
Sesampainya di kamar, Tuan Angga merebahkan Febby diranjang. Berusaha membangunkan nya namun Febby tak sadar juga.
" Suruh pelayan untuk membuatkan teh, " perintah Tuan Angga pada Marcel. Tanpa menjawab Marcel langsung kedapur membuatkan teh untuk Febby tanpa menyuruh pelayan.
Tuan Angga berniat ingin mengoleskan minyak kayu putih ke Febby namun belum sempat melakukannya Febby sudah sadar lebih dulu.
" Jangan sentuh aku! " Febby menepis tangan Tuan Angga yang hendak mengoleskan minyak.
Marcel yang datang sambil membawa teh melihat Febby sudah sadar, langsung menyodorkan tehnya kepada Febby untuk diminum. Namun Febby menolaknya.
" Minumlah, kau bisa membicarakan masalah ini baik baik dengan suamimu. Jangan dengan emosi kau tidak akan menang jika bertengkar dengan dia, " Marcel berusaha mencairkan suasana.
Akhirnya Febby mengiyakan untuk minum teh yang diberikan oleh Marcel. Tuan Angga hanya diam menatap Febby sambil menahan Emosi. Namun dia berusaha untuk menahannya karena tidak ingin kelepasan seperti tadi.
" Maafkan aku yang sudah menamparmu, apakah masih sakit? " ucap Tuan Angga yang merasa bersalah sudah menyakiti Febby.
" Sakit ini tidak ada apa apanya dengan apa yang sudah kau lakukan padaku, " jawab Febby ketus dan memalingkan wajahnya.
" Ok baiklah, aku akan mengatakan segalanya kepadamu sekarang. "
" Apa yang ingin kau katakan, kau ingin menjelaskan padaku bahwa semua yang kutuduhkan padamu itu salah? " Febby menjawab ketus masih dengan membuang muka.
Tuan Angga tersenyum melihat tingkah Febby yang menggemaskan seperti itu. Dia ngambek seperti itu membuatnya semakin menggemaskan.
Bahkan walaupun kau sedang marah kau masih saja terlihat cantik gadis bodoh.
" Memangnya apa yang ingin kau dengar, aku memang mencintaimu dan sangat mencintaimu. "
" Bohong! " Masih dengan memalingkan wajahnya.
" Aku juga tidak mengerti dengan perasaanku. Yang jelas aku tertarik denganmu saat pertama kita bertemu. Dan semakin lama aku semakin menyukaimu. "
Tuan Angga berusaha meyakinkan Febby.
" Lalu jelaskan mengapa kau menjadikanku sebagai alat balas dendammu jika memang kau benar mencintaiku, " Febby menjawab dengan ketus sambil menatap tajam wajah Tuan Angga.
" Ya memang aku sangat membenci laki laki itu. Karena dia yang sudah merebut Siska dariku hingga pernikahan kami hancur. Dan saat aku mengetahui bahwa dia ternyata juga suka padamu, aku semakin berambisi untuk bisa memilikimu. "
Febby hanya diam tak menjawab. Ya meskipun Tuan Angga sudah menjelaskan segalanya tetap saja dia menikahinya karena ingin membalaskan sakit hatinya.
Disisi lain
Saat Dea pulang sekolah dia menunggu Han menjemputnya seperti biasa. Tapi tiba tiba seseorang menghampiri Dea.
" Hay kamu gadis yang bernama Dea ya? " sapa seorang wanita kepada Dea.
" Iya kak, kakak siapa ya? "
" Aku Monica kekasihnya Han. Ada hubungan apa kau dengannya. Kenapa dia yang selalu menjemputmu? " tanya Monica penuh selidik.
" Ohh itu, aku tinggal di Rumah kak Neddy sekarang. Jadi kak Han yang mengantar jemput aku. Kakak jangan marah ya hehe, " jawab Dea sambil tersenyum canggung karena sadar bahwa wanita di depannya itu sedang cemburu.
" Benarkah begitu? "
Belum selesai Monica melanjutkan kata katanya tiba tiba Han sudah datang menghampiri Dea. Han kaget mengapa ada Monica disini.
" Sayang kau sudah pulang? kenapa tidak bilang padaku. Aku kan bisa menjemputmu di Bandara. " ucap Han yang kaget karena kekasihnya yang sudah pulang dari Amerika.
" Aku sudah pulang dari kemarin, tapi berulang kali aku mengirim pesan kau tidak membukanya. Aku telfon tapi tidak bisa, " jawab Monica sedikit kesal.
" Maaf ya sayang, kemarin aku benar benar sibuk, " Han berusaha meminta maaf agar kekasihnya itu tidak marah.
" Sibuk dengan dia kan? " ucap Monica sambil melirik kearah Dea.
" Kak tolong ya jangan berantem disini aku malu dilihat teman teman. Kalo mau berantem dirumah saja, " ucap Dea berusaha melerai mereka karena teman teman sekolahnya melihat kearahnya.
