Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 42. Membantu Claire


Lintang diam seribu bahasa. Ucapan Gita membuat telinganya terus berdengung. Setelah pulang dari kantor, ia langsung ke kamar dan mengunci pintunya. Menatap wajah Lion yang terlelap di atas ranjang sedikit membangkitkan semangatnya yang seharian ini runtuh. 


"Kalau masih ada wanita lain di hatinya, untuk apa dia menikahi ku," gerutu nya.


Menatap wajah lelahnya dari pantulan cermin. Menyisir helai demi helai rambutnya yang terurai panjang. Melepas satu persatu kancing bajunya sebelum ke kamar mandi. 


Sungguh perasaannya bercampur aduk mengingat apa yang ia dengar dari bibir Yudha untuk wanita lain. 


Lintang mengguyur seluruh tubuhnya di bawah air shower, berharap masalah hari ini terlepas bersamaan dengan air yang mengalir membasahi tubuhnya. 


Senyum terus mengembang di bibir Yudha saat turun dari motor. Melambaikan tangan ke arah pak Didin yang menyiram tanaman. Pelukan Lintang saat di lift itu masih terasa hangat. Mengira benih-benih cinta mulai tumbuh untuk dirinya.


"Kapan Lintang pulang?" tanya Yudha, pasalnya sebelum keluar dari kantor, ia pun mampir ke ruangan sang istri yang sudah kosong. Belum lagi mampir ke sebuah toko membeli sesuatu yang pastinya memakan waktu lebih lama. 


"Baru beberapa menit, Pak," jawab Pak Didin ramah dan sopan. 


Yudha berlari kecil. Wajahnya semringah. Bibirnya tak henti-hentinya menerbitkan senyum saat menatap pintu kamar utama yang tertutup rapat. Belum juga  melangkah, Lintang keluar dari kamarnya. Rambutnya yang masih basah membuat Yudha semakin terpesona. 


Berbeda dengan Yudha yang menampakkan wajah berseri-seri, wajah Lintang nampak merengut saat melewati tubuh tegap tinggi suaminya. 


Tak ada sedikitpun keramahan yang ditampilkan untuk menyambut sang suami saat pulang. 


"Mau ke mana, Sayang?" tanya Yudha menatap punggung Lintang yang berlalu menuju dapur. 


Tidak ada jawaban, Yudha mengendurkan dasi yang mencekik lehernya. Menghempaskan  tubuhnya di sofa. Mengurai rasa lelah karena pekerjaan yang seharian penuh menguras otak. 


Kumat lagi, kapan luluhnya sih, cecar Yudha dalam hati. 


"Bi, buatin kopi untuk mas Yudha, jangan bilang kalau aku yang nyuruh." 


Yudha memejamkan mata. Menjulurkan kakinya di bawah meja dengan kepala mendongak. 


"Ini Pak, kopinya." Suara Bi Siti membuat Yudha terbangun. 


Lintang menatap punggung Yudha yang  menikmati kopi. Hatinya kembali goyah setelah mengingat kejadian tadi. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Malam semakin larut, setelah keheningan di ruang makan, Yudha membuka pintu kamar Lion, nampak sang penghuni berbaring anteng mendengar Lintang yang sedang membacakan dongeng. 


"Papa, sini!" Lion memanggil Yudha seraya menepuk kasur di sisinya yang masih kosong. 


Lintang hanya melirik sekilas lalu kembali fokus pada buku di depannya.


Yudha ikut duduk di samping Lion, tangannya mengulur ke samping merangkul pundak Lintang yang bersandar di headboard. Namun, gadis itu langsung menepisnya tanpa kata hingga Yudha kembali menariknya. 


Yudha ikut larut menikmati cerita dari Lintang. Perlahan matanya ikut terpejam dengan tangan memeluk tubuh mungil Lion. 


Lintang menutup bukunya. Memindahkan tangan Lion dan menyelimuti tubuh mungil bocah itu. Menatap Yudha yang juga terlelap dengan napas yang teratur. 


Lintang memutari ranjang mengambil selimut dari lemari. Baru saja menjewer, sebuah tangan kekar menyentuh pinggangnya dari belakang hingga membuat Lintang terkejut.


Jantungnya berdetak dengan kencang saat tangan itu merambat melingkar di perutnya dengan erat. 


"Temani aku tidur, malam ini saja," bisik Yudha dengan suara lirih. 


Menyandarkan dagu di pundak Lintang dengan tangan yang masih memeluk erat. 


