
Ternyata sakit yang dirasakan Yudha tak sepadan dengan rasa nikmat kali ini. Bahkan ia lupa dengan pukulan Bu Fatimah yang bertubi-tubi. Sebab, Lintang sudah menebusnya seribu kali lipat dengan sebuah sentuhan lembut yang membuatnya melayang.
Yudha masih mengungkung Lintang. Memposisikan dirinya di atas supaya bisa memimpin permainan yang dipenuhi keringat itu. Hingga beberapa menit kemudian, keduanya sampai ke puncaknya cinta. Kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata itu sudah menjadi aktivitas harian yang tidak akan pernah terlewati.
Yudha membaringkan tubuhnya di samping Lintang. Mengatur napas yang ngos-ngosan akibat pergulatannya. Menarik selimut, menutupi tubuhnya dan tubuh Lintang yang juga masih dipenuhi peluh.
"Aku ingin segera memiliki anak." Memiringkan tubuhnya, memeluk sang istri yang memejamkan mata.
Mengelus perut Lintang yang masih rata.
Lintang hanya menanggapinya dengan senyuman manis dan mengangguk. Ia pikir dengan begitu akan menjadi jalan untuk mempererat hubungannya. Juga meluluhkan hati bu Fatimah sepenuhnya.
Ketukan pintu membuat mata Yudha dan Lintang terbelalak. Ketukan yang memburu itu tak asing di telinga mereka.
"Pasti Lion," ucap keduanya bersamaan.
Yudha dan Lintang segera memakai baju masing-masing. Tidak mungkin menemui Lion dalam keadaan telanjang.
Yudha yang membuka pintu, sedangkan Lintang buru-buru merapikan ranjangnya yang berantakan akibat pertarungannya.
"Eh, anak papa. Kamu ke sini sama siapa?" tanya Yudha sambil mengangkat tubuh mungil putranya.
Lion menunjuk ke arah ruang tengah. Ternyata di sana ada oma dan opanya.
"Sayang, ada papa dan mama." Katanya pada Lintang yang sibuk membersihkan sisa cairan mereka saat bercinta.
Saking semangatnya Pak Duda, sampai beberapa tetes miliknya tumpah di kasur.
"Iya, Mas. Kamu keluar dulu, nanti aku nyusul," ucap Lintang melambaikan tangannya ke arah Lion yang nampak cemberut.
Lintang terpaksa mengganti sprei sekaligus selimutnya sebelum keluar.
Yudha duduk di samping bu Indri yang celingukan. Pak Radit nampak santai berbicara dengan seseorang di balik benda pipihnya.
"Lintang di mana?" Matanya menatap rambut Yudha yang nampak acak-acakan.
"Kamu habis ngapain, sih? Kenapa rambut kamu berantakan begini?" Bu Indri menyunggar rambut Yudha yang menutupi jidat.
Mata pak Radit ikut fokus pada putranya yang salah tingkah. Ia bisa membaca sesuatu yang aneh di wajah pria itu, mungkin karena sesama pria bisa tahu apa yang baru saja dilakukan Yudha hingga terlihat gugup.
"Ibu kamu di mana, Yud?" tanya pak Radit mengalihkan pembicaraan.
"Di kamar, Pa. Sebentar aku panggilkan."
"Mama, Papa," sapa Lintang berlari kecil dari arah kamar. Seperti biasa, ia tak lupa menyambut Lion dengan ciuman lembut.
"Mama nggak sayang lagi sama Lion," cetus Lion dengan memanyunkan bibirnya.
"Kata siapa? Mama sayang sama Lion," bantah Lintang mengambil alih sang buah hati lalu menciumnya berkali-kali.
"Buktinya mama dan papa di kamar berduaan, ninggalin Lion."
Skak
Yudha menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedangkan Lintang hanya bisa menundukkan kepalanya. Bu Indri menahan tawa mendengar ucapan Lion.
"Lion, sini oma bisikin."
Lion merosot turun dan duduk di pangkuan oma nya.
"Beneran Oma?" tanya Lion setelah bu Indri berbicara pelan di telinga nya.
"Iya," jawab Bu Indri singkat.
"Maaf, Ma. Lintang lama, tadi membersihkan sprei," ucap Lintang tiba-tiba.
"Kenapa nggak meminta bantuan bi Siti?"
