Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Jatuh Cinta


Sedangkan disisi lain, Marcel dan juga Dea sedang sarapan bersama.


" Hallo Dea, tumben sarapan sendiri, Mama mana? " tanya Marcel sambil menarik kursi untuk duduk.


" Enggak tau. Tadi pelayan bilang katanya Mama sama Papa sudah pergi dari tadi, " jawab Dea santai.


" Oh ya kali ini aku saja yang mengantar kamu ya. Hari ini aku free gak ke kantor, " ucap Marcel menawarkan diri sambil mengambil nasi.


" Aku udah ada supir. Lagipula kalaupun supir gaada aku bisa naik taxi atau angkutan umum. "


" Kenapa, apa kau berusaha menghindar dariku? Apa kau tau jika aku sudah ditakdirkan untukmu, sejauh apapun kau menghindar kau pasti bersamaku. "


Dea langsung menghentikan makannya. Dia menatap Marcel dengan tatapan kesal.


" Ya. Apa kau tau? sekeras apapun usahamu untuk mendekatiku, jika aku ditakdirkan bukan untukmu maka kau tidak akan pernah mendapatkanku. "


Dea membalasnya dengan senyuman sinis. Lalu mereka melanjutkan sarapan tanpa sepatah katapun. Marcel langsung diam seribu bahasa setelah kalah telak dengan jawaban Dea.


" Aku berangkat dulu, dahhh .... " ucap Dea pada Marcel setelah sarapannya habis dan langsung pergi meninggalkan Marcel seorang diri.


Apa kau benar benar tidak mempunyai perasaan apapun denganku. Apa aku yang terlalu bodoh bisa menaruh hati dengan anak kecil sepertimu.


Marcel lalu kembali ke kamarnya. Dia menuju meja hias, menatap bayangan dirinya sendiri dalam cermin. Semua kata kata yang dilontarkan Dea masih saja mengganggu pikirannya.


Apa aku kurang tampan? atau aku kurang agresif ? Kau benar benar membuatku seperti orang bodoh yang bertingkah layaknya pengemis. Apa aku harus memaksamu menikah denganku seperti Angga yang memaksa kakakmu.


Marcel mengacak acak rambutnya sendiri. Dia benar benar tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang ada di kepalanya hanya ada Dea, Dea dan Dea.


" Ahh sebaiknya aku hubungi Angga saja. Eh tapi nanti kalau mereka belum bangun aku bisa kena marah lagi sama dia. Ah sudahlah apa salahnya mencoba, " Marcel lalu menghubungi Tuan Angga.


Setelah 2 kali panggilan tidak terjawab, akhirnya panggilan yang ketiga dijawab juga.


" Hallo calon kakak ipar, apa aku mengganggumu? " tanya Marcel dengan nada santai.


" Tentu saja kau menggangguku. Ada apa? dan ya jangan panggil aku kakak ipar. Aku bukan kakak iparmu, " balas Tuan Angga ketus diseberang sana.


" Hehe kan aku memanggilmu calon kakak ipar, bukankah sebentar lagi kau akan menjadi kakak iparku? ha ha ha. Oh ya besok aku ada urusan bisnis ke Singapura, apa aku boleh mengajak Dea? " ucap Marcel langsung pada intinya tanpa basa basi.


" Apa kau sudah gila? untuk apa kau mengajak Dea, lagipula selama disana kau tidak bisa terus mengawasinya 24 jam. Waktumu akan habis dengan pekerjaanmu, sedangkan Dea disana hanya seorang diri jika kau pergi ke Kantor. "


" Aku tidak punya pilihan lain. Aku benar benar tertarik dengan Dea, tidak perduli jika nanti aku harus menunggunya selesai sekolah. Hanya ini satu satunya cara agar aku bisa lebih dekat dengan dia. "


" Tapi dia kan harus sekolah, ini bukan hari libur. Aku tidak mengijinkannya, lagipula Febby juga sudah pasti tidak akan memberi ijin. Tolong kau jangan mempersulitku, hari ini mood istriku sedang baik. Jadi jangan rusak moodnya dengan ide konyolmu itu. "


" Ya ya baiklah, aku akan pergi sendiri. "


Marcel menutup panggilannya. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang, menatap langit langit kamar. Pikirannya benar benar kacau.


Di Hotel Tuan Angga


" Hah mengganggu saja, " ucap Tuan Angga kesal setelah menerima telefon dari Marcel.


" Siapa yang mengganggu? " Febby yang tiba tiba muncul dari kamar mandi mengagetkan Tuan Angga.


