
Hampir dua jam menunggu, akhirnya Lintang bisa melihat wajah tampan suaminya kembali. Masuk ke ruangannya dengan wajah yang ceria, bibirnya dibalut senyum, sorot matanya nampak bahagia, seakan ada sesuatu yang baru saja didapat.
Dari mana dia? Lintang mengucap dalam hati, menatap gerak-gerik Yudha yang sangat aneh. Dia adalah lelaki angkuh, harga dirinya tinggi dan berwibawa, namun juga saat ini menjadi suami baik hati dan penyayang.
Kini Lintang sudah menguasai kepribadian Yudha dan isi hati pria itu. Tak sulit baginya untuk menebak apa yang baru saja di lakukannya.
"Mas, kamu dari mana?" tanya Lintang sambil bangun. Menurunkan kedua kakinya dengan bantuan Yudha.
Bian meletakkan barang belanjaannya di sofa.
"Beli itu." Hanya menunjuk beberapa paper bag yang berjejer rapi.
Lintang tidak tahu apa yang dibeli suaminya, matanya menatap Yudha dan Bian bergantian.
Ada yang disembunyikan dari mereka. Ya, Lintang tahu, tapi dia bisa apa, memaksa pun percuma karena saat ini tak memiliki upah untuk itu. Tubuhnya masih lemah dan tidak bisa melayani sang suami.
"Maksud aku bukan itu?"
Lintang berjalan pelan, masih dengan bantuan Yudha menuju ke arah sofa dan duduk di sana.
Menyentuh satu tas yang berisi gaun mewah.
"Kenapa kamu membelikan aku baju?"
Lintang menatap aneh pada Yudha.
Biasanya Yudha langsung mengajaknya ke butik dan memintanya untuk memilih sendiri. Kenapa tiba-tiba suaminya itu membeli tanpa seizinnya.
"Hadiah."
Lintang meletakkannya kembali. Menatap kesal pada sang suami yang tidak jujur padanya, padahal perkataannya dari tadi hanya pancingan, tapi tetap saja kekeh menutupi kebohongan.
"Kamu dari rumah Bu Natalie, kan?" Lintang mulai ke pokok pertanyaan. Ia tidak mau berbelit lagi yang membuat Yudha semakin bohong.
Yudha mengangguk pelan, enggan untuk bercerita, takut Lintang marah dengan apa yang diucapkannya tadi pada mantan istrinya.
"Bian, kamu keluar dulu," pinta Lintang lembut.
Bian langsung hengkang dan menutup pintu. Lintang beranjak menghampiri suaminya yang diam membisu.
"Aku nggak mau masalah ini berlarut, bagaimanapun juga bu Natalie itu ibunya Lion, dan aku tidak mau hubungan mereka semakin jauh karena masalah ini."
Tangan Yudha bergerak, menangkup kedua pipi Lintang. Membawa wanita itu ke pelukannya.
"Justru aku menyelesaikan masalah ini. Kalau aku hanya diam dan menerima, Natalie akan semakin nekad. Dia akan terus terusan mengganggu keluarga kita." Yudha menatap kedua bola mata coklat yang penuh cahaya.
Lintang tersenyum, kakinya menjinjit lalu menyatukan bibirnya.
Hatinya saat ini berbunga-bunga. Berkali-kali Yudha sudah membuktikan cintanya. Membela saat berhadapan dengan wanita-wanita yang ingin menyingkirkannya.
Yudha melepaskan ciumannya. Mengusap bibir Lintang yang sedikit basah.
"Kalau ini aku tidak yakin bisa bertahan." Memalingkan wajah dan mengelus tengkuk lehernya yang mulai merasakan keanehan.
Ada sesuatu yang sudah mulai menyeruak hingga Yudha tak bisa lagi untuk melakukan itu, takut kebablasan.
"Aku tahu." Lintang sengaja menyandarkan kepalanya di dada bidang Yudha,. Tangannya menyusup ke dalam kemeja lalu berhenti di bulu halus pria itu.
"Sayang…"
Suara Yudha semakin parau, tapi itu lah yang memang Lintang inginkan, bukan memancing. Entah, hari ini ia ingin jahil pada sang suami.
