Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 100. Sadar


Bibir Lintang tak lelah untuk berbicara. Ia terus mengungkapkan isi hatinya kala Yudha menghilang. Menceritakan apapun yang ia alami saat sendirian, meskipun matanya masih terpejam, ia yakin suaminya itu bisa mendengar setiap kalimat yang diluncurkan. 


Bahkan tak henti-hentinya Lintang mencium pipi Yudha yang kurus, saking kurusnya hingga tulang dan otot itu nampak menonjol. 


Tak ubahnya Lintang, Andreas pun ikut berinteraksi dengan bos nya yang masih berada di bawah alam sadar. Ia ikut bahagia melihat Lintang bisa menemukan pujaan hatinya. 


"Apa bapak sudah menghubungi mama dan ibu?" tanya Lintang tanpa menoleh, tangannya masih sibuk mengelap tubuh Yudha yang berkeringat. 


"Belum, Bu. Sebaiknya ibu berbicara lewat video saja, sekalian memberi kabar pada mereka." 


Lintang tak sanggup membendung airmatanya. Ingin mencurahkan rasa bahagia itu pada seluruh keluarganya, tapi apa daya, mereka berada ditempat yang jauh. Mungkin itu jalan satu-satunya untuk berbagi pada mereka. 


"Iya, aku ingin bicara pada mama dan ibu."


Andreas merogoh ponselnya lalu menghubungi nomor Bu Indri, tidak mungkin nomor pak Radit yang dihubungi, takut tidak ada di rumah.


Tak berselang lama, panggilan tersambung. Seperti yang diinginkan, Bu Fatimah dan Bu Indri nampak di layar, tak lupa Lion dan pak Juli. 


"Ada apa, Andre? Lintang baik-baik saja, kan?" tanya Bu Indri antusias. 


Ia takut terjadi sesuatu dengan sang menantu yang kini hamil besar. 


Andreas tersenyum. Melirik Lintang yang masih melambaikan tangannya, memberikan kode untuk basa-basi dulu. 


"Bu Lintang baik, Bu. Ada sesuatu yang ingin bu Lintang katakan."


Lintang beranjak dari duduknya. Berdiri di samping Andreas, menatap keluarganya dengan tersenyum lebar. 


"Ada apa, Nak?" Sepertinya kamu happy banget," tegur pak Juli. Semenjak kecelakaan itu, ini kali pertama ia melihat wajah Lintang yang berseri. 


Lintang mengambil alih ponsel dari tangan Andreas, lalu kembali duduk. Ia masih belum memperlihatkan wajah Yudha yang masih setia di pembaringan. 


"Ada kejutan untuk kalian. Lion apa kabar, Sayang? Mama, ibu dan ayah juga apa kabar? Papa di mana, Ma?" tanya Lintang bertubi-tubi, ia ingin semua keluarganya berkumpul dan bisa melihat hadiah darinya. 


Bu Indri menoleh, kebetulan pak Radit baru keluar dari kamar. 


"Ada apa, Lintang? Apa kamu sudah bertemu klien?" 


Lintang menggeleng tanpa suara. Kini semua orang berkumpul di depan layar ponsel. 


"Mama cepat pulang, aku kangen," seru Lion mengusap layarnya. 


"Iya sayang, Mama akan segera pulang kalau semua urusannya sudah beres." 


Lintang tersenyum lagi, bingung harus mulai dari mana memberi tahu mama nya. 


"Aku punya kejutan untuk papa dan mama." Lintang mengucapkan dengan mata berkaca, namun bibirnya tetap mengulas senyum indah. 


Bu Indri menatap pak Radit yang mengangkat bahunya. Jantungnya berdebar mendengar ucapan Lintang yang penuh teka-teki. 


"Apa itu, Nak? Jangan bilang kalau kamu sudah melahirkan?" tebak Bu Indri. 


Lintang menggeleng, menggeser ponselnya hingga berada tepat di samping Yudha. 


"Itu siapa, Lintang?" tanya pak Radit menajamkan pandangannya yang sedikit samar. 


"Itu seperti Yudha, Pa." Bu Indri menebak, feeling seorang ibu pun tak kalah kuat, meskipun kurus, namun dari segi wajahnya Bu Indri sangat hafal. 


"Iya, Ma, Pa. Ini mas Yudha, Ternyata dia masih hidup." Tangis Lintang pecah saat  Bu Indri menjerit. Ia menumpahkan air mata bahagia bersama keluarganya yang ada di seberang ponsel. 


