
Jam Menunjukkan pukul 8 malam, Febby sudah datang 15 menit lebih awal bersama Tuan Angga.
" Sayang, kau duduklah disana. Aku akan mengawasimu dari sini, " ucap Tuan Angga memberi arahan pada Febby sambil menunjuk meja yang dimaksud. Febby hanya menganggukkan kepalanya.
Setelah mereka menunggu cukup lama, akhirnya yang ditunggu tunggu datang juga.
" Hay Elsaku ... maafkan aku yang sedikit terlambat ya. Tadi aku ketiduran hehe, " ucap seseorang yang datang dan tak lain adalah Neddy.
" Neddy ... kau ... apa orang yang menelfonku itu adalah kau? " ucap Febby kaget tak percaya.
" Ya itu aku, aku sangat mencintaimu Elsa. Aku akan melakukan apapun asal bisa mendapatkanmu, " ucap Neddy yang terlihat serius.
Sedangkan disisi lain Terlihat Tuan Angga yang tampak geram setelah mengetahui bahwa laki laki itu adalah Neddy. Dia mengepalkan tangannya, menghantam meja.
Namun Tuan Angga berusaha untuk menahan amarahnya, dia ingin mengikuti permainan yang sudah Neddy buat.
" Kau pikir kau lebih cerdik dariku? Tidak, kau justru terlihat bodoh di mataku, " ucap Tuan Angga pada dirinya sendiri menahan geram.
" Kau benar benar sudah gila, aku sama sekali tidak menyangka kau sampai melakukan hal serendah ini. Apa kau tahu? karena perbuatanmu aku harus menerima hukuman dari Angga, " ucap Febby keras penuh amarah.
" Kau dihukum? Apa yang dia lakukan padamu? Apa dia menyakitimu? katakan Elsa, " jawab Neddy khawatir dengan keadaan Febby.
" Kau tidak perlu berpura pura perduli denganku. Aku benar benar kecewa sama kamu. Kamu orang yang selama ini paling aku percaya ternyata tega melakukan ini padaku, " ucap Febby seraya berdiri dari duduknya dan berniat untuk pergi meninggalkannya.
" Tidak Elsa, kumohon maafkan aku. Aku terpaksa melakukan ini karena aku tidak tahu harus bagaimana lagi untuk bisa mendapatkanmu, " ucap Neddy sambil memegang tangan Febby berusaha mencegah Febby agar tidak pergi.
" Plakkk .... " Febby menampar Neddy dengan sangat keras.
" Kuperingatkan kepadamu untuk pertama dan terakhir kalinya. Jangan pernah mengusik hidupku lagi, dan jangan pernah menampakkan dirimu di hadapanku lagi. Aku membencimu," ucap Febby memperingati Neddy lalu pergi meninggalkannya.
" Elsa tunggu ... kau harus mendengarkanku ... aku melakukan ini karena aku sangat mencintaimu, " teriak Neddy pada Febby namun tak digubris oleh Febby sama sekali. Dia tetap berlalu pergi tanpa mendengarkan ucapan Neddy.
" Kau lihat sekarang? kau tidak bisa melawanku. Kau lihat sendiri kan, bahwa Febby membencimu. Sebaiknya kau lekas lupakan Febby atau kau akan sakit hati nantinya, " ucap Tuan Angga yang tiba tiba datang mengagetkan Neddy.
" Oh rupanya kau mengikuti istrimu. Saat ini aku memang belum bisa mendapatkan hati Febby, tapi kita lihat saja nanti. Febby pasti akan pergi meninggalkanmu, " ucap Neddy sinis. Mereka saling menatap, terlihat jelas kebencian dan kemarahan dalam sorot mata mereka berdua.
" Oh ya? aku tunggu waktu itu, karena waktu yang kau nantikan tidak akan pernah datang, " jawab Tuan Angga yang tak kalah sinis. Lalu dia pergi meninggalkan Neddy seorang diri di restoran.
" Sial ... kau lihat saja Angga apa yang akan kulakukan padamu, " ucap Neddy sambil menggebrakkan tangannya pada meja. Semua orang sampai menoleh ke arahnya.
