
Gita Melupakan kejadian kemarin. Hari ini ia harus punya semangat baru melakukan aktivitas seperti biasa. Membantu ibu membereskan rumah lalu ke kantor.
Gita membuka helm. Menatap parkiran yang masih lumayan sepi, tersenyum mengingat beberapa bulan yang lalu saat dirinya masih berdua dengan Lintang, jika berangkat lebih pagi, pasti mereka menghabiskan waktunya di taman. Bercanda sebelum menyibukkan diri dengan pekerjaan yang menguras otak dan tenaga.
Tin tin
Bunyi klakson membuyarkan lamunan Gita. Ia menoleh, menatap mobil mewah yang berhenti di belakang motornya. Wajah yang sangat familiar menatap dirinya dari dalam.
Gita merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, menatap bayangan wajahnya dari spion lalu membalikkan tubuhnya ke arah mobil tadi.
Ternyata mobil pak Andreas, kenapa dia parkir disini, bukankah ini tempat untuk karyawan.
Gita turun dari motor. Berjalan di samping mobil itu. Namun, langkahnya harus terhenti saat sebuah tangan menarik tas nya.
"Kenapa semalam kamu menghapus pesan yang belum aku baca? "ucap Andreas mengawali pembicaraan.
Gita memejamkan matanya sejenak, berpikir untuk tidak terlalu terbawa perasaan yang menggebu. Menahan dadanya yang bergemuruh saat Andreas menautkan jemarinya.
"Saya salah kirim, Pak," bohong Gita tanpa menoleh.
"Tidak mungkin," tukas Andreas tak percaya.
Satu karyawan datang dan memarkirkan motornya. Andreas melepaskan tautan tangan Gita. Pura-pura bermain ponselnya dan bersandar di mobil.
"Pagi, Pak," sapa seorang pria membungkuk ramah di depan Andreas. Dia adalah Samsul, rekan kerja Gita dan Lintang, bahkan Samsul sangat akrab dengan kedua wanita itu saat dulu masih bersama.
Sang asisten hanya mengangguk tanpa suara, sedangkan Gita menatap ke arah lain.
"Masuk yuk, Git!" ajak Samsul.
Ngapain dia ajak Gita, apa dia tidak melihatku di sini?
Melirik Samsul yang menurutnya sok kegantengan.
Kalau aku menolak, Samsul pasti curiga, kalau aku ikut, kasihan pak Andreas. Sepertinya dia ingin membicarakan sesuatu.
"Sebentar lagi, aku lagi nungguin seseorang," jawab Gita asal. Meskipun ia nampak gugup, setidaknya bisa memberi alasan yang sedikit masuk akal.
Setelah Samsul menghilang di balik pintu depan, Gita mengelus dadanya.
Andreas membuka pintu mobil.
"Masuk!" bisiknya di telinga Gita.
Gita celingukan ke arah kiri kanan. Setelah memastikan tak ada siapapun, ia langsung masuk ke mobil Andreas.
Andreas pun ikut masuk. Melihat jam yang melingkar di tangannya. Ternyata masih ada waktu tiga puluh menit untuk bisa bersama Gita.
"Mau ke mana, Pak?" tanya Gita asaat Andreas menyalakan mesin.
Tak ada jawaban, Andreas keluar dari halaman. Melajukan mobilnya lagi, menerobos jalanan yang sangat padat.
Andreas menghentikan mobilnya di depan taman kota. Ia menatap Gita yang tampak malu-malu.
"Aku mau bicara sama kamu," ucap Andreas singkat.
"Tentang apa?" Gita masih tanpa ekspresi. Ia takut terlena dengan wajah tampan Andreas.
Andreas menghela nafas panjang. Ternyata tak semudah yang ia bayangkan, mengatakan dan langsung diterima. Begitu kira-kira yang ia pikirkan semalam. Namun kini, Ia harus menyiapkan hati, mental dan juga fisik. Takut ditolak wanita yang ada di samping nya.
"Aku mencintaimu," ucap Andreas. Tangannya mengambil sebuah kotak dan menyodorkannya di depan Gita.