Bu Indri terus mengusap layar ponsel. Tak henti-hentinya mengucap syukur. Ingin merangkul dan mencium, namun harus terbentang jarak yang cukup jauh. 


Pak Radit menghubungi orang kepercayaannya untuk mengurus keberangkatannya menyusul Lintang. 


"Iya sayang, nanti kamu akan memeluk papa, sabar ya."


Setelah puas, Lintang memutus sambungannya dan kembali menyandarkan kepalanya di dada Yudha. 


"Kamu dengar sendiri kan, Mas. Semua orang merindukanmu, cepat bangun."


Buliran bening lolos membasahi pelipis Yudha. Nafas yang tadinya memburu kini kembali normal, bahkan suara monitor pun terdengar teratur. 


Dokter yang tadi hanya mematung kembali memeriksa Yudha dengan teliti. 


"Bagaimana keadaan suami saya, Dok?" tanya Lintang, tangannya tak mau lepas dari tangan sang suami yang terasa lemas. 


"Pasien sudah melewati masa kritis. Ini sebuah keajaiban, selama ini kami selalu khawatir dengan keadaannya yang naik turun, tapi sepertinya beliau mempunyai semangat kembali untuk melanjutkan hidup."


Semua ini karena orang yang dicintai ada disisinya, ucap Andreas dalam hati. Sembari menatap punggung Lintang. 


Pasti ini ada sangkut pautnya dengan kak Lintang, hanya dia yang mampu membuat kak Yudha bersemangat, batin Bian.


"Kalau Begitu saya permisi dulu, Nyonya. Semoga pasien cepat sadar."


"Terima kasih atas kerja keras Dokter." Lintang menangkup kedua tangannya.


Lintang menatap Andreas dan Bian yang ada di belakangnya. 


"Apa yang harus saya lakukan pada Claire, Bu?" tanya Andreas yang sudah geram dengan wanita itu. 


"Kita tunggu papa saja, aku juga harus mendengar penjelasan dari Claire, dia harus bertanggung jawab atas semua ini." 


Lintang menatap ke arah pintu kaca yang transparan, di mana Claire masih ada didepan ruangan itu. 


"Dasar tak tahu malu, bagaimana bisa dia menculik suami orang." Lintang ikut kesal. 


Baru saja melangkah ke arah pintu, Lintang kembali menoleh saat Bian memanggilnya. 


"Kak, tangan kak Yudha."


Menunjuk jari Yudha yang bergerak kecil. 


Lintang mendekati brankar. Matanya tak teralihkan dari tangan sang suami yang bergerak-gerak. 


"Mas, aku tahu kamu merindukanku, cepat buka mata kamu," pinta Lintang berbisik. 


Seketika itu Yudha membuka matanya dengan perlahan. Seolah-olah ucapan Lintang adalah perintah yang harus ia lakukan.


Dokter yang dipanggil Andreas berhamburan masuk dan kembali memeriksa. Mereka melepas beberapa alat bantu di tubuh Yudha. Tak menyangka, pasien yang hampir meregang nyawa itu kini bisa hidup kembali, bahkan mereka sempat putus asa untuk merawat Yudha, hanya saja pihak Claire yang terus mendesak dan meminta mereka untuk merawat nya. 


Yudah memutar bola matanya. Mengelilingi sudut ruangan yang nampak asing, lalu berhenti pada wajah Lintang yang masih sesenggukan. Setelah itu, ia beralih menatap perut buncit Lintang. 


Tangannya mengulur, meraih tangan Lintang lalu menggenggamnya erat. 


Seperti orang yang kebingungan, Yudha beralih menatap Andreas dan Bian bergantian. Mencoba membuka bibirnya meskipun berat.


"Kenapa kamu menangis, Sayang?" tanya Yudha dengan suara pelan, bahkan nyaris tak terdengar. 


Lintang tidak menjawab apapun. Ia menggeleng lalu mencium setiap jengkal wajah Yudha. 


"Aku menangis bahagia, akhirnya apa yang aku cari sudah kembali. Jangan pergi lagi, aku takut kamu meninggalkanku.''


Yudha tersenyum, ingin memeluk dan membalas ciuman Lintang. Namun sayang, tubuh nya yang lemah tak mampu membuatnya bebas.