Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 41. Curiga


Gita duduk di ruangannya. Membuka tirai jendela yang langsung menghubungkan dengan ruangan Lintang. Menatap sang sahabat dengan tatapan selidik, ia tak fokus pada pekerjaannya yang menumpuk. Akan tetapi teringat saat Lintang berjalan menuju lift bersama dengan Yudha hingga mengabaikan semua yang seharusnya sudah selesai. 


Apalagi beberapa hari Lintang tak masuk tanpa kabar bak ditelan bumi, seakan sahabatnya itu kini menjadi misterius. 


Seorang cleaning service masuk membuyarkan lamunan Gita. Beranjak dari duduknya dan berdiri di ambang pintu. 


Ruangannya yang berhadapan dengan  ruangan Lintang membuat dirinya bisa dengan jelas menatap siapapun yang keluar masuk dari tempat itu. 


"Ada apa ya, Mbak?" tanya Lintang menatap makanan yang ada di tangan wanita itu. 


"Saya mengantarkan ini." 


Lintang mengerutkan alis. Menerima tanpa bertanya dan membawanya ke meja. 


"Terima kasih, Mbak."


Pasti dari mas Yudha. 


Ia meraih ponselnya dan menghubungi sang suami. 


Setelah tersambung, Lintang menutup pintunya, menyisakan jendela kaca yang terbuka. Setidaknya bersiaga, takut ada orang yang tahu dengan hubungannya yang masih rahasia. 


"Mbak, sini!" panggil Gita pada wanita yang melintas di depan ruangannya. 


"Mbak, siapa yang mengirim makanan untuk Lintang?" tanya Gita berbisik, takut yang lain dengar dan akan menjadi gosip besar-besaran di kantor. 


"Tidak tahu, Mbak. Saya hanya disuruh mengantar makanan ke ruangan mbak Lintang oleh ibu kantin." 


Semakin mencurigakan. 


Gita mengetuk-ngetuk dagu dengan satu jarinya. Masuk ke ruang nya lagi, mondar-mandir mengabsen lantai. Menerka-nerka siapa orang yang sudah mengirim makanan untuk Lintang. Pasalnya, tidak mungkin Lintang yang memesan makanan itu sendiri. Bukan tipe Lintang makan di kantor, apalagi di pagi hari. 


Aku harus tanya dia langsung. 


Gita keluar dari ruangannya, mengetuk pintu ruangan Lintang. 


Senyum Lintang meredup mendengar ketukan pintu yang menggema. 


''Lain kali Bapak tidak usah mengirim makanan ke ruangan saya," cetus Lintang pada orang yang ada di balik telepon lalu memutus sambungannya. 


Lintang membuka pintu, mempersilahkan Gita untuk masuk. Menyuruhnya duduk seperti biasa yang selalu ia lakukan. 


"Ke mana saja kamu nggak pernah masuk, kemarin di cari sama pak Setiawan."


Gita bak polisi yang mengintimidasi tahanannya. 


Aku harus bilang apa, nggak mungkin pakai alasan ibu sakit. 


"Aku… aku ambil cuti, Git," jawab Lintang gugup.


"Kenapa pak Setiawan nggak tahu? Kamu izin sama siapa?" 


Lintang tersenyum kecut. Wajahnya sedikit pucat karena kehabisan kata-kata. 


"Aku izin sama Pak Andreas, asistennya pak Yudha," jawab Lintang santai, berharap Gita mempercayai ucapannya. 


"Git, kita makan yuk, aku tadi lupa sarapan." 


Lintang mengalihkan pembicaraan. Meraih satu mangkok bubur ayam yang ada di meja dan memberikannya pada Gita, setelah itu ia mengambil yang satunya lagi. 


Untung buburnya ada dua. 


"Ini dari siapa?" tanya Gita menyuap satu sendok bubur ke dalam mulut. 


"Beli sendiri, aku tahu kamu suka bubur, makanya aku beli dua." 


Gita tersenyum dan kembali menikmati makanan yang ada di tangannya. Rasa curiga itu lenyap seketika bersamaan dengan rasa bubur yang lezat menggoyangkan lidah. 


Lintang bernafas dengan lega, setidaknya untuk saat ini masih bisa membungkam bibir Gita dengan semangkuk bubur pemberian suaminya. 


Aku harus lebih hati-hati lagi, belum waktu nya untuk ceritakan semuanya. 


