
Yudha membuka mata dengan perlahan. Menatap wanita cantik yang terlelap di samping nya. Begitu teduh dan anggun menyejukkan penglihatan. Tangannya kembali bergerak mengelus perut yang sudah membesar. Mencium kening nya dengan lembut. Sudah satu bulan ia menjalani perawatan, dan hari ini Yudha siap untuk menjalankan aktivitas hariannya seperti sebelum koma.
Tidak akan ada lagi air mata yang menetes dari sudut mata Lintang untuk dirinya. Yudha berjanji akan selalu membuatnya tertawa bahagia.
Yudah meraih ponsel yang ada di nakas lalu menempelkan di telinganya. Ia sengaja memilih tinggal di vila. Selain nyaman, Yudha pun tenang ditemani orang-orang tercinta. Sengaja memilih tempat itu untuk menjalani masa pemulihannya.
"Andre, kamu di mana?" tanya Yudha pada pria yang ada di seberang telepon.
"Ada di luar, Pak. Tepatnya di restoran bersama Bian. Apa bapak membutuhkan sesuatu?"
Yudha mengangkat tangannya dengan pelan, lalu duduk di tepi ranjang.
"Aku mau bicara, ini tentang pernikahanmu yang tertunda."
Yudha menoleh sejenak lalu beranjak. Sedikit menjauh dari Lintang, takut mengusik tidurnya.
"Kemarin aku sudah menghubungi pihak WO untuk mempersiapkan semuanya. Tapi aku tidak tahu, kamu dan Gita akan mengusung tema apa. Untuk yang lainnya, aku sudah menyerahkannya pada Bian. Sepertinya dia juga jago tentang masalah seperti ini."
"Terima kasih banyak, Pak. Seharusnya tidak usah repot-repot, saya bisa melakukannya sendiri."
Terdengar suara gelak tawa dari seberang. Disaat tertimpa musibah, Andreas yang menguatkan istrinya. Membantu dirinya dalam segala hal, apa ia akan berpangku tangan saat Andreas akan menikah?
"Tidak apa-apa. Aku yang seharusnya mengucapkan terima kasih padamu, karena sudah menjaga istri dan anakku dengan baik. Tanpa kamu, pasti semua tidak akan berjalan seperti ini."
"Baik, Pak. Nanti saya akan bicarakan ini dengan Gita dan ibu."
"Mas…"
Suara serak menyapa, menghentikan percakapan Yudha dan Andreas. Ternyata Lintang sudah terbangun dari tidurnya.
"Sebentar, Sayang. Yudha menyudahi pembicaraannya dan kembali ke ranjang. Merangkak naik, kembali membaringkan tubuhnya di samping Lintang.
"Jangan bilang kalau kamu membahas pekerjaan," celetuk Lintang kesal. Menatap kedua bola mata Yudha yang nampak berbinar.
"Tidak, Sayang. Aku hanya bilang pada Andreas untuk menyiapkan pernikahannya."
"Yakin?" tanya Lintang memastikan. Pasalnya, beberapa kali Yudha sudah ingin terjun lagi dengan pekerjaannya, namun Lintang selalu mencegahnya.
Yudha mengangguk, membenamkan wajahnya di ceruk leher sang istri, menyesap dalam-dalam aroma wangi dari sana.
"Sekarang istriku sudah pintar, ngapain aku kerja," sindirnya. Mengingat tiga hari yang lalu saat Lintang memutuskan kerjasama dengan salah satu perusahaan terbesar. Bahkan Yudha menyaksikan sendiri saat istrinya dengan lincah dalam memimpin rapat. Meskipun masih dalam pantauannya, tetap saja Yudha kagum dengan kinerjanya.
Lintang mencubit pinggang Yudha hingga membuat sang empu meringis.
"Sakit," keluh Yudha menggosok-gosok bagian pinggangnya.
"Makanya jangan suka menggoda ku." Lintang menyibak selimutnya. Menurunkan kakinya bersamaan, namun rengkuhan tangan kekar Yudha dari belakang menghentikannya yang hampir berdiri.
Sebuah kecupan mesra di pundak Lintang mendarat dengan lembut. "Jangan pergi, aku ingin kita menghabiskan waktu berdua lebih lama lagi," pinta Yudha dengan lirih.
Satu bulan ternyata belum cukup baginya mengurai rasa rindu, hingga ia tak ingin jauh dari Lintang.
