Terpaksa Menikahi Duda Tampan

Terpaksa Menikahi Duda Tampan
Bab 78. Teman lama


Andreas turun dari mobil. Menghampiri Yudha yg nampak santai di teras. Sang asisten membuka kertas kecil yang diambil dari saku jas nya. 


"Semua yang Bapak berikan pada Bu Natalie hampir habis, hanya tinggal rumah. Restorannya sudah ada di pegadaian. Saat ini hanya ada satu perusahaan yang bekerja sama dengan dia, kontraknya selesai bulan depan."


Yudha tertawa penuh kemenangan. Mendengar itu semua seperti memiliki angin segar untuk menghancurkan hidup Natalie yang sudah berani mengusik keluarga barunya. 


"Katakan pada pihak perusahaan itu, aku akan membayar kerugian jika dia mau membatalkan kerjasamanya dengan  Natalie saat ini."


"Baik, Pak," jawab Andreas membungkuk ramah. 


Diam-diam tak hanya sepuluh anak. Yudha pun mendengar kan keseluruhan percakapan Lintang dan Lion saat berada di kamar. Ia marah, namun setiap yang dilakukan harus disembunyikan dari Lintang. 


Seperti perintah Yudha, Andreas pun langsung datang ke sebuah perusahan milik salah satu klien sang bos. Ia menemui CEO dari kantor itu untuk membicarakan perihal yang ditawarkan. 


Setelah membaca setiap inci kalimat yang tertulis, pria yang bernama Ganda itu tersenyum lebar. Tanpa banyak kata, ia pun langsung menandatanganinya tanda setuju. Itu bukan hanya keuntungan, namun bak durian runtuh yang menimpa dirinya. 


"Terima kasih atas kerjasamanya." Pak Ganda mengulurkan tangan, berjabat dengan Andreas yang juga merasa diuntungkan. Sebab, ia tak perlu bersusah payah untuk merayu. 


Baru saja membuka pintu, Andreas tersentak kaget saat benda keras membentur dadanya. 


"Aduh," keluh suara cempreng yang ada di depannya. 


Andreas hanya menggeleng, menahan rasa nyeri yang menjalar. Menatap rambut panjang yang menutupi wajah orang yang menabraknya. 


"Ema, kamu ngapain?" sapa Pak Ganda menghampiri Andreas. 


Gadis bermata coklat dengan pipi tembem itu mendongak. Tangannya masih setia mengelus keningnya. Menatap Andreas tanpa berkedip. 


Aku seperti mengenalnya, tapi siapa dia?


"Ema," seru pak Ganda membuyarkan lamunan gadis itu. 


Tersenyum renyah, matanya tak teralihkan dari wajah Andreas yang tampak kaku. Bahkan tak berekspresi meskipun melihat Ema yang cantik jelita. 


"Papa." Tanpa menggeser tubuhnya, mencekat Andreas yang berdiri di ambang pintu.


Pak Ganda menyungutkan kepalanya ke arah samping. Memberi kode pada putrinya untuk menyingkir. 


Andreas pura-pura merapikan dasi nya lalu berdehem. 


Ema tertawa geli. Perlahan berjalan menghampiri papanya yang ada di belakang Andreas. 


"Maafkan anak saya, Pak," ucap Pak Ganda merasa bersalah. Meskipun jabatannya lebih tinggi, tetap saja Andreas adalah orang yang sangat penting. 


"Tidak apa-apa," jawab Andreas tanpa menoleh, kembali mengayunkan kakinya menuju lift. 


Ema menatap punggung Andreas yang mulai berlalu masuk ke dalam pintu Lift yang terbuka. 


Tangannya melambai saat Andreas menghadap ke arahnya. 


"Dasar anak jaman sekarang," gerutu Andreas. 


"Kamu ngapain ke sini?" tanya pak Ganda pada Ema. Tak menjawab, gadis itu keluar dan berlari menuju tangga darurat. 


Di lantai dasar


Mata Ema terus tertuju pada pintu lift yang tertutup rapat, bahkan ia tak mengindahkan sapaan para karyawan yang melintas.


Apa mungkin ia sudah keluar, tanya nya dalam hati. Menghentak-hentakan kakinya, kesal. 


"Siang, Pak," sapa seseorang membuat Ema menoleh. Senyumnya melebar melihat seseorang yang dicarinya untuk berjalan menuju pintu depan 


"Tunggu!" teriak Ema. 


Andreas menghentikan langkahnya, menatap gadis yang menurutnya tak penting. 


