Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 106. Permintaan maaf


Bian sudah tak sanggup lagi untuk diam, sedangkan seluruh keluarga Anggara di penuhi dengan kesusahan. Setelah mengajukan berbagai alasan, akhirnya ia bisa pergi dari Yudha dan Andreas. Pikirannya tak bisa fokus mencari Lion, takut jika dalang dibalik penculikan itu adalah mamanya. 


Bian menatap pintu rumahnya. Tak ada yang berubah. Hanya saja suasana tempat itu lumayan sepi, dibandingkan saat dirinya dan pak Juli tinggal di sana. 


"Mama," teriak Bian saat ia memasuki rumah itu. Tak ada sahutan hingga Bian mengulang panggilannya. 


"Mama," teriak Bian lebih keras lagi. Kakinya melangkah pelan menghampiri pintu kamar utama yang tertutup rapat. 


Ceklek 


Tangan Bian yang hampir menyentuh knop itu ditarik saat seseorang dari dalam membuka pintunya. 


Tatapan sinis menyambut kedatangan Bian. Aura wajahnya menunjukkan permusuhan. Seakan tak ada ikatan antara ibu dan anak yang terjalin. 


"Ngapain kamu ke sini, jangan bilang kamu mau mengemis untuk tinggal di rumah ini lagi?"


Bian tersenyum tipis. Entah harus membuktikan dengan cara apa pada mamanya kalau dirinya pun bisa sukses tanpa belas kasihan dari wanita itu. 


"Maaf, Ma. Kedatanganku bukan ingin tinggal di sini ataupun seperti yang mama ucapkan. Tapi aku mencari Lion.''


Bian mengucapkan dengan nada rendah. Masih sadar posisinya sebagai seorang anak.


Sovia tertawa keras lalu berjalan menuju ruang keluarga. Ia duduk di sofa dan menyalakan tv. Mencari chanel kesukaannya. 


"Kamu salah tempat. Lion tidak ada disini," ucap Sovia malas. 


"Bohong, aku yakin mama yang sudah menculik anaknya kak Yudha."


Sovia berdecih, meletakkan remote tv dengan kasar hingga menimbulkan suara. Mengulurkan tangannya lalu menarik baju Bian hingga sang empu tersentak kaget. 


"Kamu menuduh Mama menculik bocah tengil itu?" pekik Sovia tanpa melepaskan leher Bian.


"Kalau bukan mama siapa lagi? Aku sempat mendengar percakapan Mama dan Indira yang akan menghancurkan keluarga ayah dan kak Lintang. Aku yakin hilangnya Lion juga karena ulah mama."


Kembali, sebuah tamparan mendarat di pipi Bian. Sovia tak terima dengan tuduhan Bian. 


Apa mungkin mama serius, tapi kalau bukan mama siapa lagi. 


Bian mengusap pipinya yang memerah. 


"Ngapain kamu masih di sini, cepat pergi! Ikut sama keluarga kamu yang kaya raya itu," usir Sovia tanpa rasa belas kasihan. Mendorong tubuh Bian  hingga ke depan pintu. 


"Jangan kembali ke sini lagi. Aku nggak butuh anak yang durhaka."


Sovia menutup pintu dengan keras. Menandakan juga ia sedang marah pada Bian. 


Ternyata bukan Mama pelakunya, lalu siapa lagi. 


Bian menjambak rambutnya, frustasi. Di satu sisi ia masih merasa bersalah sudah menuduh mamanya, sedangkan di sisi lain Belum ada kabar Lion ditemukan. 


Bian masuk ke mobil. Menatap pintu rumahnya dengan tatapan nanar. Tiba-tiba ucapan Lintang kala itu melintas dalam otaknya. 


Bi, kamu itu anak laki-laki, marah pada mama mu boleh, tapi jangan berlarut, karena bagaimanapun juga dia adalah perempuan yang sudah melahirkan dan membesarkanmu. Sampai kapanpun kamu harus patuh padanya. 


Bian mengerang, membenturkan kepalanya di setir. Ingin masuk, pasti mamanya akan mengusirnya lagi, namun ia ingin meminta maaf pada sang mama karena sudah memberi tuduhan keji. 


Bian kembali turun dan berlari ke arah pintu. 


"Buka pintunya, Ma. Aku mau bicara sebentar," teriak Bian sambil mengetuk pintu dengan keras. 


