yang bisa ditumpangi banyak orang. 


"Pak Andreas," panggil Lintang menghampiri Andreas yang sedang memeriksa mobil di garasi. 


Andreas membungkuk tanda menyapa, meraih tubuh Lion yang bergelayut di punggungnya. 


"Kapan Bapak menikahi Gita? Jangan diundur lagi. Aku nggak mau bapak menggantung Gita terus-menerus. Seorang wanita itu butuh kepastian, bukan hanya omongan atau janji." 


Lintang mengingatkan Andreas untuk bertindak. Ia tidak mau menjadi penghalang bagi hubungan mereka. Sudah cukup Andreas berkorban karena peristiwa yang menimpanya, dan kini Lintang harus berdiri sendiri tanpa bergantung pada Andreas yang sudah memiliki calon istri.