"Git, aku keluar sebentar, nanti kalau pak Setiawan nyari, bilang aja kalau aku ke toilet." 


Lintang meletakkan buburnya yang masih separo lalu keluar dari ruangan. Bak seorang maling yang ingin mencari jalan keluar, Lintang celingukan sebelum ia berjalan menuju pintu lift. 


Aku akan cari waktu yang tepat supaya Gita tidak terkejut dengan hubunganku dan mas Yudha. 


Setelah pintu lift terbuka di lantai lima belas, Lintang berlari kecil ke arah ruangan Yudha. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara tawa renyah sang suami dari dalam. 


"Memangnya kamu belum punya suami?" Suara Yudha terdengar dengan jelas, entah dengan siapa, Lintang hanya menguping dari pintu yang sedikit terbuka. 


"Iya iya, nanti kita ketemu, tapi nggak janji kapan, soalnya aku sibuk banget." 


Lintang mengintip, menatap Yudha yang nampak bahagia dengan benda pipih di telinganya. 


Tawa nya terus meluncur seakan hidupnya tak ada beban sama sekali membuat dada Lintang tiba-tiba sesak. 


"Iya Claire, sampai kapanpun aku tidak akan lupa sama kamu. Kamu gadis yang paling cantik yang pernah aku kenal. Jangan khawatir, pokoknya kalau ada waktu aku traktir sepuasnya."


Lintang mengurungkan niatnya, ia pergi lagi tanpa menemui Yudha. 


Sepertinya mas Yudha akrab banget dengan wanita itu. Siapa dia, apa dia salah satu mantan mas Yudha juga. 


Lintang kembali ke ruangannya dengan hati yang sedikit cemas, entah kenapa, ia tak suka suaminya menyebut nama wanita lain, apalagi Yudha terdengar sangat akrab.


Duduk di kursinya, mengabaikan Gita yang terus bertanya. 


"Lintang…"


Akhirnya Gita berteriak membuyarkan otak Lintang yang masih berkelana. 


"Ada apa, Git?" tanya Lintang tanpa ekspresi, matanya mulai berkaca mengingat percakapan suaminya dengan wanita yang bernama Claire. 


"Kamu dari mana?" tanya Gita dengan suara lantang. 


"Dari kantin, bayar bubur tadi," jawab Lintang asal, untung ada alasan yang masuk akal untuk mengelabui sang sahabat. 


Membuka laptop alih-alih menyibukkan diri, padahal saat ini otak Lintang tak bisa berjalan dengan lancar, guratan cemburu terlihat jelas saat suaminya harus memuji wanita lain di depannya. 


"Git," panggil Lintang tanpa menoleh. 


"Jika ada laki-laki memuji seorang perempuan, itu tandanya apa?" 


Lintang bersiap menerima jawaban dari Gita yang beberapa kali pernah berpacaran, meskipun sekarang dengan akhir menjomblo, setidaknya lebih berpengalaman daripada dirinya. 


"Tandanya kagum sama perempuan itu, dan lama-lama akan menjadi cinta."


Hati Lintang terasa nyeri bak tertusuk seribu jarum. Sakit, disaat dirinya hampir luluh, justru ada lagi yang menghalanginya. 


"Itu hanya sebagian kecil saja," imbuh Gita meletakkan mangkok kotor di samping meja kerja. 


"Biasanya mereka juga memperlakukan perempuan itu dengan istimewa, membelikan baju mahal dan juga perhiasan," lanjutnya lagi serius. 


"Tadi pagi Mas Yudha juga memujiku," ceplos Lintang tanpa sengaja membuat Gita tersedak air yang hampir masuk ke kerongkongan nya. 


Gita memuntahkannya lagi lalu duduk di samping Lintang. 


"Kamu bilang apa?" tanya Gita penasaran. 


"Memangnya aku bilang apa?" Lintang berusaha memasang wajah polos. 


"Mas Yudha, mas__" 


"O, itu tetanggaku, tadi pagi dia bilang kalau aku cantik, tapi dia sudah punya istri," kilah Lintang meyakinkan. Mengusir rasa panik yang melanda. 


"Wah, ini lebih gawat, Lin." 


"Gawat apanya?" 


"Kalau laki-laki yang sudah beristri tapi memuji perempuan lain, itu pertanda kalau dia tidak setia dan suka berselingkuh." 


Deg


Seketika jantung Lintang berhenti berdetak, seakan seluruh organ tubuhnya tak berfungsi.