Mata Gita membulat sempurna, jangan ditanya, jantungnya saat ini berdegup dengan kencang. Hatinya berdebar-debar tak karuan. Tak percaya dan ingin Andreas mengulangi perkataannya. Namun, ia tak mempunyai keberanian untuk itu, baginya satu kata tadi akan ia ingat sampai mati.
Jam 07.15 waktu setempat, bertepatan hari rabu akan menjadi sejarah. Andreas, asisten Yudha menyatakan cintanya untuk Gita, gadis yang bekerja sebagai karyawan biasa.
Aku tidak sedang bermimpi kan, ini nyata, Pak Andreas mencintaiku. Aku juga mencintainya.
"Lalu?" Gita bertanya penuh penekanan. Menatap cincin berlian yang ada di pangkuannya.
Ingin Andreas mengartikan dari kata-katanya tadi. Maksud dari itu semua.
"Lalu, kita menikah, seperti pak Yudha dan bu Lintang."
Seketika Gita mencondongkan kepalanya ke arah Andreas. Tanpa sadar bibirnya mendarat di pipi pria itu hingga membuat sang empu terbelalak.
Dia menciumku, itu artinya dia menerimaku.
"Apa bapak mau melamar saya?" tanya Gita memastikan, ia ingin semuanya tuntas pagi ini juga. Tak ingin ada kejanggalan dengan hubungan itu.
"Iya, aku akan melamar kamu secepatnya," imbuh Andreas, iya sudah yakin akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius.
"Doakan, semoga ibu kamu menerimaku."
Gita mengangguk cepat.
Andreas menyematkan cincin itu di jari manis Gita. Bukti bahwa dirinya sudah serius dengan ucapannya.
Andreas lega, akhirnya ia bisa meluapkan semua beban di dada. Setelah mengatakan semua isi hatinya, ia kembali melajukan mobilnya ke arah kantor.
Senyum merekah menghiasi bibir Gita yang baru saja turun dari mobil sang kekasih. Tak bisa dipungkiri, jika dirinya saat ini seperti berada di angkasa. Menikmati indahnya awan putih yang menenangkan.
Melambaikan tangannya ke arah Andreas yang masih ada di dalam mobil.
"Tetap profesional, pekerjaan hari ini harus cepat selesai, nanti malam aku akan datang ke rumah kamu," pesan Andreas.
Gita mengangkat jempolnya lalu berlari masuk.
Andreas mengelus pipinya. Ciuman Gita masih terasa hangat. Meskipun sedikit agresif, tapi ia menyukainya. Gadis polos yang tak banyak tingkah. Peristiwa yang menimpa Yudha menjadi pelajaran baginya untuk waspada dalam memilih pendamping hidup.
"Ya ampun Gita, kamu dari mana saja?" tanya seorang wanita cantik yang sudah berada di ruangan Gita.
Untuk yang kedua kali ia dikejutkan dengan kehadiran orang terdekat.
"Lintang," seru Gita, berhamburan memeluk sang sahabat yang sudah merentangkan tangannya.
Saling melepas rindu. Hampir dua bulan berpisah, kali ini mereka bisa bertemu lagi dengan suasana yang berbeda.
"Gita, kamu tahu nggak, aku di sini sudah hampir satu jam, kenapa lama sekali?"
Menatap wajah Gita yang nampak berseri-seri.
Kalau aku bercerita pada Lintang, lancang nggak ya. Apa pak Andreas akan marah.
Gita meletakkan tas di meja kerjanya, lalu menghampiri Lintang yang ada di kursi tamu.
"Kenapa kamu nggak mau menerima uang dari mas Yudha?" tanya Lintang meraih tangan Gita. Sebab, itu tujuan awal ia datang ke kantor.
"Nggak papa, aku ikhlas. Sekarang aku mau cerita, kamu harus memberikan pendapat."
"Cerita apa?" Lintang antusias. Kepo dengan apa yang akan dikatakan Gita padanya.
"Pak Andreas mau melamarku."
Lintang menganga. Seakan ikut merasakan kebahagiaan Gita. Saking bahagianya, mata Lintang berkaca mendengar kabar itu.
Berpelukan lagi dengan erat.
"Selamat, aku yakin Pak Andreas bisa membahagiakan kamu seperti mas Yudha membahagiakan aku."
"Aamiin."