" Okey Aku pulang dulu ya kak. Oiya kak Han aku bolehkan nyetir mobil sendiri, kali ini aja, " Dea meminta ijin pada Han sambil ngeloyor masuk kedalam mobil. Namun sial saat Dea ingin masuk kemobil kakinya tersandung dan Han dengan sigap langsung menangkapnya agar tidak jatuh. Mata mereka bertemu saling menatap.
" Deg ... deg ... deg .... " jantung Dea tiba tiba berdegup kencang.
Aduh kenapa denganku, kenapa perasaanku seperti ini sih.
Batin Dea dalam hati masih tetap menatap Han.
Monica yang merasa kesal semakin dibuat kesal olehnya.
" Sudah sudah ngapain saling menatap gitu sih, " Monica menarik tangan Dea agar bangun dari tangkapan tangan Han.
" Hehe maaf kak gak sengaja, " Dea cengengesan sambil masuk ke mobil.
Han yang melihat Dea menyalakan mesin mobil berteriak dengan keras.
" Jangan Dea, aku yang akan mengantarmu pulang. Kalau kau menyetir sendiri aku bisa kena marah sama Neddy. "
Namun Dea tak memperdulikannya, dia sudah tancap gas meninggalkan Han dan Monica.
" Yeeyyy akhirnya aku bisa menyetir mobil lagi. Aku kerumah kakak ah, " dan akhirnya Dea pun menuju rumah Febby dan Angga.
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Sesampainya didepan Rumah kakaknya Dea langsung nyelonong masuk mencari kakaknya. Dia mengabaikan pelayan yang menyapanya. Namun saat Dea sampai didepan kamar kakaknya dia melihat ada Marcel kakaknya dan juga Kakak iparnya.
" Kak, ngapain sih pada ngumpul disini semua. Ini kak Marcel juga ngapain disini mengganggu saja, " ucap Dea yang tiba tiba masuk mengagetkan semuanya.
" Dea ... kamu sudah pulang. Kamu baik baik saja kan? " Febby langsung turun menghampiri Dea. Dia merasa khawatir dengan keadaan Dea meskipun Neddy sudah mengatakan Dea baik baik saja.
" Yaa seperti yang kakak lihat. Kakak habis nangis ya kok sembab gitu sih matanya. "
" Iya dia nangis dan kamu juga mengganggu saja, " Marcel langsung menimpali sambil mengejek Dea.
" Yeeyy apaan sih gaada kabel putus juga nyambung aja, " Dea membalas ketus.
" Sudah sudah kenapa kalian yang jadi ribut sendiri, " Tuan Angga mendekat kearah mereka sambil melingkarkan tangannya diperut Febby, memeluknya dari belakang. Febby berusaha melepaskannya namun Tuan Angga semakin mempererat pelukannya.
" Cieeee ... ehemm aku ganggu ya, yasudah deh aku keluar. Hey kau manusia jahil ayo keluar. Apa kau ingin mengganggu kakak dan juga kakak iparku? " Dea menggoda mereka dan juga mengajak Marcel keluar.
Setelah mereka berdua keluar Tuan Angga langsung mengunci pintu kamarnya.
" Sekarang hanya ada kau dan aku disini, tidak akan ada yang mengganggu kita, " ucap Tuan Angga sambil mendekat kearah Febby. Namun semakin Tuan Angga mendekat, Febby semakin mengambil langkah mundur untuk menghindar.
" Jangan mendekat, atau aku akan teriak, " ucap Febby mengancam meskipun dia sendiri mungkin tidak akan berani teriak.
" Lakukan saja, sekeras apapun teriakanmu tidak akan ada yang menolongmu, " jawab Tuan Angga dengan seringai yang menakutkan.
" Aku membencimu, sangat membencimu! "
" Tapi aku mencintai, sangat mencintaimu. "
Tuan Angga memepet Febby yang sudah mentok di dinding, mendekatkan wajahnya dengan Febby. Tangannya memegangi dinding mengunci Febby.Febby semakin takut, nyalinya semakin menciut. Hembusan nafas Febby yang terengah ketakutan dapat dirasakan oleh Tuan Angga.
" Katakan padaku, siapa yang memberimu ijin untuk menemui laki laki itu, heemm? " Kemarahan nampak jelas terlihat diwajah tampannya.
" Aa ... aku ti ... tidak sengaja bertemu dengannya tadi. Lagi pula aku tak harus meminta ijin denganmu, " jawab Febby terbata bata ketakutan namun dia berusaha untuk tetap menjawabnya.
" Kau itu milikku, hanya milikku !!! "
" Aku milikmu hanyalah sebatas tulisan diatas kertas, selebihnya kau tidak punya hak apapun dengan diriku! " suara Febby lantang dan ketus, entah darimana dia mendapatkan keberanian untuk menjawab.
" Aku sangat berhak atas dirimu, hidupmu tubuhmu dan juga hatimu! " jawab Tuan Angga tegas penuh penekanan.