Lintang tersenyum tipis lalu menggeleng. Meskipun mempunyai pembantu, ia tak mau menyerahkan semua urusan rumah pada mereka. Apalagi ia sudah memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga, harus bisa mengurus rumah, terutama di dalam kamar.
Lintang mengangguk pelan kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu.
Meskipun sedikit ragu, Lintang tetap mengetuk pintu kamar bu Fatimah. Berharap kemarahan sang ibu sudah reda sepenuhnya dan mau bertemu dengan mertuanya.
Bu Fatimah membuka pintu dengan lebar.
"Bu, ada mama dan papanya mas Yudha, mereka mau bertemu dengan, Ibu." Lintang mengucap dengan hati-hati dan lembut.
"Mau apa?" tanya Bu Fatimah ketus. Menatap punggung Bu Indri yang nampak berbincang dengan Yudha dan juga Pak Radit yang ada di samping mereka.
"Mau silaturahmi dengan keluarga kita," jawab Lintang lirih, takut ibunya marah.
"Sekarang ibu besanan dengan mereka, jadi tidak ada salahnya mereka ke sini."
Bu Fatimah kembali masuk dan duduk di tepi ranjang. Ia tak bisa melupakan apa yang dilakukan Yudha, meskipun sedikit membuka hati untuk pria itu, rasa sakit hatinya masih sedikit terselip dalam.
Lintang ikut masuk dan duduk.
"Bu, apa yang dilakukan mas Yudha tidak ada sangkut pautnya dengan mama dan papa. Mereka tidak tahu apa-apa tentang masalah waktu itu. Mama juga sudah minta maaf karena kelakuan mas Yudha," ucap Lintang menjelaskan.
BU Fatimah menoleh, menatap Lintang dengan lekat lalu memeluknya.
"Lintang, sebenarnya bukan cuma Yudha yang menghancurkan hidup ibu, tapi ayah kamu," ucap Bu Fatimah dengan bibir bergetar mengenang masa pahit itu.
"Lintang tahu, Bu," sahut Lintang yang masih berada di pelukan sang ibu.
"Ayah sudah menghianati ibu dengan perempuan itu, dia yang membuat ayah pergi meninggalkan kita."
"Dari mana kamu tahu?" selak Bu Fatimah.
"Aku menyelidiki nya sendiri, ayah punya keluarga selain ibu. Dia punya anak yang bernama Indira dan juga anak tiri bernama Bian."
Tangis bu Fatimah kembali pecah mengingat rumah tangganya yang hancur. Kini hanya ada Lintang, satu-satunya orang yang menjadi tiang untuknya.
"Anggap saja ayah sudah mati. Sekarang kita mempunyai keluarga baru, yaitu mas Yudha, Mama dan papa. Mereka yang akan menjaga kita," ucap Lintang menenangkan.
"Kamu yakin?"
Lintang mengangguk tanpa suara.
"Sekarang kita temui mereka."
Bujuk rayu Lintang yang mumpuni akhirnya bisa meluluhkan hati bu Fatimah. Mereka keluar dari kamar menghampiri Yudha dan kedua orang tuanya.
"Oma…" teriak Lion berhamburan memeluk bu Fatimah.
Bu Fatimah hanya menatap kepala Lion yang bersandar di kakinya.
"Ini namanya Lion, Bu. Dia anaknya mas Yudha, dan sekarang menjadi anakku juga," jelas Lintang dengan lembut.
Bu Fatimah tersenyum tipis, mengusap lembut rambut hitam Lion.
"Oma tinggal di sini juga?" tanya Lion mendongak, menatap wajah bu Fatimah.
"Iya, Sayang. Oma akan tinggal di sini dengan kita." Lintang yang menjawab. Menggiring sang ibu ke arah sofa yang masih kosong.
Setelah melewati perjalanan yang berliku, akhirnya bu Fatimah dipertemukan dengan putra dari keluarga Anggara. Amanah yang pernah diberikan sang ayah untuk mempersatukan Lintang dan Yudha kini terkabul. Mereka menjadi satu keluarga yang hangat.
Keramahan bu Indri mampu menciptakan tawa bagi Bu Fatimah. Mengikis kecanggungan yang sempat hadir di awal pertemuan. Melupakan masalah yang menyelimuti nya.
"Ma," Lion menggoyang-goyangkan lengan Lintang.
"Kata oma, mama dan papa bikin adik buat Lion, mana?" tanya Lion polos.
Semua tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Lion pada Lintang. Jangan ditanya, wajah wanita itu langsung pucat karena malu.