Tak hanya tubuhnya yang mulai meriang, tapi bagian bawah sana sudah semakin mengembang dan menonjol. Bahkan Lintang bisa merasakan benda yang dikurung rapat itu mengeras.
Ini gara-gara kegagalan semalam, menggerutu dan terus memaki dalam hati.
"Mas, aku mau pulang." Ucapan Lintang membubarkan otak Yudha yang hampir membayangkan pergulatannya. Begitulah istri mudanya, setelah membawanya terbang langsung menjatuhkan ke dasar jurang.
"Kamu harus dirawat dulu," jawab Yudha. Pelan-pelan ia menolak permintaan sang istri.
Lintang melepaskan pelukannya. Berjalan menuju ranjang lalu duduk dengan kaki menjulur ke bawah. Bibirnya manyun menandakan jika ia sedang marah.
Yudha mengikutinya dan mencium kening wanita itu dengan lembut.
"Aku akan bicara dulu sama dokter. Kalau mereka bilang tidak boleh, tetap tidak boleh."
Di depan ruangan itu nampak hening. Bu Fatimah dan Pak Juli tidak saling bicara apapun, sedangkan Bian dan Andreas memilih berdiri di bagian pojok.
Meskipun duduk berdua, tetap saja mereka seperti orang asing yang tidak saling kenal. Beberapa orang dan dokter yang melintas pun bisa menangkap kecanggungan mereka.
Pak Juli menoleh menatap bu Fatimah dari samping.
"Kalau ibu capek, pulang saja, biar ayah dan Yudha yang menunggu Lintang."
Pak Juli memberanikan untuk membuka suara. Memecahkan suasana yang sepi.
Bu Fatimah menggeleng tanpa suara. Sepuluh jarinya yang menyatu menandakan jika dirinya merasa tak nyaman dengan kehadiran pak Juli.
Bian melirik ke arah mereka sejenak lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Andreas.
Setelah itu sang sekretaris pun menoleh ke arah pasangan yang kini ada di ambang perceraian.
"Kamu yang belum menikah, bantu mereka."
Mengucapkannya pada Bian, namun itu mencolok pada dirinya sendiri yang sampai saat ini masih menjomblo.
Bian menghampiri Bu Fatimah dan pak Juli. Bersimpuh di depan mereka. Meraih tangan keduanya lalu menggenggamnya dengan erat.
"Kalau ayah dan ibu bisa bersatu, kenapa harus pisah?" Menatap pak Juli dan Bu fatimah bergantian. Menyatukan tangan mereka. Menyambung tali yang sempat putus karena sebuah kesenangan sesaat.
Bu Fatimah membisu. Ia tak ingin berkomentar apapun, sebab hatinya saat ini pun mulai diliputi keraguan karean banyak yang mendukung.
Lintang yang dari tadi mengintip dipintu pun keluar dan berdiri di belakang Bian.
"Aku setuju sama Bian." Mengutarakan jawabannya.
"Kamu sudah memaafkan ayah?" tanya pak Juli memastikan.
Lintang sekilas menoleh pada sang suami. Pria yang dulu juga pernah melakukan kesalahan padanya dan sang ibu. Tapi Lintang bisa membuka hatinya untuk dia. Bahkan sekarang mengabdi padanya.
"Aku sudah memaafkan ayah, tapi jangan sampai melakukan kesalahan untuk yang kedua kali."
Hati pak Juli terenyuh. Anak yang pernah disia-siakan ternyata berhati mulia. Ucapan terima kasih saja tak akan cukup untuk menebus dosanya.
"Bagaimana, Bu?" tanya Lintang meyakinkan.
Bu Fatimah merasa dirinya terpojok. Keputusannya untuk bercerai pun luntur seketika, namun ia tak boleh lengah begitu saja. Kesalahan pak Juli yang sudah menghianatinya tidak patut untuk dimaafkan dengan mudah.
Aku akan menguji ketulusanmu lagi, jika memang kamu benar-benar taubat, pasti kamu akan sabar menunggu jawabanku.
"Untuk saat ini aku belum bisa memilih. Biarkan waktu yang menjawab."
Bu Fatimah meninggalkan yang lain, tak ingin menjadi tahanan dan terus diinterogasi. Malu dengan mereka yang masih muda.
"Gagal, kan? Ini semua gara-gara, Mas."
Lintang menyalahkan sang suami yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan itu semua.