Sovia yang sedari tadi masih ada di belakang pintu itu menangis sesenggukan, ternyata di balik kekerasannya ada jiwa yang rapuh dan butuh cinta. 


"Ma, buka pintunya! Aku ingin minta maaf." Bian masih terus menggedor-gedor pintu. 


Sovia mengusap sisa air matanya yang ada di pipi. Lalu membuka pintu. Sama seperti tadi, ia memasang wajah ketus saat berhadapan dengan Bian. 


"Ada apa lagi kamu ke mari? Bukankah Yudha sudah memberimu segalanya, sampai kamu melupakan mama." 


Sovia mengerutkan alisnya. Menatap rambut Bian. Mundur satu langkah, menghindar saat tangan laki-laki itu mengulur ingin menyentuhnya. 


"Aku minta maaf, Ma. Tidak seharusnya aku menuduh mama tanpa bukti," ucap Bian lembut. 


Masih bersimpuh dan tak ingin mengubah posisinya sedikitpun.


"Sudah ngomongnya? Sekarang pergi!" Sovia menunjuk pintu gerbang. 


Baru saja membalikkan tubuhnya, Bian merangkul kaki Sovia dari belakang. 


"Jangan usir aku, Ma. Aku janji tidak akan menjadi anak durhaka. Aku akan tinggal di rumah ini lagi dan akan mencari uang untuk mama dan Indira."


Tanpa sengaja air mata Sovia kembali luruh membasahi punggung tangan Bian yang masih merengkuh lututnya. 


"Tidak semudah itu, Bian." Sovia masih menunjukkan emosinya. Meskipun hatinya luluh, tetap saja rasa sakit ditinggalkan itu membuatnya ingin marah. 


"Maksud mama apa?"


"Berjanjilah kalau kamu tidak akan melawan Mama lagi, katakan kalau kamu akan tetap berada di samping mama apapun yang terjadi. Jika kamu tidak sanggup, pergilah! Ikut saja dengan Yudha dan ayah kamu."


Bian tersenyum renyah. Ia pun mengusap air matanya yang sempat lolos. 


"Baik, Ma. Aku berjanji tidak akan pergi dari sini. Kita akan selalu sama-sama. Aku akan menjaga Mama dan Indira."


Bian lalu berdiri di depan mamanya. Tanpa minta izin, ia memeluk  wanita itu dengan erat. ''Mulai malam ini aku akan meninggalkan apartemen, tapi izinkan aku mencari Lion," izin Bian. 


"Apa kamu sudah makan?" tanya Sovia mengusap rambut Bian. Sekeras apapun hati seorang ibu tetaplah memiliki kelembutan yang penuh, apalagi Bian adalah anak yang pernah haus akan kasih sayang. 


Bian menggeleng, kebetulan sekali tadi di rumah Yuha belum sempat makan. Keburu Lion hilang. 


"Sekarang kamu makan dulu."


"Tapi nanti malam aku boleh kan, tidur di sini?"


Mengikuti langkah mamanya menuju ruang makan. 


"Boleh." 


Sovia menyiapkan makan kesukaan Bian yang memang sudah dimasak beberapa menit yang lalu. 


Dari arah pintu depan wanita cantik masuk. Sama seperti Sovia, wajahnya juga tak menunjukkan persahabatan saat menatap Bian yang sedang makan. 


"Ra, kakak mu pulang, apa kamu tidak mau bicara dengannya?"


Indira hanya melirik sekilas lalu duduk di ruang tamu. 


"Biar aku saja yang bicara padanya, Ma. Mungkin dia capek."


Bian menghampiri Indira dan duduk di samping nya. ''Adik kakak lagi mikirin apa?" tanya Bian menggoda sambil mengeluarkan kartu tipis dari dompetnya. 


Indra melirik sekilas lagi meraih buku  yang ada di meja. 


"Ini isinya banyak lho, bisa beli apa saja yang kamu inginkan."


Wanita mana yang tak tergiur dengan benda itu, akhirnya Indira merebut kartu itu dari tangan Bian. 


"Berapa pinnya? Bedak aku habis, semua keperluan aku juga habis." Masih dengan suara ketus yang membuat Bian terkekeh. 


"Tanggal lahir kamu, bagi dengan mama, kakak baru bisa kasih ini untuk Kalian. nggak enak juga sama kak Yudha, dia sudah baik banget padaku."


"Sekarang aku pergi dulu, jaga diri kamu baik-baik. Jadi anak perempuan jangan suka keluyuran."


Indira mengangguk mengerti.