"Kita akan selamanya berdua, tapi aku butuh makan, perutku lapar."
Yudha mengecup perut Lintang lalu mengusap nya. "Anak papa lapar, mau makan, apa mau ditengokin?"
"Dua-duanya, Papa," jawab Lintang menirukan suara anak kecil.
"Tapi aku mau makan dulu, lapar," ucap Lintang saat Yudha hampir memulai aksinya.
Lintang mengangguk pelan. Lalu mengikuti langkah Yudha. Mereka langsung menuju meja makan. Ternyata semuanya sudah ada di sana, termasuk Lion.
"Ya ampun kalian ngapain saja, lama sekali," gerutu Bu Indri, mengambilkan nasi untuk Lintang dan Yudha.
Bu Fatimah yang menyiapkan susu untuk keduanya.
"Tadi aku ketiduran, Ma. Gak tahu, akhir-akhir ini aku sering ngantuk."
Di kehamilannya yang sudah hampir menginjak sembilan bulan, ia merasakan perbedaan, baik dari segi pola makan maupun aktivitas, bahkan Lintang selalu bermalas-malasan untuk melakukan sesuatu.
"Biasa, Nak. Dulu, waktu ibumu mau lahiran, dia juga tidur, sampai ayah takut." Pak Juli mengenang detik-detik bu Fatimah mengalami kontraksi palsu. Sempat-sempatnya wanita itu memejamkan mata untuk mengurai rasa kantuknya.
"Kalau mamanya Yudha beda. Waktu kontraksi malah sembunyi di pojokan, waktu itu papa mengira dia kesambet, nggak tahunya mau melahirkan."
Semua bergelak tawa mendengar celotehan pak Juli dan Pak Radit.
Suasana meja makan itu sangat ramai. Berkumpulnya keluarga menciptakan suasana baru bagi Lintang dan Yudha. Kebersamaan mereka yang sudah satu bulan itu memberikan kebahagiaan.
"Kapan kita pulang ke Indonesia, Pa. Aku kangen sama Cantika."
Tiba-tiba Lion mengoceh membuat Yudha tersedak teh.
"Mas, pelan-pelan minumnya." Lintang menepuk punggung Yudha dengan lembut. Kebiasaan, setiap mendengar ucapan absurd putranya selalu terkejut.
Nama Cantika sepertinya memang sudah terpahat di otak Lion hingga setiap waktu ia terus teringat dengan gadis kecil yang katanya teman sekolahnya itu.
"Siapa Cantika?" tanya Bu Indri penasaran.
Lintang menatap wajah Yudha yang sudah merona, rasa malunya kian memuncak saat Bu Indri terdengar mengintimidasi.
"Temannya di sekolah, Ma." Lintang yang menjawab membuat Bu Indri manggut-manggut.
Pintu depan terbuka. Andreas masuk dengan kantong kresek di tangannya. Ia baru saja pulang dari apotik.
"Ndre, kamu pasti belum makan, kan? Sekarang makan dulu. Panggil Bian." Bu Indri menarik kursi kosong yang ada di samping Yudha.
"Maaf, Bu. Saya dan Bian sudah makan di luar. Saya ke sini mau mengantarkan ini."
Meletakkan kantong kresek itu di samping Lintang.
Yudha beranjak dari duduknya. Menghampiri Andreas, setelah itu mereka berjalan keluar rumah.
"Lihat, Ma. Baru saja sembuh sudah membahas pekerjaan lagi," gerutu Lintang menatap punggung sang suami yang semakin menjauh.
"Nggak papa, suami kamu memang seperti itu. Biarin saja, papa yakin Andreas bisa membantunya."
Yudah duduk di teras samping. Diikuti Andreas yang duduk di depannya.
''Kamu siapkan kepulanganku secepatnya. Aku tidak mau berlama-lama di sini, kasihan Lintang, pasti dia sudah terlalu lelah menjagaku."
"Saya juga berpikir seperti itu, Pak. Semenjak bapak hilang, Bu lintang satu-satunya orang yang yakin Anda masih hidup. Dia melarang semua orang mengirim bunga. Meskipun dia menerima ucapan bela sungkawa, tetap saja yakin Anda masih hidup."
Buliran bening lolos membasahi pipi Yudha. Ia tak bisa membayangkan nasib Lintang saat dirinya tidak ada, pasti setiap hari bermandikan air mata.