" Bukan siapa siapa, ya sudah kau ganti baju dan bersiap siap. Aku akan mandi dulu, " ucap Tuan Angga sembari masuk ke dalam kamar mandi.


" Apa yang kau sembunyikan kenapa kau seperti menghindar begitu," tanya Febby sedikit curiga.


" Memangnya apa yang kusembunyikan? tadi Marcel yang menelfon, kalau kau tidak percaya kau boleh lihat sendiri, " jawab Tuan Angga santai karena merasa memang tidak menyembunyikan apapun.


" Awas saja kau kalau sampai ketahuan berbohong, " ucap Febby seraya memeriksa ponsel suaminya.


" Hem benar ternyata Marcel, " Febby meletakkan kembali ponsel suaminya. Febby langsung ganti baju dan berdandan ala kadarnya.


" Kau sudah selesai? " tanya Tuan Angga yang keluar dari kamar mandi mengagetkan Febby.


" Eh, iya sudah. Memangnya kita mau kemana? " tanya Febby sambil melihat Tuan Angga berlalu menuju lemari ganti.


" Kita mau jalan jalan, memangnya kau tidak bosan kalau harus di sini terus? " jawab Tuan Angga setelah selesai ganti baju.


" Benarkah? baiklah ayo sekarang berangkat aku sudah siap, " jawab Febby semangat.


" Hem Tuan putriku semangat sekali. Aku senang bisa melihat kamu bisa tersenyum lepas seperti ini. "


Mereka langsung berangkat meninggalkan Hotel tanpa sarapan. Tuan Angga langsung tancap gas membelah ramainya jalan raya menuju ke tempat yang akan dituju.


Disepanjang perjalanan mereka hanya bercanda. Wajah Febby terlihat sangat ceria pagi ini, membuatnya terlihat semakin cantik.


" Kita sudah sampai. Ayo turun, " ajak Tuan Angga saat mereka sudah sampai di lokasi yang dituju.


" Pantai? kenapa enggak bilang dari tadi kalau mau ke pantai. Aku kan jadi enggak salah kostum gini, " ucap Febby dengan wajah cemberut.


" Memangnya kenapa? mau pakai pakaian apapun tidak ada yang namanya salah kostum. Atau kau sengaja ingin memakai pakaian yang terbuka agar semua mata tertuju padamu? "


" Apaan sih ya enggak lah. Ya sudah ayok kita kesana, kakiku sudah gatal ingin main air. "


Febby langsung berlari menuju pantai, meninggalkan Tuan Angga. Dia berlari lari kesana kemari mengejar ombak pantai. Tuan Angga melihatnya dari kejauhan, dia tidak pernah melihat Febby tersenyum bahagia seperti itu.


Aku berjanji aku akan membahagiakanmu. Bahkan akan kujadikan semua orang iri dengan kebahagiaanmu.Aku berjanji sayang ....


Kemudian Tuan Angga menghampiri Febby, memeluknya dari belakang. Febby langsung membalikkan badannya, menatap wajah suaminya dengan tatapan yang ceria.


" Aku mencintaimu sayang, aku berjanji padamu aku akan membahagiakanmu, " ucap Tuan Angga sambil mengecup kening Febby.


" Apa kau bisa berjanji untuk tidak akan menyakitiku lagi meskipun aku melakukan kesalahan? "


" Ya aku berjanji, " ucap Tuan Angga tegas.


Mendengar jawaban dari Tuan Angga Febby langsung memeluk Tuan Angga. Dia merasa bahagia mendengarnya.


Ada apa denganku? Mungkinkah aku sudah mulai jatuh cinta dengannya? Ahh entahlah yang jelas sekarang aku merasa nyaman berada dipelukannya.


Tuan Angga membalas pelukan itu, mereka saling berpelukan cukup lama. Kemudian Tuan angga langsung membopong Febby. Berlari berputar putar dengan senyum bahagia. Mereka tampak menikmati suasana pantai pagi itu. Bersenda gurau penuh kemesraan layaknya dua insan yang sedang di mabuk cinta.


Sampai tak terasa matahari sudah mulai terik, perut Febby berbunyi menandakan bahwa dia lapar. Tuan Angga mendengar itu, dia menatap Febby sambil tersenyum.


" Hehe ... aku lapar. Bagaimana kalau kita cari makan dulu, " ucap Febby sambil tersenyum kaku pada suaminya.


" Hem baiklah. Aku juga sangat lapar, " jawab Tuan Angga dengan senyuman hangatnya.


###############################


Kemesraan Febby dan Tuan Angga