"Kamu memanggilku?" Andreas memakai kacamata. 


Ema mengangguk cepat. Berdiri di depan Andreas sehingga ia bisa menatap wajah tampan pria itu dengan intens. 


"Ada apa?" tanya Andreas dengan nada datar. Sedikit mundur memberi jarak pada Ema untuk tidak terlalu dekat. 


"Kamu Andreas, kan?" tanya Ema menebak. 


Andreas mengerutkan alisnya. 


Darimana dia tahu namaku? Apa pak Ganda yang memberi tahu dia. 


"Iya," jawab Andreas singkat. 


"Ya ampun." Ema berhamburan memeluk Andreas yang membuat sang empu tersentak kaget. Bahkan Andreas tak punya kesempatan untuk menghindar sehingga terjebak pada sebuah drama pelukan. 


Jantung Andreas berirama lebih cepat. Aroma wangi rambut Ema membuat konsentrasinya buyar seketika, keringat dingin mulai bercucuran menembus pori-porinya. Wajahnya sedikit memerah karena panik. 


Deg deg deg 


Detakan jantung begitu memburu terdengar di telinga Ema yang masih menyandarkan kepalanya di dada Andreas. 


Ternyata Andreas masih saja seperti dulu, selalu gugup saat di dekatku. 


"Lepas, jangan seperti ini, aku malu," bisik Andreas. Matanya terus berkeliling menatap orang di sekitarnya. Akan tetapi tangannya tetap diam.


Ema mengendurkan pelukannya perlahan. 


"Kamu lupa padaku?" tanya Ema memastikan, dari nada bicara sampai ke yang lain, Andreas benar-benar tidak menunjukkan bahwa mereka saling mengenal, bahkan sekalipun Andreas tak menyapanya. 


"Kamu siapa?" tanya Andreas, otaknya terus berkelana mengingat wajah Ema yang sedikit familiar di matanya 


"Ema Suganda," jawabnya. 


Ingatan Andreas Kembali pada masa kuliah, tepatnya lima tahun lalu saat dia masih menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama. Ia mengenal gadis cantik yang bernama Ema Suganda, meskipun wajahnya sedikit berbeda, Andreas yakin Ema di depannya adalah Ema yang itu. 


"Ema yang selalu dihukum Bu Ingrid," tebak Andreas. 


Ema mengangguk, pasalnya itu memang nyata karena sering terlambat sehingga ia sering terkena hukuman. 


"Apa kabar?" tanya Andreas mulai basa-basi. 


"Aku baik, kamu sendiri gimana? Apa kamu sudah punya istri?" 


Pertanyaan yang sangat sensitif bagi Andreas, selama ini ia tak pernah membahas masalah pribadinya pada orang lain, akan tetapi tidak ada salahnya jika curhat dengan teman lama. 


"Belum, masih sibuk kerja," jawab Andreas malu-malu. Seharusnya seumurannya memang sudah membina berumah tangga dengan wanita yang dicintainya. Namun, Andreas masih saja sibuk di kantor dan tak memikirkan asmara. 


"Sama dong, aku juga belum." 


Andreas menahan tawa, seolah-olah tak percaya dengan ucapan Ema. 


"Kita ngobrol di cafe yuk, itung-itung nostalgia."


Andreas melihat jam yang melingkar di tangannya, setelah mengingat waktu yang sedikit longgar, akhirnya ia menyetujui permintaan Ema. 


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


"Andreas kemana sih? Kenapa HP-nya di matiin," Yudha tak henti-hentinya menggerutu. Hampir tiga jam asistennya itu belum juga kembali dan belum memberi kabar tentang kerjasama dengan pak Ganda. 


Lintang yang hampir saja tenggelam ke alam mimpi terpaksa bangun setelah mendengar decakan suaminya. 


"Kamu kenapa sih, Mas?" tanya Lintang memeluk pinggang Yudha dari belakang. 


"Nggak papa, Sayang. Hanya menunggu Andreas, tadi aku suruh dia ke kantor pak Ganda, tapi sampai sekarang belum memberi kabar." 


Tangan Lintang yang tadinya di perut, kini turun ke bawah, menyentuh sesuatu yang masih tidur. Entah, ia ingin sekali menggoda suaminya yang mudah terhanyut dengan hasrat birahi yang menggebu. 


"Sayang, jangan pancing aku," ucap Yudha menahan tangan istrinya. 


Lintang hanya tertawa geli dan melanjutkan aktivitasnya.