Lintang menggerakkan tubuhnya, mencoba terlepas dari rengkuhan sang suami. Ia belum siap untuk melepas semuanya, termasuk kesuciannya. 


"Bagaimana kalau saya tidak mau," ucap Lintang dingin. 


Yudha memutar tubuh Lintang hingga keduanya saling bertatap muka. Berbeda dengan mata Yudha yang nampak sendu dan penuh cinta, kedua bola mata Lintang bak busur panah yang siap meluncur dan menembus hingga ke tulang rusuk. 


Namun, itu tak membuat keinginan Yudha surut. Malam ini ia benar-benar ingin tidur berdua dengan Lintang. 


Yudha pun meyakinkan. Sebagai suami, ia berhak meminta sesuatu yang seharusnya memang dilakukan sang istri. 


"Saya tetap tidak bisa. Jangan paksa saya untuk menuruti permintaan, Bapak." 


Yudha mengendurkan pelukannya. menahan dadanya yang hampir meledak, ia tak mungkin memaksa, namun juga merasakan sakit saat terus diabaikan. 


"Baiklah, sekarang kamu tidur."


Yudha meninggalkan kamar Lion. Berjalan menuju kamarnya. Menutup pintu dengan keras, menandakan jika dirinya sedikit marah. 


Tanpa rasa bersalah, Lintang pun pergi ke kamarnya setelah memanggil mbak Mimah. Ia membaringkan tubuhnya dan memakai selimut hingga menampakkan wajahnya saja. 


Memejamkan matanya, mencoba melupakan apa yang baru saja terjadi di kamar Lion. 


Di kamar lain


Argghhh 


Tangan Yudha memar setelah menghantam dinding beberapa kali. Ia duduk di tepi ranjang dan menjambak rambutnya. Kecewa dengan penolakan Lintang kali ini. Tak menyangka, gadis itu memenangkan ego daripada kewajibannya. 


Bahkan ini lebih sakit daripada melihat Natalie selingkuh. 


Ponsel yang ada di nakas berdering, Yudha segera meraihnya dan membaca nama yang ada di layar. 


"Halo Claire, ada apa?" tanya Yudha sedikit tenang setelah meluapkan amarahnya pada dinding. 


"Yudha, sekarang kamu cepat ke sini, aku bingung, nggak tahu jalan pulang," rengek Claire dari seberang sana. 


Yudha mengernyitkan dahi. "Memangnya kamu ada di mana?" tanya Yudha antusias. 


Claire bercerita jika dirinya baru saja satu bulan di Indo, dan mungkin belum mengenal keseluruhan kota yang ditempati saat ini membuat Yudha sedikit khawatir. Tidak ada salahnya peduli dengan sahabat lama. Apalagi Claire adalah wanita yang sangat baik dan juga pengertian, mau membantu Yudha saat kesusahan dan menjadi sahabat akrab semasa kuliah di Singapore. 


"Aku ada di depan klub, dan lupa jalan pulang. Tadinya aku ke sini dengan teman, tapi dia sudah pulang duluan."


Yudha menepuk jidatnya dan berdecak dengan tingkah Claire.


"Baiklah, kamu share lok, aku akan ke sana sekarang juga."


Yudha menyemprot parfum di beberapa bagian tubuh. Menyambar jaket yang ada di sofa lalu keluar dari kamarnya. 


Langkahnya berhenti di depan kamar Lintang. 


"Aku pamit nggak ya," ucap Yudha bimbang. 


Akhirnya Yudha mengetuk pintu kamar Lintang daripada jadi masalah.


Ceklek 


Pintu terbuka, Lintang menatap penampilan Yudha tanpa bertanya. Menghirup aroma parfum yang menyengat. 


"Aku mau keluar sebentar, ada temenku yang kesasar, dan dia butuh bantuanku," ucap Yudha sambil memakai jaketnya. 


"Pulang jam berapa?" tanya Lintang menyelidik. 


"Tergantung, Aku juga belum tahu lokasinya di mana, tapi akan aku usahakan tidak terlalu malam."


Lintang mengangguk berat. Entah kenapa, ia tak rela melihat Yudha meninggalkan rumah malam-malam. 


"Apa temannya mas Yudha itu Claire?" bergumam sendiri menatap punggung Yudha menghilang di balik pintu depan.  


Setelah mendengar suara mobil mendesing, Lintang kembali menutup pintu kamarnya.