
Febby hanya menganggukan kepalanya mendengar jawaban dari pelayan itu. Lalu Tuan Angga mengajak Febby makan dengan menyuapinya. Namun tiba tiba " Gubrakkk "
Datang kawanan orang tak dikenal mengobrak abrik tempat itu. Para pelayan pun ketakutan, begitupun dengan Febby. Namun orang orang itu rupanya tidak mengincar Febby melainkan Tuan Angga.
Mereka langsung mengeroyok Tuan Angga. Namun mereka semua dapat dikalahkan dengan mudah oleh Tuan Angga. Kemampuan bela diri mereka masih jauh dari kemampuan Tuan Angga. Mereka langsung kabur pontang panting sebelum Tuan Angga berhasil meringkus salah satu dari mereka untuk mengetahui dalang dibalik semua ini.
Tuan Angga kemudian mendekati Febby yang masih diam ketakutan menyaksikan semua itu. Febby hanya diam saja ketika Tuan Angga mengajaknya pergi.
Tuan Angga melajukan mobilnya dengan kencang karena masih sangat marah siapa yang sudah menghancurkan makan malamnya. Namun dia tahan amarahnya karena tidak ingin membuat Febby semakin takut. Dia mengantarkan Febby pulang.
disisi lain
" Bodoh! Menghajar laki laki itu saja tidak bisa! " geram Neddy mengepalkan tangan.
Dia sangat marah ketika orang suruhannya kalah, namun setidaknya dia sudah berhasil merusak makan malamnya.
»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»»
Febby masuk kantor seperti biasa, dia melakukan pekerjaannya seperti biasa. Namun sikap Tuan Angga menjadi dingin kepada Febby sejak kejadian semalam.
Dia kenapa dingin gitu, apa dia marah perihal semalam? tapi kenapa marah padaku, apa salahku ?
Kemudian Febby memberanikan diri untuk bertanya kepada bos nya.
" Maaf Tuan, apa Tuan marah dengan saya karena kejadian tadi malam? " tanya Febby lirih sambil menahan takut. Takut kalo dia akan kena marah karena sudah berani bertanya seperti itu.
" Tidak, aku tidak marah padamu. Nanti jam 10 kau ikut aku, " jawab Tuan Angga singkat.
Febby hanya mengangguk mengiyakan ajakan bosnya, meskipun sebenarnya dia penasaran tapi dia lebih memilih diam. Mungkin masalah pekerjaan begitu pikir Febby.
Jam menunjukkan pukul 09:00. Tuan Angga mengajak Febby pergi.
" Ayo kita berangkat sekarang. "
" Sekarang? tapi bukankah ini masih jam 9 Tuan. "
" Sudah ikut saja jangan banyak bicara. "
Febby hanya mengiyakan tanpa bertanya lagi. Dia melihat sepertinya mood bosnya sedang tidak baik. Jadi dia berpikir untuk tidak banyak bertanya takut bosnya akan marah .
" Loh pak kita mau ngapain kesini? "
" Sudah ayo masuk, jangan banyak bertanya. "
Mereka masuk kesebuah butik. Dan Tuan Angga menyuruh pelayan disana untuk memilihkan gaun pernikahan yang paling bagus untuk Febby.
" Tolong pilihkan gaun pernikahan yang paling bagus dan cocok untuk dia, " ucap Tuan Angga sambil menunjuk kearah Febby. Kemudian duduk di sofa tunggu. Febby yang mendengarnya pun sontak kaget dan melongo.
" Untukku, tapi aku tidak akan menikah Tuan. "
" Kau akan menikah, jadi turuti saja perkataanku. Atau akan buruk akibatnya pada adikmu. "
Febby langsung terdiam mendengar ancaman Tuan Angga.
Kenapa dia selalu melibatkan Dea dalam masalahku sih.
" Ha ha ha ... makanya ikuti saja perintahku jika kau tidak ingin adikmu aku libatkan. "
Kemudian Febby lebih memilih nurut daripada harus berdebat dengan bosnya yang keras kepala seperti itu.
Setelah selesai fitting gaun pernikahan, Tuan Angga mengajak Febby kesebuah Hotel. Dia menuju Hotel yang sudah dipesan satu kamar untuk Febby. Febby ingin sekali protes namun dia tahan.Kemudian datang 2 orang wanita masuk kekamarnya.
" Bisa langsung dimulai tuan? " tanya seorang wanita kepada Tuan Angga.
" Ya dandani dia secantik mungkin, " jawab Tuan Angga santai sambil duduk disofa.
" Apa dandani? secepat ini? tapi aku tidak ingin menikah. Dan dengan siapa aku akan menikah, " protes Febby.
Tuan Angga tergelak mendengar jawaban Febby. Dia kemudian bangun dan mendekati Febby sambil berbisik lembut ditelinganya.
" Tentu saja kau akan menikah denganku sayang,kau kan kekasihku. Apa kau pikir aku akan menikahkanmu dengan orang lain heemm? "
" Tidak, aku ingin menikah denganmu. Aku bahkan tidak mencintaimu. "
Amit amit jabang bayi deh, dunia akhirat pun aku ogah nikah sama orang menyebalkan sepertimu.
" Aku tidak perduli kau mencintaiku atau tidak. Setidaknya aku bisa membalaskan dendamku, " ucap Tuan Angga sinis.
Dendam? dendam dengan siapa kenapa aku yang menjadi pelampiasannya?
" Dendam? dengan siapa? mengapa aku yang menjadi pelampiasan? " tanya Febby tak kalah sinis juga.
" Sudah jangan banyak bicara, menurut saja jika kau masih sayang adikmu, " jwab Tuan Angga datar dengan tatapan yang menakutkan.
Febby hanya bisa diam mengikuti perintah Tuan Angga. Dia sudah dihias dengan sangat cantik dan anggun. Begitupun dengan Tuan Angga, dia juga sudah berganti baju. Siap untuk segera melakukan pernikahan.
Pernikahan yang sangat mendadak namun banyak sekali tamu dan juga media yang meliput. Disana juga ada Dea yang terlihat sangat senang mendapati kakaknya akan segera menikah.
Dea mendekat kearah febby.
" Wah kak, kakak cantik sekali kakak beruntung banget bisa menikah sama bos kakak. "
Febby hanya tersenyum meskipun hatinya menangis. Dia tidak ingin menikah namun dia harus melakukannya.
Prosesi ijab dan qabul pun dilakukan dengan sangat khidmat. Febby hanya bisa meneteskan air mata saat para saksi mengatakan sah.
" Saya terima nikah dan kawinnya Febby Safitri untuk diri saya sendiri dengan mas kawin tersebut dibayar tunai. "
" Bagaimana para saksi? sah? "
" Sah .... " serempak semua saksi dan orang orang menjawab.
Kini Febby telah resmi menjadi istri dari Tuan Angga. Febby hanya bisa meneteskan air mata meratapi nasibnya.
Ini hanya mimpi kan? aku tidak mungkin menikah dengan dia
" Kenapa kau menangis sayang? apa kau bahagia? ya tentu saja kau bahagia. Karena sekarang kau menjadi istriku. Istri dari seorang Angga Wijaya, benar bukan? "
Febby tetap diam tak menjawab. Namun dia sudah menyeka air matanya mengingat banyak tamu, mereka melakujan resepsi hingga selesai.