" Kenapa kalian menatapku seperti itu! " bentak Neddy pada semua pengunjung restoran yang melihatnya. Semua pengunjung itu hanya geleng geleng kepala melihat tingkah Neddy, lalu kembali acuh dan melanjutkan makan mereka.
Febby menunggu Tuan Angga di parkiran. Perasaannya sangat takut, dia takut kalau suaminya akan marah setelah mengetahui laki laki misterius itu adalah Neddy.
" Apa yang akan aku katakan nanti, dia pasti akan marah besar padaku. Oh Tuhan tolong aku ... " Febby berbicara sendiri sambil mondar mandir.
" Kenapa kau mondar mandir seperti itu? " ucap Tuan Angga mengagetkan Febby. Febby langsung diam mematung, wajahnya seketika berubah menjadi pucat pasi. Tuan Angga tau ketakutan Febby, perlahan dia mendekati Febby. Namun Febby semakin gugup saat Tuan Angga semakin mendekat ke arahnya.
" Tolong maafkan aku, aku benar benar tidak tahu kalau laki laki itu adalah Neddy. Tolong jangan sakiti aku, kumohon jangan marah padaku. "
Febby langsung menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Berjaga jaga jika suaminya sampai menamparnya ataupun memukulnya.
" Kenapa kau setakut ini sayang? aku tidak akan menyakitimu. "
Dengan ragu ragu Febby membuka tangannya pelan, mengintip wajah suaminya dari celah jarinya. Tuan Angga tampak tersenyum melihat tingkah lucu istrinya itu.
Tuan Angga yang tidak sabar langsung membuka paksa tangan Febby dan langsung mencium bibirnya.
Febby sangat kaget dengan ciuman yang tiba tiba itu. Lalu lama kelamaan Febby mulai menikmati setiap sentuhan itu dan membalas ciuman itu.
Mereka melakukannya cukup lama. Sampai akhirnya Febby menyudahinya karena tersadar mereka sedang berada di parkiran.
" Ahh ... lepaskan, apa kau tidak malu? ini diparkiran. "
" Memangnya kenapa kalau ini diparkiran, toh tidak ada yang melihat kita, " jawab Tuan Angga dengan senyum menggoda.
Febby hanya bisa memalingkan wajahnya, berpura pura kesal untuk menutupi rasa malunya.
" Sekarang aku sudah tau siapa orang itu. Jadi kupikir tidak ada yang perlu aku curigai lagi. Sekarang kita pulang, aku sangat lapar, " ucap Tuan Angga seraya menggandeng Febby untuk masuk ke dalam mobil.
" Kita kan masih disini, jadi kalau kau lapar kenapa tidak makan saja disini? " jawab Febby dengan wajah polosnya.
" Aku tidak ingin makan disini. "
" Yasudah kita pesan saja untuk dibungkus, kita makan di hotel, " jawab Febby masih dengan polosnya.
" Tapi aku ingin memakanmu, " jawab Tuan Angga dengan seringai liciknya.
Febby langsung melototi suaminya. Wajahnya memerah menahan malu sekaligus marah.
" Kau pikir aku makanan apa, mau main makan saja. Kalau aku tidak mau bagaimana? " jawab Febby balik menggoda.
" Aku tidak perduli, " jawabnya sambil menggendong Febby masuk ke dalam mobil.
Febby meronta ronta namun Tuan Angga tidak perduli.
Disepanjang perjalanan Febby terus mengomel. Berusaha untuk mengalihkan perhatiannya agar tak cepat sampai di hotel.
" Ckittttt .... " Tuan Angga mengerem mobilnya secara mendadak. Membuat Febby juga kaget sekaligus panik. Pikirannya melayang kemana mana, menebak apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
Aduh sepertinya aku menggali kuburanku sendiri. Seharusnya aku tidak bicara panjang lebar tadi, dia pasti marah karena ocehanku.
" Kalau kau tidak bisa diam, maka aku akan memakanmu disini, " ucap Tuan Angga dingin dan terdengar menakutkan. Febby langsung diam tanpa menjawab sepatah katapun.
" Anak pintar, " Tuan Angga tersenyum sambil mengelus elus rambut Febby. Kemudian dia kembali tancap gas dan melajukan mobilnya membelah ramainya jalanan.